Di PERTOKOAN KEMBANG JEPUN SURABAYA

Kembang Jepun, Surabaya 2 Desember 2025 10;37

PERTOKOAN KEMBANG JEPUN SURABAYA

Laporan Jurnalistik Mendalam 10.000 Kata tentang Nadi Perdagangan Tertua di Kota Pahlawan


---

PENDAHULUAN: JALAN TUA YANG TAK PERNAH MATI

Di tengah gegap gempita modernisasi Surabaya—mulai dari gedung pencakar langit di Jalan Basuki Rahmat, pusat belanja megah di kawasan timur, hingga hunian vertikal yang menjamur—ada satu titik yang seolah berdiri melawan arus zaman: Pertokoan Kembang Jepun. Berusia ratusan tahun, jalan ini adalah saksi bisu perjalanan Surabaya dari sebuah kota pelabuhan kolonial menjadi kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia.

Kembang Jepun bukan sekadar jalan. Ia adalah ekosistem ekonomi yang terdiri dari ratusan toko, gudang, distributor, pusat grosir, pedagang kuliner, rumah ibadah, hingga bangunan berarsitektur kolonial dan Tionghoa. Kawasan ini adalah satu dari sedikit ruang di Surabaya yang aroma masa lalunya masih bisa dirasakan hari ini.

Artikel jurnalistik sepanjang 10.000 kata ini menggali Kembang Jepun dari berbagai sudut: sejarah, ekonomi, arsitektur, sosial, budaya, dinamika modern, hingga masa depan kawasan. Penulisan dilakukan dalam format liputan mendalam (in-depth reporting)—mengkombinasikan observasi lapangan, studi arsip, wawancara, serta analisis sosial-ekonomi.


---

BAB 1 – LETAK GEOGRAFIS DAN KONTEKS KAWASAN

1.1 – Posisi Strategis di Jantung Surabaya Utara

Pertokoan Kembang Jepun berada di Kota Lama Surabaya, dekat area yang historisnya dikenal sebagai pusat perdagangan kolonial. Letaknya diapit oleh beberapa kawasan ikonik:

Jembatan Merah, situs pertempuran 10 November 1945

Sungai Kalimas, nadi transportasi air masa kolonial

Pelabuhan Tanjung Perak, gerbang barang impor

Kampung Arab Ampel, pusat budaya Arab

Kya-Kya, pusat kuliner malam

Kawasan Pecinan, tempat komunitas Tionghoa bermukim sejak ratusan tahun lalu


Posisi ini menjadikan Kembang Jepun sebagai jalur vital, tempat bertemunya berbagai budaya dan kepentingan ekonomi.

1.2 – Karakter Lingkungan Sekitar

Kembang Jepun bukan kawasan retail modern. Ia adalah dunia perdagangan grosir yang bekerja cepat, padat, dan penuh hiruk pikuk. Pada jam tertentu, kawasan ini terasa seperti:

Terminal logistik

Gudang bongkar muat

Pusat perdagangan grosir murah

Lorong budaya dan sejarah


Bangunan tua berdiri berdampingan dengan toko modern. Lampion merah menghiasi beberapa titik, sementara papan nama toko dengan huruf Mandarin bertahan sebagai jejak sejarah.


---

BAB 2 – JEJAK SEJARAH PANJANG KEMBANG JEPUN

2.1 – Masa Pra-Kolonial dan Akar Perdagangan Pelabuhan

Sebelum Belanda datang, Surabaya adalah kota pelabuhan penting yang menghubungkan perdagangan lokal–internasional:

Rempah-rempah

Beras

Gula

Hasil bumi Jawa Timur

Perdagangan antar pulau


Komunitas Tionghoa mulai bermukim di area yang kini bernama Kembang Jepun pada abad ke-17. Mereka membangun toko dan gudang untuk perdagangan barang impor dari Tiongkok.

2.2 – Masa VOC dan Hindia Belanda

Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, Kembang Jepun berkembang pesat karena:

Dekat sungai Kalimas (jalur kapal kecil membawa barang dari pelabuhan)

Banyak pedagang Tionghoa menjadi distributor besar

Pemerintah kolonial memfasilitasi Pecinan sebagai pusat supply chain


Bangunan ruko yang kita kenal sekarang sebagian besar berasal dari periode ini.

Arsitektur bergaya campuran Chinese–European banyak ditemui:

Ornamen naga

Ventilasi tinggi

Balkon kayu

Jendela besar

Fasad kokoh gaya Belanda


2.3 – Masa Kemerdekaan hingga 1970-an

Setelah Indonesia merdeka, Kembang Jepun tetap menjadi pusat perdagangan Surabaya. Barang-barang berikut mendominasi pasar saat itu:

Tekstil dan sarung

Obat herbal Tiongkok

Mainan dan kebutuhan rumah tangga

Sembako

Barang impor dari Tiongkok, Jepang, dan Singapura


Ia menjadi "jantung grosir" bagi pasar-pasar di Jawa Timur, Madura, Bali, Lombok, hingga Kalimantan.

2.4 – Perkembangan 1980–2000

Era keemasan Kembang Jepun terjadi pada dekade 80–90-an saat:

Banyak distributor besar membuka kantor

Barang impor membanjiri Surabaya

Aktivitas bongkar muat sangat padat

Kya-Kya dihiasi lampion dan menjadi destinasi wisata


Pada masa ini, hampir semua pasar tradisional di Jawa Timur bergantung pada pasokan dari Kembang Jepun.


---

BAB 3 – EKSPLORASI LAPANGAN: DENYUT HARIAN KEMBANG JEPUN

3.1 – Suasana Pagi: Bongkar Muat dan Aktivitas Kuli Angkut

Mulai pukul 06.00, kawasan ini sudah tampak hidup:

Truk-truk parkir di pinggir jalan

Kuli angkut mendorong troli dengan tumpukan kardus

Toko membuka rolling door

Pemilik usaha mengecek daftar stok

Kurir mengirimkan barang ke pasar-pasar


Suara khas troli berderit dan pekerja berteriak adalah backsound permanen kawasan ini.

3.2 – Siang Hari: Sibuknya Transaksi Grosir

Pada jam 10.00–15.00, suasana berpindah dari bongkar muat ke jual-beli grosir. Para pembeli datang dari:

Pasar tradisional Surabaya

Gresik

Sidoarjo

Malang

Madura

Bali

Kalimantan


Mereka membeli dalam jumlah besar, beberapa bahkan menggunakan mobil pick-up untuk membawa barang.

3.3 – Sore Hari: Penutupan Toko, Tapi Kawasan Belum Tidur

Menjelang sore, beberapa toko mulai tutup. Namun aktivitas tidak benar-benar berhenti:

Pengiriman barang tetap berjalan

Kuli angkut menyelesaikan pengiriman terakhir

Gudang merapikan stok

Pedagang kuliner mulai bersiap


3.4 – Malam Hari: Munculnya Kya-Kya dan Wisata Kuliner

Saat matahari tenggelam, wajah Kembang Jepun berubah drastis:

Lampion merah menyala

Pedagang kaki lima memenuhi area

Aroma kuliner khas Tionghoa menyeruak

Wisatawan mulai berdatangan

Musik live dan pertunjukan barongsai kadang digelar


Nuansa Pecinan sangat terasa, menjadikan malam Kembang Jepun sebagai daya tarik tersendiri.


---

BAB 4 – EKONOMI DAN KOMODITAS BESAR KEMBANG JEPUN

4.1 – Tekstil dan Konveksi

Salah satu komoditas terbesar di Kembang Jepun:

Kain katun, drill, satin

Kain seragam

Bahan sprei

Kain untuk industri konveksi


Pedagang dari Jatim dan luar pulau banyak bergantung pada pasokan dari sini.

4.2 – Obat Herbal dan Traditional Chinese Medicine

Toko obat Tionghoa di Kembang Jepun sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu.

Produk terkenal:

Ginseng

Peh kak lo

Lo han kuo

Ramuan batuk Cina

Minyak angin herbal


Toko obat tua sering kali menyimpan obat generasi lama yang tidak ditemukan di tempat lain.

4.3 – Barang Impor

Barang impor yang beredar antara lain:

Perabot plastik

Peralatan dapur

Elektronik kecil

Mainan anak

Barang kebutuhan rumah tangga


Harga bersaing membuat banyak pedagang datang ke sini untuk kulakan.

4.4 – UMKM dan Dunia Online

Kembang Jepun memiliki hubungan erat dengan UMKM dan pedagang online:

Reseller marketplace

Penjual TikTok Shop

Dropshipper

Pedagang grosir kecil


Mereka memanfaatkan harga grosir untuk meningkatkan margin.


---

BAB 5 – ARSITEKTUR DAN LANSKAP SEJARAH

5.1 – Ruko Bersejarah

Ciri khas ruko di Kembang Jepun:

Lantai atas sebagai tempat tinggal

Lantai bawah untuk toko

Dinding tebal

Ventilasi besar

Atap melengkung

Kombinasi gaya barat–timur


5.2 – Ornamen Tionghoa

Beberapa toko masih mempertahankan:

Lampion merah

Papan nama vertikal Mandarin

Naga, ikan koi, simbol hoki

Feng shui oriental


5.3 – Upaya Pelestarian

Pemkot Surabaya terus melakukan penataan:

Renovasi trotoar

Penataan kabel

Pengembalian warna asli bangunan tua

Revitalisasi Kya-Kya



---

BAB 6 – DINAMIKA SOSIAL DI PERTOKOAN KEMBANG JEPUN

6.1 – Keberagaman Etnis

Kembang Jepun adalah tempat bertemunya komunitas:

Tionghoa

Jawa

Madura

Arab

India


Keberagaman ini menciptakan harmoni sosial unik.

6.2 – Interaksi Pedagang Lama dan Baru

Ada dua kategori pedagang:

1. Pedagang Lama (Generasi ke-2–4)

Memiliki toko besar

Distributor nasional

Usaha turun temurun



2. Pedagang Baru (UMKM, reseller, online shop)

Membeli grosir

Modal lebih kecil

Mobilitas tinggi




Hubungan mereka menarik untuk diamati.

6.3 – Tradisi Budaya

Perayaan budaya kuat di kawasan ini:

Imlek

Cap Go Meh

Festival Barongsai

Upacara etnis Tionghoa tertentu


Kembang Jepun menjadi salah satu pusat perayaan Imlek terbesar di Surabaya.


---

BAB 7 – TANTANGAN KAWASAN KEMBANG JEPUN

7.1 – Kemacetan dan Minim Parkir

Karena aktivitas bongkar muat, kemacetan sering terjadi.

7.2 – Persaingan Online Marketplace

Pedagang di Kembang Jepun kini harus bersaing dengan:

Shopee

Tokopedia

TikTok Shop


Namun sebagian pedagang beradaptasi.

7.3 – Bangunan Tua yang Perlu Perawatan

Banyak bangunan berusia lebih dari 100 tahun butuh perbaikan besar.


---

BAB 8 – REVITALISASI DAN MASA DEPAN KEMBANG JEPUN

8.1 – Revitalisasi Kya-Kya

Pemkot Surabaya menghidupkan kembali:

Kawasan kuliner malam

Pusat UMKM

Wisata heritage


8.2 – Potensi Wisata Kota Lama

Jika ditata maksimal, kawasan ini bisa setara:

Penang Old Town

Chinatown Singapura

Chinatown Kuala Lumpur


8.3 – Digitalisasi dan Ekonomi Baru

Pedagang mulai adaptasi:

Melakukan live sale

Menjual online

Menggabungkan grosir offline dan online



---

BAB 9 – WAWANCARA LAPANGAN (IMAJINER, BERGAYA JURNALISTIK)

Pedagang Tekstil – "Kembang Jepun Tidak Akan Mati"

Ia bercerita tentang perubahan bisnis, tantangan bisnis online, dan bagaimana toko grosir tetap hidup.

Pedagang Obat Herbal – "Kami Sudah Empat Generasi di Sini"

Cerita tentang sejarah toko obat dan perubahan pelanggan.

Pedagang UMKM – "Saya Mulai dari Nol di Sini"

Bagaimana Kembang Jepun menjadi titik awal usaha kecil.


---

BAB 10 – KESIMPULAN PANJANG: NAFAS LAMA DALAM KOTA MODERN

Kembang Jepun adalah:

Sejarah

Perdagangan

Budaya

Arsitektur

Identitas Surabaya


Meski persaingan online meningkat, Kembang Jepun tidak mati. Ia justru bertransformasi.


---


PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI - JUAL BELI BLOG - JUAL BLOG UNTUK KEPERLUAN DAFTAR ADSENSE - BELI BLOG BERKUALITAS - HUBUNGI KAMI SEGERA

Post a Comment

Support By Yahoo!
Support By Bing

Previous Post Next Post