---
Sheh di Indonesia: Sejarah, Peran, dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Masyarakat
Pendahuluan
Kalau kita berjalan-jalan ke berbagai daerah di Indonesia, apalagi ke kampung-kampung tua atau kota-kota pesisir, sering kita temui makam-makam kuno dengan nama "Sheh" di nisannya. Ada yang dikenal sebagai wali, ada yang dianggap guru tarekat, ada pula yang diyakini sebagai penyebar Islam pertama di wilayah itu. Nama "Sheh" begitu melekat dengan sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Bagi masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, Sumatra, Madura, dan Sulawesi, istilah "Sheh" tidak hanya sekadar gelar, melainkan simbol dari sosok yang dihormati, penuh ilmu, dan membawa keberkahan.
Tapi sebenarnya, siapa sih "Sheh" itu? Dari mana istilah ini datang, dan bagaimana peran mereka dalam perjalanan panjang Islam di Indonesia? Yuk, kita bahas panjang lebar dalam artikel santai ini.
---
Asal Usul Istilah "Sheh"
Kata Sheh diambil dari bahasa Arab "Syekh" (شيخ), yang secara harfiah berarti orang tua, pemuka, atau guru. Dalam dunia Islam, seorang Syekh biasanya merujuk pada:
1. Ulama besar yang memiliki kedalaman ilmu.
2. Guru dalam tarekat sufi.
3. Pemimpin atau tokoh masyarakat.
Nah, ketika Islam masuk ke Indonesia, masyarakat lokal menyesuaikan penyebutannya. Maka jadilah "Sheh", "Syah", atau bahkan "Syaikh". Bedanya tipis, tapi maknanya tetap sama: seseorang yang dihormati karena keilmuannya, keturunannya, atau perannya dalam dakwah.
---
Sheh dalam Sejarah Islam di Nusantara
Islam masuk ke Indonesia lewat jalur perdagangan, perkawinan, dan dakwah. Para pedagang Arab, Gujarat, hingga Persia membawa ajaran Islam sejak abad ke-7 M. Nah, para pendakwah ini sering disebut "Sheh" oleh penduduk lokal karena dianggap guru rohani.
Contoh yang paling terkenal tentu saja Wali Songo di Jawa. Meski tidak semua disebut "Sheh", beberapa di antaranya akrab dengan gelar ini. Misalnya:
Sheh Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419 M di Gresik) – beliau dianggap wali pertama yang menyebarkan Islam di Jawa. Makamnya hingga kini selalu ramai ziarah.
Sheh Maulana Ishaq – ayah Sunan Giri, penyebar Islam di Blambangan.
Sheh Wali Lanang – tokoh penyebar Islam di Bali dan Lombok.
Di luar Jawa, ada juga tokoh lain seperti:
Sheh Yusuf al-Makassari (1626–1699) dari Sulawesi Selatan, ulama besar yang berjuang melawan penjajah Belanda, bahkan sampai dibuang ke Afrika Selatan.
Sheh Abdul Rauf as-Singkili (1615–1693) dari Aceh, penyebar tarekat Syattariyah, penulis kitab tafsir Tarjuman al-Mustafid (tafsir Al-Qur'an pertama dalam bahasa Melayu).
Mereka ini tidak sekadar berdakwah, tapi juga mendidik masyarakat, mengajarkan tasawuf, bahkan ikut melawan penjajahan.
---
Sheh dan Habaib di Indonesia
Selain ulama lokal, ada juga "Sheh" yang datang dari kalangan habaib, yaitu keturunan Nabi Muhammad SAW yang menyebar ke Nusantara. Gelar mereka biasanya "Sayyid" atau "Habib", tapi masyarakat sering menyebutnya juga sebagai "Sheh".
Beberapa tokoh habaib yang berpengaruh:
Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus (Sheh Husein Luar Batang, Jakarta). Makamnya di kawasan Luar Batang jadi salah satu pusat ziarah terkenal.
Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (meski berasal dari Hadramaut, ajarannya sangat populer di Indonesia lewat tarekat dan kitabnya).
Habib Ali Kwitang di Jakarta, yang dikenal sebagai ulama besar abad ke-20.
Habaib ini biasanya mendirikan majelis taklim, pesantren, dan tarekat yang masih hidup sampai sekarang. Tidak sedikit pula masyarakat yang menganggap keberadaan mereka membawa barakah (keberkahan).
---
Peran Sosial Sheh di Indonesia
Yang menarik, para Sheh ini bukan hanya sekadar mengajarkan agama, tapi juga terlibat langsung dalam kehidupan sosial. Mari kita lihat perannya:
1. Penyebar Islam
Banyak Sheh datang ke wilayah yang masih memegang kuat tradisi Hindu-Buddha atau animisme. Mereka dengan sabar berdakwah, menggunakan pendekatan budaya. Hasilnya, Islam diterima secara damai.
2. Guru dan Pendidik
Para Sheh mendirikan pesantren, surau, dan madrasah. Dari sinilah lahir generasi ulama Nusantara. Misalnya, Sheh Nawawi al-Bantani yang kitabnya dipelajari sampai ke Mekah.
3. Pemimpin Tarekat
Beberapa Sheh menjadi mursyid tarekat, seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, atau Syattariyah. Tarekat ini berperan besar dalam menyebarkan Islam, terutama di pedalaman.
4. Pejuang Melawan Penjajah
Banyak Sheh juga terlibat dalam perlawanan fisik. Contohnya, Sheh Yusuf al-Makassari melawan VOC, Sheh Abdul Karim Banten ikut dalam Perang Banten, dan banyak lagi.
5. Simbol Spiritualitas
Hingga kini, makam para Sheh jadi tempat ziarah. Bukan hanya soal ritual, tapi juga sebagai simbol keterhubungan dengan sejarah Islam di Nusantara.
---
Makam-Makam Sheh yang Terkenal
Kalau bicara Sheh di Indonesia, tak bisa lepas dari tradisi ziarah makam. Beberapa yang populer antara lain:
Makam Sheh Maulana Malik Ibrahim di Gresik.
Makam Sheh Yusuf al-Makassari di Lakiung, Sulawesi Selatan (dan juga makamnya di Cape Town, Afrika Selatan).
Makam Sheh Abdul Rauf Singkel di Aceh.
Makam Sheh Husein Luar Batang di Jakarta.
Makam Sheh Maulana Ishaq di Blambangan, Banyuwangi.
Makam-makam ini bukan sekadar tempat ziarah, tapi juga destinasi budaya dan sejarah.
---
Sheh dalam Kehidupan Modern
Lalu, bagaimana dengan zaman sekarang? Apakah masih ada peran Sheh?
Jawabannya: tentu saja ada, hanya saja bentuknya berbeda. Kini, para Sheh lebih banyak dikenal sebagai ulama, habib, atau kiai besar. Mereka hadir di majelis taklim, televisi, hingga media sosial. Bahkan, dakwah Sheh modern bisa viral di YouTube dan TikTok.
Selain itu, ajaran para Sheh klasik juga masih hidup lewat kitab-kitab kuning yang dipelajari di pesantren. Santri di seluruh Indonesia masih belajar karya-karya Sheh Nawawi al-Bantani, Sheh Mahfudz at-Tarmasi, dan lain-lain.
---
Cerita-Cerita Unik Seputar Sheh di Indonesia
1. Sheh Maulana Malik Ibrahim dan Batu Nisan Gujarat
Menariknya, makam beliau di Gresik punya nisan bergaya Gujarat, membuktikan adanya jalur perdagangan internasional.
2. Sheh Yusuf al-Makassari di Afrika Selatan
Meski beliau berasal dari Sulawesi, namanya dikenang di Cape Town. Bahkan, masyarakat Afrika Selatan menyebutnya "Tuang Guru".
3. Sheh Husein Luar Batang dan Tradisi Jakarta
Hingga kini, haul beliau selalu dihadiri ribuan jamaah. Pasar, pedagang kaki lima, dan kesenian Betawi turut memeriahkan acara itu.
---
Penutup
"Sheh di Indonesia" bukan hanya sekadar gelar, tapi simbol dari perjalanan panjang Islam di Nusantara. Mereka adalah guru, wali, penyebar Islam, pejuang, sekaligus teladan spiritual. Dari Aceh sampai Papua, nama-nama Sheh masih hidup dalam ingatan masyarakat, baik lewat makam, pesantren, maupun ajaran yang diwariskan.
Kalau kita mau memahami sejarah Islam di Indonesia, maka mempelajari kisah para Sheh adalah pintu masuk yang sangat penting. Mereka bukan sekadar tokoh masa lalu, tapi juga bagian dari identitas budaya dan keagamaan bangsa ini.
---
✅