Pengalaman di Bandara Juanda: Sebuah Cerita Tentang Keberangkatan, Menunggu, dan Perjalanan



Pengalaman di Bandara Juanda: Sebuah Cerita Tentang Keberangkatan, Menunggu, dan Perjalanan

Saya selalu percaya bahwa bandara adalah semacam panggung kecil bagi drama kehidupan. Di sana, setiap orang memerankan peran yang berbeda-beda: ada yang tergesa-gesa, ada yang terlalu santai, ada yang tampak bersemangat, dan tidak jarang ada yang menahan air mata. Perjalanan udara bukan hanya soal berpindah dari satu kota ke kota lain, tetapi tentang apa yang kita bawa di kepala dan dada sebelum benar-benar meninggalkan daratan.

Hari itu, saya tiba di Bandara Internasional Juanda di Surabaya dengan tas yang tidak terlalu besar dan sebuah buku panduan yang cukup menarik perhatian. Di halaman depannya tertulis besar: "Terima Kasih". Awalnya, saya tidak terlalu memikirkan maknanya, tetapi justru tulisan itu menjadi semacam simbol sederhana tentang perjalanan—entah itu terima kasih kepada tempat yang saya tinggalkan, orang yang saya temui, atau mungkin kepada diri sendiri karena telah berani melangkah.

Bandara Juanda, sebagaimana saya kenal dari beberapa kali kunjungan sebelumnya, selalu memiliki ritme yang sulit dijelaskan. Tidak secepat Jakarta, tetapi jauh dari kata sepi. Terminal keberangkatan sore itu terasa cukup hidup. Orang-orang datang dan pergi dengan koper yang menggelinding di lantai atau tas jinjing yang tampak sudah kelelahan menemani perjalanan panjang.

Lampu-lampu di plafon memberikan suasana hangat namun tegas. Warna cahayanya bukan kuning nostalgia, tetapi putih terang yang mengingatkan bahwa bandara adalah ruang logistik—tempat segalanya harus berjalan efisien. Meskipun begitu, saya tidak bisa mengabaikan elemen emosionalnya: bandara adalah jeda, titik sebelum loncatan berikutnya.


Menjejak Terminal: Aromanya Perjalanan

Begitu kaki saya memasuki terminal, hal pertama yang saya sadari bukan visualnya, melainkan aromanya. Ada campuran bau kopi dari kedai yang tidak terlalu jauh, sedikit aroma parfum traveler yang lewat, ditambah sentuhan antiseptik dan pendingin udara. Campuran yang aneh tapi familiar—aroma bandara selalu punya karakter sendiri.

Saya mengarahkan pandangan ke papan informasi penerbangan. Barisan huruf dan angka yang bergerak menggugah rasa penasaran. Penerbangan menuju Jakarta, Denpasar, Balikpapan, Makassar, dan beberapa kota lain tampak bergantian ter-update. Nama-nama kota itu seolah menjadi pintu-pintu kemungkinan: setiap tujuan punya cerita, punya orang-orang yang menunggu, punya rencana yang disusun rapi atau spontan.

Dalam perjalanan kali ini, saya tidak tergesa. Boarding masih lama, dan saya justru menikmati momentum menunggu yang sering dihindari banyak orang. Waktu tunggu bagi saya adalah kesempatan untuk mengamati, berpikir, dan terkadang menghibur diri dengan imajinasi liar tentang ke mana semua orang di sekitar saya akan pergi.


Buku, Traveler, dan Ruang Transit

Sambil berjalan, saya melihat buku panduan yang saya genggam. Buku itu tipis, dengan desain ilustrasi yang lucu—ada gambar pesawat, antrian penumpang, koper, dan seorang petugas yang tersenyum. Ada sesuatu yang ironis dari buku itu; seolah ia tahu betapa rumitnya perjalanan, tetapi memilih untuk menggambarkannya dalam warna-warna ceria.

Saya duduk di salah satu bangku ruang tunggu dan membuka beberapa halaman. Buku itu tidak sepenuhnya informatif. Justru isinya lebih seperti pesan-pesan kecil tentang cara menikmati perjalanan: "Berterima kasih kepada perjalanan berarti mengakui bahwa kita selalu kembali sebagai versi baru dari diri kita." Saya mengangguk kecil. Ada kebenaran di situ.

Traveler lain di sekitar saya memiliki ritual tunggu masing-masing. Seorang bapak membaca koran fisik—sesuatu yang semakin jarang saya lihat. Seorang ibu muda sibuk merapikan barang di tas bayi sambil sesekali menenangkan anaknya. Dua orang mahasiswa berbicara cepat sambil tertawa, mungkin tentang liburan atau tugas kuliah. Dan seorang pekerja dengan jas tipis berbicara melalui ponsel dengan nada serius: pasti negosiasi kerja yang belum selesai meski ia sudah di bandara.

Saya suka mengamati mereka, bukan karena ingin tahu, tetapi karena saya sadar bahwa bandara adalah potret kecil kehidupan. Kita semua menuju sesuatu, namun dalam cara yang sangat berbeda.


Bandara dan Waktu yang Mengembang

Ada satu hal yang tidak pernah berubah dari bandara: rasa bahwa waktu berjalan dengan ritmenya sendiri. Kadang cepat, kadang lambat, kadang tidak terasa. Sambil menunggu, saya melihat jam tangan dan menyadari bahwa saya sudah berada di terminal hampir satu jam tanpa menyadarinya. Saya sibuk menikmati prosesnya.

Saya menyandarkan tubuh pada kursi, merasakan hawa pendingin udara yang stabil. Ruang tunggu tidak ramai, tetapi juga tidak kosong. Perasaan aman yang nyaman. Sesekali suara pengumuman menggema: instruksi boarding, informasi gate, panggilan terakhir bagi penumpang yang terlambat—dengan nada sopan namun tegas.

Setiap kali pengumuman "last call" terdengar, saya membayangkan seseorang berlari kecil sambil menahan napas karena hampir tertinggal pesawat. Selalu ada sosok seperti itu di bandara, dan entah mengapa saya senang memikirkan bahwa tidak semua jadwal berjalan sempurna. Ketidaksempurnaan membuat perjalanan terasa lebih nyata.


Mengamati Tanpa Terlibat

Saya bukan tipe traveler yang gelisah. Saya tidak merasakan urgensi untuk berdiri, menghitung menit, atau memeriksa boarding pass setiap lima menit. Saya lebih menikmati berada di antara orang-orang tanpa ikut masuk dalam dinamika mereka.

Dari kursi tempat saya duduk, garis pandang saya mengarah ke pintu kaca yang memperlihatkan sedikit bayangan apron bandara tempat pesawat parkir. Meski visualnya tidak sangat jelas, pemandangan itu seperti jaminan bahwa perjalanan itu nyata—bahwa saya benar-benar akan pergi ke suatu tempat setelah momen hening ini selesai.

Saya memperhatikan bagian plafon: panel-panel lampu yang tersusun rapi, kisi-kisi ventilasi, serta tekstur langit-langit yang menyerupai ribuan perjalanan yang pernah terjadi sebelumnya. Ada semacam arsitektur fungsi di sana—tidak untuk memukau, tetapi untuk mendukung alur bandara yang penuh logika.



PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI - JUAL BELI BLOG - JUAL BLOG UNTUK KEPERLUAN DAFTAR ADSENSE - BELI BLOG BERKUALITAS - HUBUNGI KAMI SEGERA

Post a Comment

Support By Yahoo!
Support By Bing

Previous Post Next Post