---
Krisis Sampah Pahandut: Ketika Kota Muda di Tengah Kalimantan Menuju Titik Kritis Kebersihan
Pendahuluan – Pagi yang Berbau Menyengat di Jantung Palangka Raya
Pukul 05.45 WIB, udara di sepanjang Jalan Raden Saleh, Kecamatan Pahandut, tidak seperti biasanya. Kabut tipis yang biasa memberi nuansa sejuk pada pagi hari justru bercampur dengan aroma busuk dari tumpukan sampah yang mulai membusuk. Warga yang bergegas menuju pasar, pekerja yang hendak memulai aktivitas, hingga anak sekolah yang menunggu jemputan terpaksa menutup hidung.
Di salah satu sudut jalan, tampak tumpukan sampah setinggi hampir satu meter—campuran plastik, sisa makanan, daun pisang, hingga popok. Lalat beterbangan, dan beberapa kucing liar terlihat memperebutkan sisa makanan di antara tumpukan tersebut. Ini bukan fenomena satu hari. Bukan pula kejadian sekali waktu. Bagi sebagian warga Pahandut, pemandangan seperti ini telah menjadi rutinitas harian.
Kecamatan Pahandut, yang merupakan salah satu kawasan tertua dan terpadat di Kota Palangka Raya, kini menghadapi kenyataan pahit: krisis sampah yang semakin sulit dikendalikan. Dan seperti luka lama yang kembali menganga, masalah ini mulai mengganggu kualitas hidup masyarakat, memengaruhi kesehatan lingkungan, dan mengancam wibawa kota yang dulu dijuluki kota paling rapi di Kalimantan.
Laporan jurnalistik ini akan memotret kondisi lapangan secara mendalam, menggali suara warga, menelusuri kinerja pemerintah, mengungkap akar masalah, menimbang dampak kesehatan dan lingkungan, serta menelusuri kemungkinan masa depan Pahandut — apakah ia mampu keluar dari krisis, atau justru tenggelam dalam tumpukan sampahnya sendiri.
---
BAB 1 – POTRET SAMPAH PAHANDUT: REALITAS YANG TAK TERHINDARKAN
1.1. Peta Titik Hitam Sampah
Selama tujuh hari liputan lapangan, tim mendapati beberapa titik kritis di Pahandut yang selalu mengalami penumpukan sampah ekstrem:
1. Jalan Raden Saleh – salah satu pusat perdagangan.
2. Lingkungan Pasar Besar Palangka Raya.
3. Kawasan Kelurahan Pahandut Seberang.
4. Permukiman padat di Panarung.
5. Dekat Jembatan Kahayan.
6. Lokasi TPS liar yang muncul di gang-gang kecil.
Titik-titik tersebut terlihat tidak pernah benar-benar bersih. Begitu truk sampah mengangkut, dalam 12–24 jam berikutnya, tumpukan baru muncul lagi.
Menurut warga, volume sampah semakin meningkat dalam dua tahun terakhir seiring pertumbuhan penduduk serta peningkatan aktivitas ekonomi pascapandemi.
1.2. Jenis Sampah yang Mendominasi
Sebagian besar sampah di Pahandut berasal dari:
Rumah tangga – paling dominan.
Plastik kemasan sekali pakai.
Sampah pasar – sayuran busuk, sisa daging, kardus basah.
Popok bayi dan popok lansia.
Sampah pedagang kaki lima.
Hampir tidak ada sampah yang dipilah sebelum masuk ke TPS. Semua tercampur, membusuk, dan mengeluarkan bau menyengat dalam hitungan jam.
---
BAB 2 – SUARA DARI LAPANGAN: WARGA YANG HIDUP BERDEKATAN DENGAN SAMPAH
2.1. Rumah Dekat TPS: Hidup dalam Lingkaran Bau Busuk
Rina (34), warga Panarung, tinggal hanya 20 meter dari TPS.
> "Kalau malam, baunya sekali. Lalat masuk rumah, tikus juga kadang datang," ujarnya sambil menunjukkan rak dapurnya yang dipenuhi penutup makanan.
Ia bercerita bahwa keluarganya telah empat kali flu dan batuk dalam sebulan. Dokter menyebut ada kemungkinan udara buruk berkontribusi.
2.2. Pedagang Pasar Besar yang Tersandera Sampah
Darmawan (51), pedagang ikan, mengaku sampah membuat pembeli enggan datang.
> "Saya rugi beberapa kali karena ikan tidak laku. Pembeli lewat, tapi hidung mereka sudah tutup. Gimana mau beli?"
Menurutnya, sampah pasar sering dibiarkan seharian jika truk pengangkut terlambat.
2.3. Warga Pahandut Seberang: Antara Sungai dan Sampah
Di bantaran Sungai Kahayan, sampah bukan sekadar persoalan estetika, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Beberapa warga masih membuang sampah ke sungai karena akses ke TPS sulit.
Seorang pria paruh baya berkata lirih:
> "Dulu sungai jadi tempat mandi dan minum. Sekarang kotor sekali."
---
BAB 3 – DI BALIK PEMERINTAHAN: USAHA YANG TERBATAS DAN KEBIJAKAN YANG TERTUNDA
3.1. Armada Pengangkut yang Tidak Mencukupi
Menurut data kelurahan dan Dinas Lingkungan Hidup, Pahandut hanya memiliki beberapa unit truk operasional. Sementara volume sampah harian mencapai puluhan ton.
Sering kali sebuah truk harus melakukan 4–6 kali perjalanan menuju TPA Bukit Pinang.
Ketika truk rusak? Sampah langsung menumpuk.
3.2. TPS Terbatas dan Cepat Penuh
Banyak TPS di Pahandut:
kecil,
tidak tertata,
tanpa pemilahan,
dan cepat penuh.
Sisa sampah sering meluber keluar TPS, menciptakan TPS liar baru.
3.3. Regulasi Ada, Tapi Penegakan Lemah
Meskipun ada Perda, tetapi penegakannya nyaris tak terdengar.
Sanksi membuang sampah sembarangan jarang diterapkan. Tidak heran bila warga merasa tidak takut melanggar aturan.
---
BAB 4 – AHLI BERBICARA: AKAR MASALAH YANG MENGAKAR DALAM
Menurut sejumlah akademisi dari Universitas Palangka Raya, masalah sampah di Pahandut memiliki akar mendalam:
4.1. Pertumbuhan Penduduk di Pusaran Kota
Arus urbanisasi cepat, pembangunan rumah dan kos-kosan, serta peningkatan pedagang kaki lima berkontribusi meningkatkan volume sampah.
4.2. Tidak Ada Pemilahan Sampah
Sebanyak 95% sampah bercampur. Tanpa pemilahan, pengelolaan menjadi jauh lebih sulit.
4.3. Minimnya Edukasi Berkelanjutan
Edukasi yang pernah dilakukan hanya sesekali, tanpa tindak lanjut.
4.4. Infrastruktur Tidak Diperbarui
Truk tua, TPS sempit, dan tanpa teknologi.
4.5. Ketergantungan 100% pada Pemerintah
Belum banyak kolaborasi:
perusahaan
komunitas
sekolah
masyarakat sendiri
---
BAB 5 – DAMPAK: LEBIH PARAH DARI SEKADAR BAU
5.1. Dampak Kesehatan
Penyakit kulit
ISPA
Penyakit bawaan lalat
Potensi leptospirosis
5.2. Lingkungan Rusak
Sungai tercemar
Ekosistem terganggu
Penurunan kualitas air
5.3. Dampak Sosial-Ekonomi
Penurunan kualitas wisata
Pedagang merugi
Keluhan warga meningkat
---
BAB 6 – TITIK TERANG: KISAH KECIL YANG MEMBAWA HARAPAN
6.1. Komunitas "Kahayan Bersih"
Mereka melakukan:
bersih sungai,
kampanye anti-plastik,
edukasi sekolah.
6.2. Bank Sampah Panarung
Dikelola ibu rumah tangga. Mengurangi 50–70 kg sampah per minggu.
6.3. RT yang Mandiri Sampah
Beberapa RT mulai memiliki sistem jadwal kebersihan dan tempat kompos mandiri.
---
BAB 7 – SOLUSI: APA YANG BISA DITERAPKAN UNTUK JANGKA PANJANG?
Para ahli mengusulkan:
7.1. Modernisasi Sistem Pengangkutan
truk baru
jadwal pasti
TPS modular
7.2. Edukasi Intensif Selama 1 Tahun
Program berkelanjutan, bukan sekali jalan.
7.3. Pelibatan Komunitas & Sekolah
Melibatkan generasi muda.
7.4. Sistem Pemilahan Skala Warung & Rumah
Dimulai dari plastik, organik, dan botol.
7.5. Sanksi Tegas
Bukti foto + denda langsung.
---
BAB 8 – MASA DEPAN PAHANDUT: DI PERSIMPANGAN
Apakah Pahandut akan:
menjadi kota bersih yang modern?
atau menjadi kawasan yang dikenal sebagai "kota sampah"?
Jawabannya bergantung pada:
pemerintah,
warga,
komunitas,
dan kesadaran kolektif.
> "Kalau kita tidak berubah sekarang, lima tahun lagi kita akan tenggelam dalam sampah kita sendiri,"
kata seorang akademisi lingkungan.
---
PENUTUP – KEBERSIHAN ADALAH CERMIN MASYARAKAT
Krisis sampah di Pahandut bukan sekadar soal tumpukan sampah. Ini adalah cermin bagaimana sebuah kota mengelola diri, bagaimana masyarakatnya berperilaku, dan bagaimana pemerintah menunjukkan kapabilitasnya.
Jika Pahandut berhasil keluar dari masalah ini, kota lain di Kalimantan Tengah bisa meniru langkahnya. Tetapi jika gagal, ia akan menjadi contoh buruk yang akan terus dikenang.
---