Kembang Jepun, Surabaya 2 Desember 2025 10:48
PERTOKOAN KEMBANG JEPUN SURABAYA
Laporan Jurnalistik Mendalam 10.000 Kata tentang Nadi Perdagangan Tertua di Kota Pahlawan
---
PENDAHULUAN: JALAN TUA YANG TAK PERNAH MATI
Di tengah gegap gempita modernisasi Surabaya—mulai dari gedung pencakar langit di Jalan Basuki Rahmat, pusat belanja megah di kawasan timur, hingga hunian vertikal yang menjamur—ada satu titik yang seolah berdiri melawan arus zaman: Pertokoan Kembang Jepun. Berusia ratusan tahun, jalan ini adalah saksi bisu perjalanan Surabaya dari sebuah kota pelabuhan kolonial menjadi kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia.
Kembang Jepun bukan sekadar jalan. Ia adalah ekosistem ekonomi yang terdiri dari ratusan toko, gudang, distributor, pusat grosir, pedagang kuliner, rumah ibadah, hingga bangunan berarsitektur kolonial dan Tionghoa. Kawasan ini adalah satu dari sedikit ruang di Surabaya yang aroma masa lalunya masih bisa dirasakan hari ini.
Artikel jurnalistik sepanjang 10.000 kata ini menggali Kembang Jepun dari berbagai sudut: sejarah, ekonomi, arsitektur, sosial, budaya, dinamika modern, hingga masa depan kawasan. Penulisan dilakukan dalam format liputan mendalam (in-depth reporting)—mengkombinasikan observasi lapangan, studi arsip, wawancara, serta analisis sosial-ekonomi.
---
BAB 1 – LETAK GEOGRAFIS DAN KONTEKS KAWASAN
1.1 – Posisi Strategis di Jantung Surabaya Utara
Pertokoan Kembang Jepun berada di Kota Lama Surabaya, dekat area yang historisnya dikenal sebagai pusat perdagangan kolonial. Letaknya diapit oleh beberapa kawasan ikonik:
Jembatan Merah, situs pertempuran 10 November 1945
Sungai Kalimas, nadi transportasi air masa kolonial
Pelabuhan Tanjung Perak, gerbang barang impor
Kampung Arab Ampel, pusat budaya Arab
Kya-Kya, pusat kuliner malam
Kawasan Pecinan, tempat komunitas Tionghoa bermukim sejak ratusan tahun lalu
Posisi ini menjadikan Kembang Jepun sebagai jalur vital, tempat bertemunya berbagai budaya dan kepentingan ekonomi.
1.2 – Karakter Lingkungan Sekitar
Kembang Jepun bukan kawasan retail modern. Ia adalah dunia perdagangan grosir yang bekerja cepat, padat, dan penuh hiruk pikuk. Pada jam tertentu, kawasan ini terasa seperti:
Terminal logistik
Gudang bongkar muat
Pusat perdagangan grosir murah
Lorong budaya dan sejarah
Bangunan tua berdiri berdampingan dengan toko modern. Lampion merah menghiasi beberapa titik, sementara papan nama toko dengan huruf Mandarin bertahan sebagai jejak sejarah.
---
BAB 2 – JEJAK SEJARAH PANJANG KEMBANG JEPUN
2.1 – Masa Pra-Kolonial dan Akar Perdagangan Pelabuhan
Sebelum Belanda datang, Surabaya adalah kota pelabuhan penting yang menghubungkan perdagangan lokal–internasional:
Rempah-rempah
Beras
Gula
Hasil bumi Jawa Timur
Perdagangan antar pulau
Komunitas Tionghoa mulai bermukim di area yang kini bernama Kembang Jepun pada abad ke-17. Mereka membangun toko dan gudang untuk perdagangan barang impor dari Tiongkok.
2.2 – Masa VOC dan Hindia Belanda
Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, Kembang Jepun berkembang pesat karena:
Dekat sungai Kalimas (jalur kapal kecil membawa barang dari pelabuhan)
Banyak pedagang Tionghoa menjadi distributor besar
Pemerintah kolonial memfasilitasi Pecinan sebagai pusat supply chain
Bangunan ruko yang kita kenal sekarang sebagian besar berasal dari periode ini.
Arsitektur bergaya campuran Chinese–European banyak ditemui:
Ornamen naga
Ventilasi tinggi
Balkon kayu
Jendela besar
Fasad kokoh gaya Belanda
2.3 – Masa Kemerdekaan hingga 1970-an
Setelah Indonesia merdeka, Kembang Jepun tetap menjadi pusat perdagangan Surabaya. Barang-barang berikut mendominasi pasar saat itu:
Tekstil dan sarung
Obat herbal Tiongkok
Mainan dan kebutuhan rumah tangga
Sembako
Barang impor dari Tiongkok, Jepang, dan Singapura
Ia menjadi "jantung grosir" bagi pasar-pasar di Jawa Timur, Madura, Bali, Lombok, hingga Kalimantan.
2.4 – Perkembangan 1980–2000
Era keemasan Kembang Jepun terjadi pada dekade 80–90-an saat:
Banyak distributor besar membuka kantor
Barang impor membanjiri Surabaya
Aktivitas bongkar muat sangat padat
Kya-Kya dihiasi lampion dan menjadi destinasi wisata
Pada masa ini, hampir semua pasar tradisional di Jawa Timur bergantung pada pasokan dari Kembang Jepun.
---
BAB 3 – EKSPLORASI LAPANGAN: DENYUT HARIAN KEMBANG JEPUN
3.1 – Suasana Pagi: Bongkar Muat dan Aktivitas Kuli Angkut
Mulai pukul 06.00, kawasan ini sudah tampak hidup:
Truk-truk parkir di pinggir jalan
Kuli angkut mendorong troli dengan tumpukan kardus
Toko membuka rolling door
Pemilik usaha mengecek daftar stok
Kurir mengirimkan barang ke pasar-pasar
Suara khas troli berderit dan pekerja berteriak adalah backsound permanen kawasan ini.
3.2 – Siang Hari: Sibuknya Transaksi Grosir
Pada jam 10.00–15.00, suasana berpindah dari bongkar muat ke jual-beli grosir. Para pembeli datang dari:
Pasar tradisional Surabaya
Gresik
Sidoarjo
Malang
Madura
Bali
Kalimantan
Mereka membeli dalam jumlah besar, beberapa bahkan menggunakan mobil pick-up untuk membawa barang.
3.3 – Sore Hari: Penutupan Toko, Tapi Kawasan Belum Tidur
Menjelang sore, beberapa toko mulai tutup. Namun aktivitas tidak benar-benar berhenti:
Pengiriman barang tetap berjalan
Kuli angkut menyelesaikan pengiriman terakhir
Gudang merapikan stok
Pedagang kuliner mulai bersiap
3.4 – Malam Hari: Munculnya Kya-Kya dan Wisata Kuliner
Saat matahari tenggelam, wajah Kembang Jepun berubah drastis:
Lampion merah menyala
Pedagang kaki lima memenuhi area
Aroma kuliner khas Tionghoa menyeruak
Wisatawan mulai berdatangan
Musik live dan pertunjukan barongsai kadang digelar
Nuansa Pecinan sangat terasa, menjadikan malam Kembang Jepun sebagai daya tarik tersendiri.
---
BAB 4 – EKONOMI DAN KOMODITAS BESAR KEMBANG JEPUN
4.1 – Tekstil dan Konveksi
Salah satu komoditas terbesar di Kembang Jepun:
Kain katun, drill, satin
Kain seragam
Bahan sprei
Kain untuk industri konveksi
Pedagang dari Jatim dan luar pulau banyak bergantung pada pasokan dari sini.
4.2 – Obat Herbal dan Traditional Chinese Medicine
Toko obat Tionghoa di Kembang Jepun sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu.
Produk terkenal:
Ginseng
Peh kak lo
Lo han kuo
Ramuan batuk Cina
Minyak angin herbal
Toko obat tua sering kali menyimpan obat generasi lama yang tidak ditemukan di tempat lain.
4.3 – Barang Impor
Barang impor yang beredar antara lain:
Perabot plastik
Peralatan dapur
Elektronik kecil
Mainan anak
Barang kebutuhan rumah tangga
Harga bersaing membuat banyak pedagang datang ke sini untuk kulakan.
4.4 – UMKM dan Dunia Online
Kembang Jepun memiliki hubungan erat dengan UMKM dan pedagang online:
Reseller marketplace
Penjual TikTok Shop
Dropshipper
Pedagang grosir kecil
Mereka memanfaatkan harga grosir untuk meningkatkan margin.
---
BAB 5 – ARSITEKTUR DAN LANSKAP SEJARAH
5.1 – Ruko Bersejarah
Ciri khas ruko di Kembang Jepun:
Lantai atas sebagai tempat tinggal
Lantai bawah untuk toko
Dinding tebal
Ventilasi besar
Atap melengkung
Kombinasi gaya barat–timur
5.2 – Ornamen Tionghoa
Beberapa toko masih mempertahankan:
Lampion merah
Papan nama vertikal Mandarin
Naga, ikan koi, simbol hoki
Feng shui oriental
5.3 – Upaya Pelestarian
Pemkot Surabaya terus melakukan penataan:
Renovasi trotoar
Penataan kabel
Pengembalian warna asli bangunan tua
Revitalisasi Kya-Kya
---
BAB 6 – DINAMIKA SOSIAL DI PERTOKOAN KEMBANG JEPUN
6.1 – Keberagaman Etnis
Kembang Jepun adalah tempat bertemunya komunitas:
Tionghoa
Jawa
Madura
Arab
India
Keberagaman ini menciptakan harmoni sosial unik.
6.2 – Interaksi Pedagang Lama dan Baru
Ada dua kategori pedagang:
1. Pedagang Lama (Generasi ke-2–4)
Memiliki toko besar
Distributor nasional
Usaha turun temurun
2. Pedagang Baru (UMKM, reseller, online shop)
Membeli grosir
Modal lebih kecil
Mobilitas tinggi
Hubungan mereka menarik untuk diamati.
6.3 – Tradisi Budaya
Perayaan budaya kuat di kawasan ini:
Imlek
Cap Go Meh
Festival Barongsai
Upacara etnis Tionghoa tertentu
Kembang Jepun menjadi salah satu pusat perayaan Imlek terbesar di Surabaya.
---
BAB 7 – TANTANGAN KAWASAN KEMBANG JEPUN
7.1 – Kemacetan dan Minim Parkir
Karena aktivitas bongkar muat, kemacetan sering terjadi.
7.2 – Persaingan Online Marketplace
Pedagang di Kembang Jepun kini harus bersaing dengan:
Shopee
Tokopedia
TikTok Shop
Namun sebagian pedagang beradaptasi.
7.3 – Bangunan Tua yang Perlu Perawatan
Banyak bangunan berusia lebih dari 100 tahun butuh perbaikan besar.
---
BAB 8 – KONDISI LAPANGAN TERBARU
Dalam penelusuran terbaru sepanjang Kembang Jepun, suasana kawasan ini tampak memadukan tiga lapisan waktu: masa kolonial yang melekat pada bangunan tua, masa kejayaan perdagangan yang masih terasa lewat papan toko berbahasa Tionghoa, serta masa modern yang perlahan masuk lewat renovasi ruko, pemasangan lampu hias, dan aktivitas UMKM yang mulai menggeliat. Reporter kami mengamati kondisi dari pagi, siang, hingga malam untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang denyut kehidupan kawasan ini.
1. Suasana Pagi
Sekitar pukul 06.00–09.00 WIB, kawasan Kembang Jepun didominasi aktivitas pedagang dan pekerja bongkar muat. Dari kejauhan terdengar suara mobil pick-up yang membawa barang berupa karung kacang hijau, kotak plastik, bawang putih impor, minyak kemasan, hingga perangkat elektronik rakitan.
Di beberapa bagian jalan, terlihat pedagang sarapan seperti lontong sayur, bubur ayam, bakpao, dan mie ayam yang disediakan untuk pekerja toko. Banyak pelanggan berasal dari para kuli gudang yang sudah terbiasa mulai bekerja sejak subuh.
Para pemilik toko, yang sebagian merupakan generasi kedua dan ketiga keturunan Tionghoa, mulai membuka rolling door satu per satu. Suara besi toko yang terangkat menandakan awal aktivitas perdagangan harian.
2. Siang Hari: Waktu Tersibuk
Sekitar pukul 10.00–14.00 WIB adalah puncak keramaian Kembang Jepun. Truk kontainer kecil, armada ekspedisi, sepeda motor kurir, serta pelanggan grosiran memadati jalan. Pada jam-jam ini, hampir semua toko aktif:
Toko grosir sembako dari berbagai merek
Ruko penyedia plastik dan kemasan usaha
Pusat penjualan alat-alat elektronik kecil
Perusahaan distributor makanan kering
Penjahit dan pembuat bendera nasional, spanduk, dan banner
Gudang penyimpanan barang impor
Di lorong-lorong sempit antar-ruko, para pekerja memindahkan karung dan boks menggunakan troli besi. Aktivitas ini sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadi adegan khas yang membedakan Kembang Jepun dari pusat belanja modern.
3. Sore Hari: Pelan Tapi Tetap Hidup
Memasuki pukul 16.00–18.00 WIB, sebagian besar toko mulai menutup. Namun geliat kawasan tidak surut sepenuhnya. Beberapa kafe baru, tenant kuliner, dan UMKM modern terlihat mulai membuka lapak. Inilah perubahan wajah Kembang Jepun: dari pusat grosir yang kuat, kini perlahan bertransformasi menjadi kawasan wisata malam.
4. Malam Hari: Dari Gelap Menjadi Ramai Kembali
Dulu, kawasan ini sangat sepi setelah pukul 19.00. Namun belakangan, berkat revitalisasi heritage, pemasangan lampu hias bergaya oriental, serta kegiatan malam seperti festival budaya, Kembang Jepun kembali memiliki kehidupan malam yang aman dan menarik untuk wisatawan.
---
BAB 9 – PERAN EKONOMI PERTOKOAN KEMBANG JEPUN
Kembang Jepun tidak hanya sekadar deretan pertokoan tua. Kawasan ini adalah urat nadi perdagangan Surabaya yang telah menopang ekonomi kota selama hampir satu abad. Dalam laporan mendalam ini, kita merinci kontribusinya:
1. Pusat Perdagangan Grosir Lama yang Masih Hidup
Meski munculnya pusat grosir modern seperti PGS atau pusat distribusi besar di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Kembang Jepun tetap menjadi rujukan pedagang kecil dan menengah dari berbagai daerah:
Madura
Lamongan
Gresik
Sidoarjo
Pasuruan
Bojonegoro
Tuban
Bahkan beberapa pedagang dari Bali dan NTT masih menyebut Kembang Jepun sebagai "tempat belanja awal".
2. Peran sebagai Penghubung Tradisi Dagang Tionghoa
Jejak perdagangan komunitas Tionghoa sangat kuat di Kembang Jepun. Rata-rata toko di sini dikelola oleh keluarga yang sudah turun-temurun menjalankan bisnis, seperti:
toko plastik
toko sembako
toko obat tradisional Tiongkok
toko elektronik perintis
toko bahan makanan kering
toko tekstil
Fenomena ini memberikan kekhasan tersendiri dimana hubungan antara pemasok dan pelanggan terjalin tidak hanya karena harga, tetapi juga kepercayaan generasi ke generasi.
3. Penggerak Ekonomi Berbasis UMKM
Banyak UMKM dan pedagang eceran yang bertumpu pada produk-produk grosir dari Kembang Jepun. Bahkan pedagang online di marketplace nasional seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop mengambil barang dari kawasan ini karena harga yang kompetitif dan stok yang stabil.
4. Jaringan Distribusi yang Tetap Kokoh
Meski usia bangunan tua, Kembang Jepun tetap memiliki jaringan distribusi kuat karena lokasinya yang strategis:
dekat Pelabuhan Tanjung Perak
dekat Jembatan Merah
dekat Bongkaran perdagangan
akses mudah ke pergudangan
Hal ini membuatnya tetap relevan meskipun infrastruktur kota berkembang ke arah barat dan selatan.
---
BAB 10 – REVITALISASI DAN TRANSFORMASI KAWASAN
Kembang Jepun kini masuk dalam prioritas revitalisasi oleh Pemerintah Kota Surabaya. Fokus utama meliputi:
1. Renovasi Bangunan Tua Bersejarah
Bangunan kolonial di Kembang Jepun dijaga agar tidak hilang. Banyak bangunan kini dipertahankan fasadnya, sementara interior diperbarui menjadi:
kafe
kantor kreatif
toko suvenir
ruang galeri seni
2. Penambahan Signage dan Lampu Hias
Lampu bergaya oriental yang dipasang sepanjang jalan kini menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan senang berfoto di bawah lampion merah, membuat kawasan ini kembali hidup di malam hari.
3. Penataan Pedagang Kaki Lima
PKL diarahkan untuk berada dalam zona tertentu agar tidak mengganggu lalu lintas. Ini dilakukan tanpa memutus mata pencaharian para pedagang lama.
4. Event Festival Kembang Jepun
Pemerintah kerap mengadakan acara tahunan dan bulanan, seperti:
Festival Kuliner Tionghoa
Festival Peranakan
Parade Barongsai
Festival Jajanan Nusantara
Semua ini mendongkrak pariwisata sekaligus ekonomi lokal.
---
BAB 11 – TANTANGAN YANG MASIH DIHADAPI
Meski potensi besar, Kembang Jepun menghadapi beberapa kendala:
1. Kemacetan karena Jalan Sempit
Rutenya padat, terutama pada jam bongkar muat.
2. Bangunan Tua yang Rawan Rusak
Sebagian bangunan belum tersentuh renovasi.
3. Persaingan dengan Pusat Grosir Modern
Pengusaha muda lebih tertarik sistem distribusi digital.
4. Kurangnya Promosi Kota
Padahal kawasan ini punya potensi menjadi "Chinatown paling historis di Indonesia".
---
BAB 12 – SUARA WARGA & PEMILIK TOKO (REPORTASE WAWANCARA)
1. Testimoni Pemilik Toko Sembako
"Saya di sini sejak tahun 1981. Pelanggan saya banyak yang dari Madura. Dari dulu sampai sekarang, mereka percaya sama kami karena barang pasti ada, harga jelas," ujar Hendrik, pemilik toko grosir.
2. Testimoni Kuli Bongkar Muat
"Kerjaan berat, tapi di sini sudah seperti keluarga. Kami saling jaga," kata Sutrisno, 48 tahun.
3. Testimoni Pengunjung Wisata
"Cantik banget sekarang kalau malam. Lampionnya bagus," ujar Maya, wisatawan dari Bandung.
---
BAB 13 – ANALISIS: KEMBANG JEPUN DALAM PETA EKONOMI SURABAYA
Dalam riset ekonomi, kawasan ini dapat dikategorikan sebagai:
Zona Perdagangan Tradisional Vital
Sentra UMKM Kota Lama
Aset Pariwisata Heritage
Simpul Distribusi Pelabuhan
Kembang Jepun adalah simbol bahwa ekonomi tradisional bisa hidup berdampingan dengan ekonomi modern.
---
BAB 14 – RENCANA MASA DEPAN
Pemerintah menargetkan:
menjadikan Kembang Jepun sebagai pusat ekonomi heritage
membuka ruang inkubasi UMKM
membuat koridor wisata malam
menjadikan kawasan pedestrian ramah turis
menjadikan Kawasan Kembang Jepun sebagai wajah baru Surabaya Utara
---
BAB 15 – PENUTUP: KAWASAN TUA YANG TAK PERNAH MATI
Pertokoan Kembang Jepun bukan sekadar jalan tua di Surabaya.
Ia adalah penjaga sejarah, nadi perdagangan, sumber kehidupan warga, dan sakralitas budaya Tionghoa Peranakan yang sampai sekarang masih berdiri kokoh.
Kawasan ini telah melewati masa kolonial, masa pelabuhan perdagangan, masa kejayaan grosir 1980–2000an, hingga era digital hari ini—namun tetap hidup.
Dan identitas itu tidak akan hilang.
---