"Ketika Surat Kedua Datang: Kisah Saifudin Hidayat, Realita Pinjaman Online, dan Pelajaran Tentang Tanggung Jawab Finansial di Era Digital"
---
1. Pagi yang Tenang, Surat yang Mengusik
Pagi itu, 7 Oktober 2025, suasana di rumah kontrakan kecil milik Saifudin Hidayat terasa biasa saja. Udara Jakarta Timur masih lembab setelah hujan semalam. Ia sedang meneguk kopi hitam, membuka ponsel untuk membaca pesan-pesan masuk di WhatsApp. Namun, di antara notifikasi grup keluarga dan pesan kerja, ada satu email dengan judul tegas:
"Surat Peringatan Kedua – Adapundi"
Ia menatap layar beberapa detik. Degup jantungnya perlahan meningkat. Ia tahu, ini bukan sekadar email biasa. Ini adalah peringatan kedua — tanda bahwa waktunya mulai menipis untuk memperbaiki situasi.
"Ya Tuhan... sampai dikirim lagi suratnya," gumamnya pelan, mengusap wajahnya.
Di bawah logo Adapundi yang berwarna hijau-oranye cerah, surat itu menyapa dengan bahasa formal, menyebut namanya lengkap: SAIFUDIN HIDAYAT, Penerima Pinjaman Adapundi. Surat itu menyebut jumlah kewajiban yang belum dibayar: Rp14.427.541. Jumlah yang tidak kecil untuknya, seorang pegawai harian di gudang ekspedisi.
---
2. Dari Harapan Jadi Beban
Beberapa bulan sebelumnya, pinjaman itu adalah secercah harapan. Saifudin mengajukan pinjaman di aplikasi Adapundi dengan alasan sederhana: untuk modal membuka usaha kecil bersama istrinya — menjual makanan ringan di depan rumah.
Semua berjalan lancar pada awalnya. Ia mendapat notifikasi bahwa pengajuan diterima, dana cair ke rekening dalam hitungan jam. "Cepat banget," katanya waktu itu, merasa lega karena masalah ekonomi seolah menemukan solusi.
Namun, roda kehidupan tidak selalu berputar mulus. Usaha kecilnya sepi pelanggan, motor rusak, anak sakit, dan cicilan pun menumpuk. Sejak itu, satu bulan keterlambatan berubah menjadi dua, lalu tiga, hingga akhirnya datanglah surat pertama — Surat Peringatan Pertama pada April 2025. Saifudin sempat berniat mencicil sedikit demi sedikit, tapi biaya hidup terus menggerus penghasilannya.
---
3. Apa Itu Surat Peringatan Kedua?
Dalam konteks finansial, Surat Peringatan Kedua (SP-2) dari lembaga keuangan atau aplikasi pinjaman online merupakan tanda bahwa pihak peminjam sudah cukup lama menunggak kewajibannya. Biasanya, ini berarti peringatan pertama telah diabaikan, dan lembaga mulai mempersiapkan langkah penagihan lanjutan.
Surat Adapundi itu ditulis oleh PT Info Tekno Siaga, nama yang menjadi mitra penagihan resmi di bawah aplikasi Adapundi. Dalam surat tersebut tercantum nomor virtual account BCA untuk pelunasan, penjelasan jumlah utang, dan tenggat waktu 3 hari kalender sejak surat diterima.
Nada suratnya sopan, tapi tegas. Tidak ada ancaman kasar, namun jelas menggambarkan konsekuensi jika pembayaran tidak dilakukan — data kredit akan dicatat buruk, akses pinjaman di masa depan bisa diblokir.
Dalam dunia fintech, hal seperti ini adalah bagian dari prosedur standar penagihan, diatur oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, surat itu bukan ancaman liar, melainkan mekanisme resmi agar peminjam memahami tanggung jawabnya.
---
4. Di Balik Layar: Siapa PT Info Tekno Siaga dan Adapundi?
Adapundi adalah salah satu aplikasi pinjaman online berbasis peer-to-peer lending yang beroperasi di bawah pengawasan OJK. Konsepnya sederhana: menghubungkan pemberi dana (investor) dengan penerima pinjaman (borrower).
Sedangkan PT Info Tekno Siaga adalah mitra yang menangani urusan administrasi dan penagihan.
Dalam surat tersebut, nama Ferry Oktora tercantum sebagai Manager Collection. Ini bukan berarti seseorang akan langsung datang menagih ke rumah. Biasanya, penagihan tahap ini masih dilakukan secara digital — melalui email, pesan aplikasi, atau telepon resmi.
Bagi sebagian orang, surat seperti ini terasa menyeramkan. Tapi bagi dunia fintech, ini adalah "wake up call", sinyal agar komunikasi antara peminjam dan penyedia layanan bisa kembali terbuka.
---
5. Ketika Teknologi Bertemu Keterbatasan
Saifudin bukan orang bodoh dalam urusan uang. Ia paham bunga, paham cicilan. Tapi hidup di Jakarta dengan gaji pas-pasan membuat segalanya terasa sempit. Dalam kondisi seperti itu, pinjaman online tampak seperti "jalan keluar instan".
Namun di sinilah letak jebakannya. Ketika teknologi memberikan kemudahan, sering kali manusia lupa menghitung risiko. Aplikasi pinjaman seperti Adapundi menawarkan proses cepat tanpa jaminan, tapi di balik itu ada bunga harian dan jatuh tempo ketat.
Bagi mereka yang telat membayar, bunga akan menumpuk secara eksponensial.
Saifudin tahu itu. Ia hanya tidak menduga bahwa hidup akan berbelok secepat itu. Sekarang, surat peringatan kedua menjadi pengingat bahwa teknologi tidak bisa menutupi realitas finansial seseorang.
---
6. Investigasi Kecil: Fenomena Pinjaman Online di Indonesia
Indonesia menjadi salah satu pasar terbesar untuk fintech lending di Asia Tenggara. Menurut data OJK, pada pertengahan 2025, jumlah akun aktif pengguna pinjaman online resmi mencapai lebih dari 15 juta. Namun di balik angka itu, terdapat jutaan kisah kecil tentang harapan, kesalahan, dan pelajaran finansial.
Sebagian pengguna berhasil memanfaatkan pinjaman online untuk modal usaha. Sebagian lain, seperti Saifudin, justru terjebak dalam siklus utang.
Penyebabnya beragam:
Minimnya literasi finansial
Pendapatan tidak tetap
Keinginan cepat menyelesaikan masalah keuangan
Promosi aplikasi yang terlalu meyakinkan
Tidak jarang pula muncul masalah etika penagihan. Meski OJK dan AFPI telah menertibkan banyak pihak, sebagian pengguna masih trauma dengan praktik penagihan yang kasar dari platform tidak resmi.
Adapundi sendiri termasuk platform legal berizin OJK, jadi segala prosesnya harus sesuai regulasi. Namun, tetap saja, tekanan psikologis akibat surat peringatan bisa membuat peminjam panik, terutama jika belum punya solusi.
---
7. Surat Itu Jadi Cermin
Saifudin duduk diam menatap surat digital itu berulang kali. Ia membaca setiap kalimat — dari kata "Dengan hormat" hingga "Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih."
Bagi orang lain, mungkin itu hanya teks formal. Tapi bagi dia, setiap kata terasa seperti tamparan lembut.
Ia teringat ucapan istrinya, "Kalau bisa, jangan minjam lagi. Berat rasanya punya utang ke aplikasi."
Namun hidup tak selalu memberi pilihan mudah. Kini, ia harus mencari jalan keluar — bukan sekadar untuk melunasi, tapi untuk memperbaiki kebiasaan finansial.
---
8. Pelajaran Tentang Tanggung Jawab Finansial
Surat dari Adapundi bisa dijadikan contoh penting bagi siapa pun yang pernah atau sedang menggunakan pinjaman online.
Berikut beberapa pelajaran penting:
1. Pinjam sesuai kemampuan bayar. Jangan tergoda jumlah pinjaman besar jika pendapatan belum stabil.
2. Baca semua syarat dan ketentuan. Termasuk bunga harian, denda keterlambatan, dan tenor.
3. Gunakan pinjaman untuk produktif, bukan konsumtif. Modal usaha atau kebutuhan mendesak boleh, tapi jangan untuk gaya hidup.
4. Komunikasikan jika ada kendala. Platform legal biasanya menyediakan layanan pelanggan untuk negosiasi restrukturisasi.
5. Catat semua tanggal jatuh tempo. Gunakan kalender digital agar tidak lupa.
Jika Saifudin menerapkan ini sejak awal, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi ia memilih menjadikannya pelajaran, bukan penyesalan.
---
9. Di Balik Teguran, Ada Itikad Baik
Surat peringatan kedua bukan akhir segalanya. Justru, itu adalah kesempatan terakhir untuk memperbaiki keadaan sebelum data kredit benar-benar tercatat buruk.
Banyak platform fintech bersedia memberikan restrukturisasi — misalnya memperpanjang tenor atau mengurangi bunga sementara — jika pengguna menunjukkan itikad baik.
Saifudin akhirnya memberanikan diri menghubungi layanan pelanggan Adapundi. Suaranya gugup, tapi jujur. "Saya ingin mencicil, tapi belum bisa bayar penuh. Bisa dibantu, Mbak?"
Di ujung telepon, suara lembut menjawab, "Bisa, Pak Saifudin. Nanti kami pandu langkah-langkahnya."
Hari itu, ia merasa sedikit lega. Tidak sepenuhnya bebas, tapi beban di dadanya mulai berkurang.
---
10. Kesadaran Baru di Era Digital
Kisah Saifudin adalah potret banyak orang di era digital. Kemudahan teknologi memang menolong, tapi tanpa kesadaran finansial, ia bisa berubah jadi bumerang.
Surat seperti yang dikirimkan Adapundi bukan hanya peringatan, tapi juga pengingat moral: bahwa setiap keputusan finansial, sekecil apa pun, punya konsekuensi.
Di tengah hiruk pikuk iklan pinjaman cepat, Saifudin kini paham — tidak ada uang yang benar-benar "cepat" tanpa tanggung jawab.
Ia mulai menulis catatan keuangan sederhana, menandai setiap pengeluaran harian, dan berjanji tak akan tergoda lagi dengan iming-iming pinjaman instan.
---
11. Penutup: Surat Itu Jadi Guru
Beberapa minggu kemudian, Saifudin berhasil mencicil sebagian kewajibannya. Surat peringatan itu kini disimpannya sebagai pengingat — bukan tentang kesalahan, tapi tentang perjalanan hidup.
"Surat itu bukan ancaman," katanya suatu sore kepada temannya, "tapi pengingat bahwa hidup butuh perencanaan. Kalau mau tenang, jangan kejar cepat, kejar cukup."
Surat Peringatan Kedua dari Adapundi mungkin terdengar kaku di mata hukum, tapi di hati seorang Saifudin Hidayat, surat itu adalah pelajaran hidup — tentang tanggung jawab, kejujuran, dan keberanian untuk menghadapi kenyataan.
---