---
Sheh di Indonesia: Sejarah, Peran, dan Warisan Spiritual
Pendahuluan
Di Indonesia, istilah Sheh (atau Syekh) sering digunakan untuk menyebut ulama, guru tarekat, wali penyebar Islam, maupun keturunan Nabi Muhammad SAW yang lebih dikenal dengan sebutan habaib. Penyematan gelar ini memiliki makna spiritual, sosial, dan kultural yang sangat penting, terutama dalam perjalanan panjang Islamisasi di Nusantara.
Bagi masyarakat Jawa, Madura, dan sebagian besar daerah lain, "Sheh" adalah sosok yang dihormati, diteladani, sekaligus dijadikan panutan moral dan spiritual. Makam para Sheh pun hingga kini ramai diziarahi, menjadi pusat spiritual sekaligus simpul kebudayaan.
Artikel ini akan membahas secara panjang dan detail perihal Sheh di Indonesia: siapa mereka, bagaimana peran mereka dalam sejarah, serta warisan yang mereka tinggalkan hingga masa kini.
---
Bab I: Asal-usul Gelar Sheh
1.1. Makna "Sheh" dalam Tradisi Islam
Secara bahasa, Sheh (شيخ) dalam bahasa Arab berarti "orang tua, guru, atau pemuka". Dalam konteks Islam, istilah ini dipakai untuk:
Ulama besar atau guru agama.
Pemimpin tarekat sufi.
Sosok karismatik yang dihormati karena ilmu dan ketakwaannya.
Di Nusantara, masyarakat sering menyebut ulama penyebar Islam sebagai Sheh, meskipun dalam catatan Arab mereka disebut Syekh.
1.2. Gelar Sheh bagi Keturunan Nabi
Selain bermakna guru atau ulama, di Indonesia Sheh juga sering digunakan untuk menyebut keturunan Nabi Muhammad SAW yang datang dari Hadramaut (Yaman). Kelompok ini dikenal juga sebagai Sayyid atau Habib, dan mereka memiliki peranan besar dalam dakwah Islam di Indonesia.
---
Bab II: Sheh dan Islamisasi Nusantara
2.1. Awal Masuknya Islam
Sejarah Islam masuk ke Nusantara tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama, pedagang, dan sufi. Banyak di antara mereka adalah Sheh yang datang dari Arab, Persia, India, dan Gujarat. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga berdakwah dengan cara damai.
2.2. Sheh Walisongo
Walisongo adalah contoh nyata peran Sheh di Jawa. Beberapa di antaranya bahkan dikenal dengan gelar Sheh, misalnya:
Sheh Maulana Malik Ibrahim (Gresik) – ulama besar dari Gujarat yang dianggap wali pertama di Jawa.
Sheh Maulana Ishaq (ayah Sunan Giri).
Sheh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Walisongo menggunakan pendekatan budaya, kesenian, dan kearifan lokal untuk menyebarkan Islam, sehingga ajaran Islam mudah diterima masyarakat.
2.3. Sheh dari Makassar dan Sulawesi
Tokoh penting lain adalah Syekh Yusuf al-Makassari, ulama besar yang belajar di Timur Tengah, menjadi guru sufi, sekaligus pejuang anti-kolonial. Beliau dikenal sebagai Sheh Yusuf Tajul Khalwati dalam dunia tarekat.
---
Bab III: Sheh dalam Dunia Tarekat
3.1. Tarekat Qadiriyah
Di Indonesia, tarekat Qadiriyah sangat populer karena sanadnya bersambung ke Sheh Abdul Qadir Jailani (Baghdad). Meski beliau tidak pernah datang langsung ke Nusantara, ajarannya menyebar melalui murid-muridnya. Hingga kini, makam Sheh Abdul Qadir Jailani di Baghdad menjadi tujuan ziarah umat Islam Indonesia.
3.2. Tarekat Naqsyabandiyah dan Khalwatiyah
Selain Qadiriyah, tarekat Naqsyabandiyah juga berkembang pesat, terutama di Sumatra. Para pengamal tarekat ini biasanya dipimpin oleh seorang Sheh yang dihormati sebagai mursyid.
Di Sulawesi Selatan, tarekat Khalwatiyah berkembang pesat lewat Sheh Yusuf al-Makassari.
3.3. Pesantren dan Sheh
Banyak pesantren di Jawa berdiri atas jasa para Sheh yang menjadi mursyid tarekat. Misalnya, Pesantren Tebuireng (didirikan KH. Hasyim Asy'ari) yang meski tidak menggunakan gelar Sheh, namun mengamalkan tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
---
Bab IV: Habaib dan Sheh di Indonesia
4.1. Migrasi dari Hadramaut
Sejak abad ke-15, banyak keturunan Nabi (Sayyid/Habib) datang ke Nusantara. Mereka sering disebut "Sheh" oleh masyarakat setempat. Peran mereka antara lain:
Menjadi guru agama.
Menyebarkan tarekat.
Menguatkan hubungan sosial antar komunitas Muslim.
4.2. Tokoh Habaib di Indonesia
Beberapa habaib yang dikenal luas antara lain:
Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus (makam Luar Batang, Jakarta).
Habib Ali Kwitang (Jakarta).
Habib Umar bin Hood (Surabaya).
Meski disebut "Habib", masyarakat awam kadang menyebut mereka "Sheh" sebagai bentuk penghormatan.
---
Bab V: Sheh sebagai Pusat Ziarah
5.1. Makam Sheh yang Dikeramatkan
Di banyak daerah, makam Sheh menjadi pusat ziarah. Misalnya:
Makam Sheh Maulana Malik Ibrahim (Gresik).
Makam Sheh Jumadil Kubro (Tuban).
Makam Sheh Abdul Muhyi (Tasikmalaya).
5.2. Tradisi Haul
Haul Sheh menjadi ajang berkumpulnya umat, membaca doa, manaqib, dan tausiyah. Tradisi ini memperkuat silaturahmi dan menjaga nilai spiritual masyarakat.
---
Bab VI: Peran Sosial Sheh di Indonesia
6.1. Pemimpin Spiritualitas
Sheh berperan sebagai guru rohani yang membimbing masyarakat menuju kehidupan islami.
6.2. Penengah Sosial
Dalam konflik sosial, Sheh sering diminta menjadi penengah karena wibawanya.
6.3. Simbol Identitas Keislaman
Sheh juga menjadi simbol identitas keislaman dan penghubung budaya lokal dengan ajaran Islam universal.
---
Bab VII: Warisan Sheh di Era Modern
7.1. Pesantren dan Pendidikan
Warisan Sheh terlihat pada pesantren yang masih menjaga tradisi tarekat dan ilmu keislaman klasik.
7.2. Majelis Taklim dan Habaib
Di kota-kota besar, majelis taklim yang dipimpin habaib masih ramai, menjadi kelanjutan tradisi Sheh sebagai guru spiritual.
7.3. Media Sosial dan Dakwah
Kini, peran Sheh juga hadir di media sosial. Banyak habaib dan ulama menggunakan platform digital untuk berdakwah.
---
Kesimpulan
"Sheh di Indonesia" bukan sekadar gelar, tetapi simbol perjalanan panjang Islam di Nusantara. Dari Walisongo, Sheh Yusuf al-Makassari, para habaib Hadramaut, hingga ulama tarekat, semuanya berkontribusi besar dalam membentuk wajah Islam Indonesia yang damai, inklusif, dan penuh kearifan lokal.
Warisan mereka masih terasa hingga kini melalui pesantren, tarekat, tradisi haul, dan majelis ilmu yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Islam Indonesia.
---
📌