Pasang Terop Gotong Royong di Sambogunung Gresik
Di sebuah sudut kampung Sambogunung, Gresik, suasana pagi itu terasa begitu hidup. Jalanan yang biasanya hanya dilalui warga dan kendaraan bermotor, hari itu berubah menjadi arena kerja bakti bersama. Sejak matahari belum terlalu tinggi, para warga telah berkumpul untuk memulai pemasangan terop—tenda besar yang akan menjadi pusat acara penting. Bagi masyarakat Jawa pada umumnya, termasuk warga Gresik, memasang terop bukan sekadar urusan teknis, tetapi juga sebuah simbol kebersamaan dan semangat gotong royong.
Deretan kursi plastik berwarna merah muda dan merah tua tampak menumpuk rapi di pinggir jalan, menunggu untuk ditata di bawah naungan kain terop yang putih keemasan. Beberapa pria terlihat memanggul kursi, sebagian lagi sibuk menegakkan tiang penyangga, sementara yang lain merapikan kain pelindung biru agar tidak terlepas ketika angin bertiup kencang. Pemandangan ini menghadirkan kesan bahwa setiap orang memiliki perannya masing-masing. Tidak ada yang saling memerintah secara kaku, semua bekerja secara spontan, saling melengkapi, dan saling mengerti apa yang harus dilakukan.
Di antara keramaian itu, terdengar canda tawa yang membuat suasana kerja menjadi lebih ringan. Sesekali terdengar suara logam beradu ketika paku dan palu dipasang, atau suara kayu gesek ketika rangka terop diperkuat. Udara pagi yang hangat bercampur dengan semangat para warga membuat energi positif memancar ke seluruh area. Walaupun keringat mulai membasahi pelipis, wajah-wajah para pekerja tetap dihiasi senyum tulus.
Tak jauh dari lokasi utama, para ibu rumah tangga juga tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan air minum dingin, teh manis, dan jajanan sederhana seperti pisang goreng dan kue tradisional untuk menyegarkan tenaga para bapak-bapak yang sedang bekerja. Anak-anak pun terlihat berlarian, sesekali membantu dengan cara sederhana seperti mengambilkan paku atau memindahkan kursi kecil. Meski kontribusinya tidak sebesar orang dewasa, kehadiran mereka menjadi pengingat betapa gotong royong adalah nilai yang ditanamkan sejak dini.
Gotong royong dalam pemasangan terop bukan hanya sekadar kegiatan sosial, tetapi juga sarana mempererat hubungan antarwarga. Banyak percakapan ringan yang terjadi di sela-sela pekerjaan—tentang kabar keluarga, rencana hajatan, bahkan berita-berita terbaru di kampung. Momen ini menjadi ajang silaturahmi yang memperkuat ikatan sosial, sesuatu yang terkadang sulit ditemukan dalam kehidupan modern yang serba sibuk.
Bagi masyarakat Sambogunung, keberhasilan memasang terop bukan hanya diukur dari kokohnya tiang atau rapi tidaknya kain penutup, tetapi dari kebersamaan yang tercipta selama prosesnya. Setiap paku yang dipasang, setiap kursi yang diangkat, dan setiap teriakan semangat adalah bukti bahwa mereka saling mendukung. Terop yang berdiri megah pada akhirnya bukan hanya tenda peneduh, melainkan simbol nyata bahwa tradisi gotong royong masih hidup dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika terop akhirnya berdiri tegak, seluruh warga merasa lega sekaligus bangga. Terlepas dari peluh yang menetes dan tenaga yang terkuras, ada kepuasan batin yang sulit digambarkan. Mereka tahu bahwa pekerjaan ini tidak hanya untuk kepentingan satu keluarga yang menggelar hajatan, tetapi juga untuk menjaga tradisi, membangun kebersamaan, dan meneguhkan jati diri masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Sambogunung Gresik memberikan pelajaran berharga: bahwa gotong royong bukan hanya cerita lama yang layak dikenang, melainkan praktik hidup yang terus dipertahankan. Pemasangan terop yang tampak sederhana sesungguhnya adalah cerminan filosofi masyarakat Indonesia—bahwa pekerjaan berat akan terasa ringan jika dilakukan bersama.