Kembang Jepun,Surabaya 2 Desember 2025 08:48
PERTOKOAN KEMBANG JEPUN SURABAYA: DETAK PERDAGANGAN TUA DI JANTUNG KOTA
Pendahuluan: Denyut Ekonomi Lama yang Tak Pernah Padam
Di tengah ramainya modernisasi Surabaya dengan gedung-gedung baru, pusat perbelanjaan modern, dan kawasan industri yang terus meluas, terdapat sebuah kawasan yang tetap bertahan sebagai bukti sejarah panjang perdagangan kota ini. Kawasan itu bernama Pertokoan Kembang Jepun, sebuah distrik ekonomi legendaris yang berada di Surabaya Utara. Meski sudah berusia ratusan tahun, Kembang Jepun tetap menjadi pusat aktivitas bisnis, logistik, distribusi barang, dan interaksi sosial berbagai etnis.
Artikel jurnalistik ini menggali secara mendalam dinamika Kembang Jepun dari berbagai aspek: sejarah, ekonomi, sosial, arsitektur, hingga upaya revitalisasi. Liputan ini disusun dengan pendekatan yang lazim digunakan dalam reportase mendalam (in-depth reporting).
---
BAB 1: GAMBARAN UMUM KAWASAN KEMBANG JEPUN
1.1 Lokasi Geografis dan Lingkungan Sekitar
Pertokoan Kembang Jepun berada di Surabaya Utara, tepatnya di antara kawasan-kawasan bersejarah seperti Jembatan Merah, Kota Lama, Kya-Kya, Arab Quarter Ampel, dan Pelabuhan Tanjung Perak. Jalan Kembang Jepun merupakan jalur yang sejak zaman kolonial menjadi titik pertemuan aktivitas perdagangan internasional.
Secara geografis, kawasan ini berada di:
Dekat Sungai Kalimas, yang dulunya menjadi jalur distribusi barang.
Dekat Pelabuhan Tanjung Perak, pusat perdagangan laut terbesar di Jawa Timur.
Dekat kawasan Pecinan tertua, tempat komunitas Tionghoa menetap sejak abad ke-18.
1.2 Aktivitas Pertokoan Sehari-Hari
Jika Anda memasuki kawasan ini pada jam 07.00 pagi, suasana langsung terasa: suara kendaraan pengangkut barang, bau rempah dan minyak wijen dari toko bahan makanan, tumpukan kardus, hingga teriakan para pedagang yang menghitung barang masuk dan keluar.
Jenis aktivitas utama:
Bongkar muat barang.
Transaksi grosir.
Pengiriman paket antar kota.
Kegiatan perkantoran skala kecil.
Perdagangan obat-obatan, tekstil, alat rumah tangga, dan kebutuhan industri ringan.
Kembang Jepun bukan kawasan yang sunyi. Ia hidup sejak pagi hingga petang.
---
BAB 2: JEJAK SEJARAH KEMBANG JEPUN
2.1 Masa Kolonial Belanda
Pada awal abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda membentuk Surabaya sebagai kota dagang. Kembang Jepun, yang saat itu dipenuhi toko-toko milik pedagang Tionghoa, berkembang cepat sebagai pusat distribusi barang impor dari Eropa dan China.
Keunikan masa ini:
Bangunan ruko bergaya arsitektur campuran Tionghoa–Belanda.
Banyak rumah toko (ruko) yang memiliki lantai atas sebagai tempat tinggal.
Jalan Kembang Jepun menjadi jalur utama perdagangan tekstil dan rempah.
2.2 Peran Komunitas Tionghoa
Kembang Jepun adalah jantung Pecinan Surabaya; di sini banyak pedagang Tionghoa generasi awal yang membangun usaha mereka:
Pedagang obat tradisional.
Pengrajin tembikar.
Importir kain sutra.
Distributor makanan kering.
Hingga sekarang, pengaruh Tionghoa masih sangat kuat:
Nama toko sebagian besar berbahasa Mandarin.
Ornamen bangunan khas Tiongkok masih dipertahankan.
Tradisi Imlek dirayakan meriah di sepanjang jalan.
2.3 Masa Setelah Kemerdekaan
Setelah 1945, kawasan ini tetap menjadi pusat ekonomi. Banyak gudang dan distributor besar berdiri. Pada dekade 1970–1990, Kembang Jepun menjadi primadona grosir, terutama untuk komoditas seperti:
Tekstil,
Obat-obatan herbal,
Peralatan rumah tangga,
Makanan impor.
Meski pusat kota mulai bergeser ke Surabaya Tengah dan Selatan, Kembang Jepun tetap bertahan.
---
BAB 3: EKSPLORASI LAPANGAN: KONDISI TERKINI PERTOKOAN
3.1 Suasana Pagi Hari
Pada pukul 06.30–09.00, kawasan ini sangat sibuk:
Truk berhenti untuk bongkar muat.
Kuli angkut mendorong troli berisi karung besar.
Pedagang membuka rolling door toko.
Harga-harga grosir diperbarui setiap pagi.
Banyak usaha di sini bersifat turun-temurun, dijalankan oleh keluarga.
3.2 Aktivitas Siang Hari
Menjelang siang, pembeli mulai berdatangan:
Pemilik toko kecil dari luar kota.
Pelaku UMKM.
Pedagang kios pasar tradisional.
Pembeli barang antik atau koleksi.
Beberapa toko menyediakan layanan:
Grosir,
Eceran,
Distribusi antar kota,
Pengiriman ekspor kecil.
3.3 Aktivitas Malam dan Kya-Kya
Ketika malam tiba, wajah Kembang Jepun berubah menjadi kawasan wisata kuliner:
Kya-Kya kembali dihidupkan oleh Pemkot Surabaya.
Lampion-lampion merah menyala.
Pedagang UMKM kuliner menjual hidangan Tionghoa, Jawa, dan Arab.
Wisatawan berkumpul untuk menikmati suasana Pecinan tua.
---
BAB 4: EKONOMI DAN KOMODITAS UTAMA
4.1 Tekstil dan Kain Grosir
Salah satu komoditas terbesar di kawasan Kembang Jepun adalah:
Kain katun,
Kain sutra tiruan,
Bahan pakaian,
Kain rumah tangga.
Toko-toko di Kembang Jepun memasok kebutuhan pasar tradisional di seluruh Jawa Timur.
4.2 Obat Tradisional dan Jamu Tionghoa
Banyak toko berusia lebih dari 50–100 tahun yang menjual:
Ginseng,
Rempah Tiongkok,
Minyak angin herbal,
Obat herbal seperti peh kah lo, lo han kuo, dsb.
Toko-toko ini menjadi rujukan pedagang dari luar kota.
4.3 Gudang Barang Import
Kawasan Kembang Jepun dekat Pelabuhan Tanjung Perak, sehingga barang impor sering masuk melalui distributor di sini:
Peralatan dapur,
Plastik dan wadah,
Elektronik kecil,
Bahan makanan kering,
Mainan anak.
4.4 Produk UMKM Lokal
Banyak UMKM yang tumbuh karena berbelanja grosir di Kembang Jepun:
Pedagang pasar.
Reseller online.
Penjual di media sosial.
Pedagang keliling.
---
BAB 5: ARSITEKTUR DAN WARISAN BUDAYA
5.1 Bangunan Ruko Tua
Ruko di Kembang Jepun memiliki ciri:
Lantai bawah toko, lantai atas tempat tinggal.
Atap melengkung khas Cina.
Jendela kayu besar.
Cat merah dan emas.
Struktur tembok tebal era kolonial.
Beberapa bangunan masih kokoh meski berusia lebih dari satu abad.
5.2 Ornamen Pecinan
Di sepanjang jalan terlihat banyak:
Lampion,
Gerbang merah,
Papan nama vertikal bergaya Tiongkok,
Simbol naga dan feng shui.
Karakter ini membuat Kembang Jepun sangat fotogenik.
5.3 Pelestarian dan Revitalisasi
Pemerintah Kota Surabaya kini terus melakukan revitalisasi:
Perbaikan trotoar,
Penataan lampu jalan,
Pembersihan mural,
Pembentukan kawasan wisata heritage.
Program ini bertujuan mengembalikan kejayaan Kota Lama Surabaya.
---
BAB 6: DINAMIKA SOSIAL DAN KOMUNITAS
6.1 Keberagaman Etnis
Kembang Jepun dihuni oleh berbagai komunitas:
Tionghoa,
Jawa,
Madura,
Arab,
India.
Keberagaman ini menciptakan suasana yang hidup dan berwarna.
6.2 Interaksi Antar Pedagang
Hubungan antar pedagang di sini erat, terutama karena banyak yang saling mengenal selama puluhan tahun. Banyak pegawai toko bekerja puluhan tahun karena loyalitas dan hubungan kekeluargaan.
6.3 Tradisi Tahunan
Perayaan besar antara lain:
Imlek, di mana toko-toko berhias lampion besar.
Cap Go Meh, dengan barongsai dan iring-iringan.
Festival Kya-Kya.
---
BAB 7: MASALAH DAN TANTANGAN
7.1 Persaingan Perdagangan Modern
Kembang Jepun menghadapi tantangan besar:
Persaingan dengan toko online.
Persaingan dengan toko modern.
Menurunnya minat generasi muda melanjutkan usaha keluarga.
7.2 Kemacetan dan Parkir
Karena aktivitas yang padat, kawasan ini sering mengalami:
Kemacetan,
Kesulitan parkir,
Bongkar muat yang menghambat lalu lintas.
7.3 Kondisi Beberapa Bangunan
Sebagian bangunan tua kurang terawat, memerlukan renovasi karena usia bangunan sudah lebih dari 100 tahun.
---
BAB 8: UPAYA PEMERINTAH DAN REVITALISASI
8.1 Penataan Kawasan Kya-Kya
Pemkot menghidupkan kembali Kya-Kya sebagai:
Pusat kuliner malam,
Pusat UMKM,
Ruang publik keluarga,
Daya tarik wisata heritage.
8.2 Revitalisasi Ruko Lama
Beberapa ruko tua telah direnovasi:
Cat ulang,
Penguatan struktur,
Penataan kabel udara,
Pembersihan fasad.
8.3 Program Kota Lama Surabaya
Kembang Jepun masuk dalam rencana besar revitalisasi Kota Lama yang mencakup:
Jembatan Merah,
Jembatan Petekan,
Kawasan Pecinan Kya-Kya.
---
BAB 9: MASA DEPAN KEMBANG JEPUN
9.1 Potensi Pariwisata
Dengan sejarah panjang dan suasana khasnya, Kembang Jepun memiliki peluang menjadi:
Wisata sejarah,
Wisata arsitektur,
Wisata kuliner malam,
Wisata budaya Tionghoa.
9.2 Peluang Bisnis
Pedagang online dari seluruh Indonesia memanfaatkan Kembang Jepun sebagai:
Sumber barang grosir,
Supplier murah,
Tempat kulakan besar-besaran.
9.3 Kawasan Ekonomi Tua yang Tetap Hidup
Meski usianya tua, kawasan ini tidak mati. Ia bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.
---
KESIMPULAN
Pertokoan Kembang Jepun adalah kawasan bersejarah yang tetap menjadi pusat perdagangan penting di Surabaya. Dengan perpaduan antara kegiatan ekonomi, budaya Tionghoa, arsitektur kolonial, dan revitalisasi modern, kawasan ini terus mempertahankan denyut hidupnya sebagai salah satu ikon Kota Surabaya.
Kembang Jepun bukan sekadar deretan toko — melainkan saksi perjalanan panjang Surabaya sebagai kota pelabuhan, kota perdagangan, dan kota berbudaya.
---