Pasang Terop di Sambogunung Gresik: Potret Gotong Royong dan Kebersamaan Warga
Di sebuah sudut Desa Sambogunung, Gresik, siang yang terik tidak menghalangi semangat warga untuk berkumpul. Pagi tadi, jalan kampung yang biasanya sepi berubah menjadi lebih ramai. Terlihat deretan motor diparkir di pinggir jalan, suara percakapan terdengar riuh, dan di tengah halaman sebuah rumah besar, terop mulai dipasang. Terop dengan kain berwarna putih gading dan aksen krem itu menjadi tanda bahwa akan ada acara penting di lingkungan tersebut.
Awal Persiapan yang Penuh Semangat
Pagi hari dimulai dengan kedatangan para tetangga yang membawa peralatan sederhana seperti tangga, tali, dan pipa besi. Satu per satu tiang penyangga berdiri. Sebagian warga memegang paku dan palu, sementara yang lain mengatur posisi kain agar tidak mudah tertiup angin. Suasana ini bukan pemandangan asing bagi warga Sambogunung. Setiap ada hajatan, baik pernikahan, khitanan, ataupun acara adat, kegiatan memasang terop selalu dilakukan secara gotong royong.
Gotong royong bukan sekadar kebiasaan, melainkan warisan budaya yang sudah mengakar. Tidak ada undangan resmi, cukup kabar yang beredar dari mulut ke mulut. "Besok kita pasang terop, ya," ujar seorang warga sehari sebelumnya. Dan esok harinya, orang-orang pun berdatangan, tanpa perlu diminta secara khusus.
Kekompakan dalam Setiap Detail
Memasang terop memang membutuhkan kerja sama. Ada yang bertugas mengangkat tiang besi, ada yang memastikan tali terikat dengan kencang, dan ada pula yang menyesuaikan kain agar jatuh dengan rapi. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan sendiri karena setiap bagian saling terhubung. Jika satu tiang tidak seimbang, seluruh struktur bisa goyah.
Di sela-sela aktivitas, terdengar canda tawa. "Ayo tarik yang kencang, biar tamunya nanti nggak kepanasan," ujar seorang bapak sambil tertawa. Anak-anak pun ikut membantu meski hanya mengambilkan tali atau memegang paku. Semua merasa memiliki peran, sekecil apa pun itu.
Lebih dari Sekadar Terop
Bagi warga Sambogunung, memasang terop bukan hanya tentang menyiapkan tempat acara. Di balik kain putih yang membentang, ada nilai kebersamaan yang kuat. Setiap orang, dari anak muda hingga orang tua, merasakan kebanggaan karena bisa ikut serta. Ini adalah momen untuk saling mengenal, mempererat hubungan, dan menjaga kekompakan antarwarga.
Ketika sore tiba, terop sudah berdiri kokoh. Kain-kain terpasang rapi, memberikan keteduhan dari panas matahari. Beberapa warga tetap tinggal untuk memastikan semua sudut aman dan siap menghadapi kemungkinan hujan atau angin malam. Mereka tidak hanya memasang, tetapi juga memikirkan kenyamanan tamu yang akan datang keesokan hari.
Tradisi yang Terus Hidup
Di era modern yang serba cepat, tradisi gotong royong seperti ini tetap bertahan. Sambogunung Gresik menjadi contoh bahwa kebersamaan masih menjadi kekuatan masyarakat. Tanpa memandang status sosial atau jabatan, semua orang berbaur. Semangat inilah yang membuat setiap hajatan terasa lebih bermakna.
Pasang terop mungkin tampak sederhana, namun di balik kesederhanaannya tersimpan pesan mendalam: persatuan dan kepedulian adalah fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat. Selama nilai-nilai itu dijaga, setiap tiang terop yang berdiri tegak akan selalu menjadi saksi bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar warga Sambogunung.
---