Fenomena Aneh di Ngunut Tulungagung: Utara Gelap, Selatan Terang Benderang



---

🌦️ Fenomena Aneh di Ngunut Tulungagung: Utara Gelap, Selatan Terang Benderang

Tulungagung, Jawa Timur — Warga Kecamatan Ngunut dihebohkan dengan fenomena langka beberapa hari terakhir, ketika langit di bagian utara tampak gelap pekat dan mendung tebal, sementara bagian selatan justru terlihat terang benderang disinari matahari. Perbedaan cuaca ekstrem ini terjadi hanya dalam rentang jarak beberapa kilometer, memunculkan tanda tanya di kalangan masyarakat maupun pemerhati iklim lokal.


---

🌩️ Kesaksian Warga: "Kayak Langit Terbelah Dua"

Sejumlah warga di Desa Ngunut, Waung, dan Sodo menyebut kejadian itu terasa tidak biasa.

> "Jam dua siang tadi, langit di arah utara sudah gelap kayak mau hujan besar. Tapi di arah selatan, masih terang banget. Kayak langitnya dibelah," ujar Slamet, warga Ngunut, Minggu (3/11/2025).



Di beberapa tempat bahkan sempat turun hujan deras di sisi utara, sementara warga di sisi selatan masih bisa berjemur dan beraktivitas tanpa gangguan. Fenomena kontras ini sempat ramai dibagikan di media sosial oleh pengguna dari wilayah Tulungagung bagian timur.


---

☁️ Penjelasan Meteorolog: Perbedaan Awan Konvektif Lokal

Menurut penjelasan BMKG Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya, fenomena seperti ini bisa terjadi akibat pembentukan awan konvektif lokal yang tidak merata.

> "Awan cumulonimbus bisa terbentuk sangat lokal, bahkan hanya menutupi radius 1–3 kilometer. Itu sebabnya, satu wilayah bisa gelap seperti malam, sedangkan area di sebelahnya masih terang," jelas Ahmad Fikri, prakirawan BMKG, saat dikonfirmasi.



Proses konveksi terjadi ketika udara lembap di permukaan tanah naik cepat akibat panas matahari. Udara naik itu kemudian mendingin di ketinggian dan membentuk awan hujan. Karena bentuknya vertikal dan sempit, batas antara area yang tertutup awan dan yang cerah bisa sangat jelas terlihat dari darat — menciptakan kesan "langit terbelah".


---

🌀 Dampak Topografi Tulungagung

Fenomena ini juga dipengaruhi oleh bentuk geografis Tulungagung. Wilayah utara Ngunut berbatasan dengan daerah perbukitan yang merupakan bagian dari pegunungan selatan Kediri, sedangkan selatannya menuju dataran rendah dan jalur ke arah pantai selatan.
Topografi ini membuat aliran angin dan kelembapan udara tidak merata. Udara lembap lebih cepat terkumpul di daerah yang lebih tinggi di utara, memicu pembentukan awan tebal, sedangkan di selatan masih kering dan cerah.


---

📸 Ramai di Media Sosial

Unggahan warga Ngunut dan sekitarnya viral di media sosial, menampilkan pemandangan dramatis: satu sisi langit tampak hitam legam, sementara sisi lainnya terang biru cerah. Banyak netizen menyebutnya "langit dua warna" dan menganggapnya pertanda perubahan cuaca ekstrem.

Namun BMKG menegaskan bahwa fenomena ini alami dan tidak berbahaya, hanya saja menjadi menarik karena batas visualnya sangat jelas dan jarang terlihat di wilayah dataran rendah seperti Tulungagung.


---

🌈 Fenomena Serupa di Wilayah Lain

Fenomena serupa pernah terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia, seperti:

Sidoarjo (2022) – Hujan deras hanya di separuh kecamatan, sementara separuh lainnya cerah.

Yogyakarta (2023) – Langit sebelah barat mendung pekat, sebelah timur masih disinari matahari.

Bandung (2024) – Perbedaan suhu permukaan dan arah angin lokal memicu hujan parsial.


BMKG menyebut fenomena "setengah hujan, setengah cerah" ini sebenarnya cukup sering terjadi di masa peralihan musim (pancaroba) — yakni sekitar Oktober hingga November — ketika pola angin dan uap air di atmosfer belum stabil.


---

🌍 Pesan BMKG: Tetap Waspada Cuaca Ekstrem

BMKG mengimbau masyarakat Tulungagung untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang lokal, terutama di sore hingga malam hari.
Meski fenomena "utara gelap selatan terang" ini tidak berbahaya, kondisi serupa sering menjadi indikator awal terbentuknya awan cumulonimbus, yang bisa menimbulkan hujan lebat tiba-tiba atau kilat di wilayah terbatas.


---

🔭 Kesimpulan

Fenomena langit kontras di Ngunut merupakan contoh nyata dari keunikan dinamika atmosfer lokal di Indonesia. Dalam hitungan menit, perbedaan tekanan udara, suhu permukaan, dan kelembapan bisa menciptakan "garis batas alam" antara terang dan gelap.
Bagi warga, momen ini menjadi tontonan langka — tapi bagi ilmuwan, ia adalah pengingat betapa kompleksnya sistem cuaca di daerah tropis.


---



PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI - JUAL BELI BLOG - JUAL BLOG UNTUK KEPERLUAN DAFTAR ADSENSE - BELI BLOG BERKUALITAS - HUBUNGI KAMI SEGERA

Post a Comment

Support By Yahoo!
Support By Bing

Previous Post Next Post