---
Tentara Indonesia di Gaza: Kesiapan, Diplomasi, dan Harapan Perdamaian Dunia 2026
Ketegangan dan tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza telah lama menjadi perhatian dunia. Seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan kelompok Hamas, banyak negara menyerukan upaya perdamaian dan bantuan kemanusiaan. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan komitmen tinggi terhadap perdamaian global, menyatakan kesiapan untuk berperan aktif di kawasan tersebut — termasuk kemungkinan mengirimkan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi penjaga perdamaian PBB di Gaza.
Walaupun keputusan final belum diumumkan, berbagai langkah diplomatik dan persiapan militer telah dilakukan sepanjang tahun 2025. Banyak pihak menilai bahwa tahun 2026 bisa menjadi momentum penting bagi keterlibatan resmi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan kemanusiaan di Timur Tengah.
---
Komitmen Indonesia untuk Perdamaian Gaza
Sejak awal konflik kembali memanas pada 2023–2024, Indonesia konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan perlindungan warga sipil di Gaza. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai forum internasional seperti KTT PBB dan pertemuan ASEAN, menegaskan bahwa Indonesia siap berkontribusi secara nyata dalam upaya perdamaian, bukan hanya melalui diplomasi, tetapi juga lewat pengiriman pasukan penjaga perdamaian (peacekeepers) bila mandat resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa telah diberikan.
Pernyataan Prabowo yang menyebut kesiapan Indonesia mengirim hingga 20.000 personel TNI mendapat perhatian dunia internasional. Meski angka tersebut adalah tawaran maksimal, hal itu menunjukkan kesungguhan politik luar negeri Indonesia dalam memainkan peran strategis di panggung global.
---
Kesiapan TNI: Dari Latihan hingga Logistik
Menurut laporan dari Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI, berbagai satuan telah disiapkan untuk menghadapi skenario misi Gaza. TNI Angkatan Darat, Laut, dan Udara dilibatkan dalam perencanaan terpadu.
Salah satu formasi yang disiapkan adalah Brigade Penjaga Perdamaian Indonesia, yang terdiri atas sekitar 1.200 personel dari berbagai satuan elit, seperti Yonif Mekanis, Zeni, Kesehatan Militer, dan unit logistik. Pasukan ini telah menjalani latihan bersama Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) di Sentul, Bogor, yang menjadi pusat pelatihan internasional bertaraf PBB.
Latihan tersebut meliputi kemampuan tempur ringan, perlindungan sipil, operasi evakuasi medis, dan koordinasi dengan lembaga internasional. Selain itu, TNI juga mempersiapkan unit bantuan kemanusiaan, seperti tim dokter, perawat, dan teknisi yang dapat membangun rumah sakit lapangan atau menyalurkan bantuan makanan dan air bersih.
---
Diplomasi dan Koordinasi dengan PBB
Langkah pengiriman pasukan tidak bisa dilakukan sepihak. Sesuai Piagam PBB dan Undang-Undang TNI, pengerahan pasukan ke luar negeri harus melalui keputusan Presiden, disetujui oleh DPR, serta mendapat mandat resmi dari Dewan Keamanan PBB.
Indonesia saat ini tengah melakukan koordinasi intensif dengan Sekretariat PBB di New York dan sejumlah negara anggota Dewan Keamanan, terutama yang memiliki kepentingan besar di Timur Tengah seperti Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar.
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyebutkan bahwa Indonesia akan menunggu hasil resolusi damai dan pembentukan misi penjaga perdamaian Gaza (UN Mission for Gaza Reconstruction and Peace) sebelum benar-benar mengirim pasukan. Proses diplomatik ini diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan tahun 2026.
---
Dukungan Publik dan Simbol Solidaritas
Isu pengiriman TNI ke Gaza mendapat dukungan luas dari masyarakat Indonesia. Gelombang solidaritas untuk Palestina terus terlihat di berbagai kota, melalui penggalangan dana, doa bersama, hingga kampanye kemanusiaan di media sosial.
TNI pun mendapat apresiasi sebagai simbol kekuatan yang tidak hanya menjaga kedaulatan nasional, tetapi juga menjadi duta perdamaian dunia. Banyak veteran misi PBB di Lebanon, Kongo, dan Sudan yang berbagi pengalaman, menekankan pentingnya profesionalitas, netralitas, dan kemanusiaan dalam setiap operasi perdamaian.
"Kalau Indonesia hadir di Gaza, itu bukan untuk perang, tapi untuk melindungi," ujar seorang perwira tinggi TNI dalam wawancara dengan media nasional. "Kita ingin memastikan anak-anak dan keluarga di Gaza bisa hidup aman tanpa takut bom dan serangan udara."
---
Tantangan di Lapangan
Namun, misi ke Gaza bukan tanpa risiko. Kawasan tersebut masih menjadi titik konflik aktif, dengan ancaman dari sisa-sisa militer, kelompok bersenjata, dan blokade wilayah.
Selain itu, pengiriman pasukan juga menghadapi tantangan diplomatik — terutama bagaimana memastikan netralitas Indonesia di tengah ketegangan politik antara Israel dan Palestina. TNI harus mampu menjaga hubungan baik dengan semua pihak, tanpa terlihat memihak, sesuai prinsip peacekeeping mandate dari PBB.
Dari sisi logistik, jarak tempuh dan kondisi medan di Gaza juga memerlukan perencanaan matang. Jalur masuk melalui Mesir (Rafah Crossing) adalah satu-satunya akses darat utama, sementara pengiriman logistik udara memerlukan koordinasi dengan pasukan internasional yang menguasai ruang udara di wilayah tersebut.
---
Harapan Perdamaian Dunia
Peran TNI di Gaza nantinya akan menjadi bagian dari misi besar Indonesia untuk memperkuat diplomasi pertahanan berbasis kemanusiaan. Sejak era Reformasi, Indonesia telah aktif berpartisipasi dalam 35 misi penjaga perdamaian PBB di berbagai negara.
Kehadiran pasukan Indonesia di Gaza bukan sekadar simbol solidaritas keagamaan, tetapi juga bukti komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan dan menegakkan prinsip kemanusiaan universal.
Presiden Prabowo sendiri menegaskan, "Kita tidak ingin melihat anak-anak mati karena perang. Indonesia ingin menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari konflik."
---
Prospek 2026: Dari Kesiapan Menuju Aksi
Melihat perkembangan hingga akhir 2025, banyak analis memperkirakan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahap awal pengerahan simbolik pasukan Indonesia ke Gaza — minimal dalam bentuk tim bantuan kemanusiaan dan medis, sebelum kontingen militer penuh diberangkatkan setelah mandat PBB keluar.
Jika semua berjalan sesuai rencana, Indonesia bisa menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menempatkan pasukan penjaga perdamaian di wilayah Palestina. Hal ini tidak hanya meningkatkan reputasi Indonesia di mata dunia, tetapi juga memperkuat posisi strategisnya sebagai pilar diplomasi damai global.
---
Penutup
Pengiriman Tentara Nasional Indonesia ke Gaza akan menjadi langkah bersejarah. Misi ini mencerminkan nilai luhur bangsa Indonesia: cinta damai, solidaritas terhadap penderitaan umat manusia, dan keberanian untuk berbuat nyata di medan kemanusiaan.
Meski banyak tantangan di depan, semangat kemanusiaan dan profesionalitas TNI menjadi modal utama untuk berkontribusi bagi dunia yang lebih damai. Tahun 2026 mungkin menjadi awal dari babak baru peran Indonesia — dari negeri kepulauan di Asia Tenggara, menuju panggung global sebagai penjaga perdamaian sejati di tanah suci Palestina.
---