Pemprov DKI Perbaiki 8 Tanggul Jebol di Jakarta Selatan Gunakan Dana Tak Terduga
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bergerak cepat memperbaiki delapan tanggul yang jebol di wilayah Jakarta Selatan setelah hujan deras disertai angin kencang melanda pada akhir Oktober 2025. Langkah cepat ini dilakukan dengan memanfaatkan dana tak terduga (DTT) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI 2025, guna mencegah meluasnya dampak banjir ke kawasan permukiman warga.
Latar Belakang: Curah Hujan Tinggi dan Kelemahan Struktur
Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah Jakarta Selatan diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Aliran air dari Bogor dan Depok turut memperbesar debit sungai yang melintasi Jakarta, termasuk Kali Krukut, Kali Grogol, dan Ciliwung. Akibatnya, sejumlah tanggul di wilayah Kebayoran Lama, Jagakarsa, Cilandak, dan Pasar Minggu mengalami kerusakan parah.
Menurut keterangan Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, sebagian besar tanggul yang jebol merupakan tanggul lama yang dibangun lebih dari 10 tahun lalu dan belum sempat diperkuat kembali. Tekanan air yang besar dan sedimentasi yang menumpuk menyebabkan struktur tanggul melemah hingga akhirnya roboh.
Lokasi dan Skala Kerusakan
Delapan titik tanggul yang jebol di antaranya berada di:
1. Tanggul Kali Krukut – Kebayoran Lama
2. Tanggul Ciliwung – Pejaten Timur, Pasar Minggu
3. Tanggul Kali Grogol – Cilandak Barat
4. Tanggul Setu Babakan – Jagakarsa
5. Tanggul Pesanggrahan – Ulujami
6. Tanggul Cinere Raya – Pondok Labu
7. Tanggul Kali Cabang Krukut – Cipete Utara
8. Tanggul Rawajati – Pancoran
Kerusakan bervariasi, mulai dari retak selebar 20 cm hingga ambles sepanjang lebih dari 25 meter. Beberapa tanggul bahkan menyebabkan air meluap ke jalan dan permukiman, menimbulkan genangan hingga 60 cm di beberapa RW.
Pemprov DKI Gunakan Dana Tak Terduga
Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menyatakan bahwa perbaikan delapan tanggul tersebut tidak bisa menunggu proses penganggaran reguler. Oleh karena itu, dana tak terduga (DTT) digunakan untuk mempercepat penanganan darurat.
> "Tanggul-tanggul yang jebol ini harus segera diperbaiki karena berpotensi menyebabkan banjir besar. Kita gunakan dana tak terduga untuk penanganan darurat agar tidak menunggu proses tender panjang," ujar Heru dalam konferensi pers di Balai Kota.
Dinas SDA DKI Jakarta telah menurunkan tim tanggap darurat sejak awal November dengan melibatkan petugas dari PPSU, Satgas SDA, serta bantuan alat berat dari Dinas Bina Marga.
Tahapan Perbaikan
Kepala Dinas SDA, Yusmada Faizal, menjelaskan bahwa penanganan dilakukan dalam dua tahap:
1. Tahap Darurat (1–2 minggu):
Menutup tanggul jebol dengan karung pasir dan bronjong batu.
Memasang pompa portabel di lokasi genangan.
Menurunkan alat berat untuk memperkuat sisi luar tanggul.
2. Tahap Permanen (2–3 bulan):
Rekonstruksi tanggul menggunakan beton bertulang.
Pemasangan sistem penguat lereng dan drainase vertikal.
Pembersihan sedimentasi dan normalisasi sungai sekitar lokasi.
Total anggaran yang dialokasikan sementara melalui DTT mencapai Rp 35 miliar, namun bisa bertambah tergantung tingkat kerusakan di lapangan.
Dampak bagi Warga dan Respons Cepat
Warga di sekitar lokasi tanggul jebol sempat panik saat air meluap pada malam hari. Namun, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Pemerintah kota setempat menyiapkan tempat pengungsian sementara di beberapa titik RW, serta membagikan logistik dasar berupa makanan siap saji, air bersih, dan selimut.
Selain itu, BPBD DKI Jakarta juga menyiagakan posko siaga banjir di wilayah terdampak. Heru Budi menegaskan bahwa koordinasi lintas dinas terus dilakukan agar tanggul yang diperbaiki bisa lebih tahan terhadap tekanan air di masa mendatang.
Perencanaan Jangka Panjang
Pemprov DKI kini tengah memetakan kondisi seluruh tanggul di wilayah Jakarta. Berdasarkan catatan Dinas SDA, terdapat lebih dari 480 titik tanggul yang memerlukan perkuatan struktur. Pemerintah berencana melakukan audit konstruksi secara bertahap, terutama di wilayah rawan banjir seperti Jakarta Selatan dan Timur.
Program Jakarta Resilient Flood 2030, yang bekerja sama dengan Kementerian PUPR dan JICA (Japan International Cooperation Agency), juga akan difokuskan untuk memperkuat tanggul sungai besar seperti Ciliwung, Angke, dan Pesanggrahan.
> "Bukan hanya perbaikan darurat, tapi juga modernisasi sistem tanggul dan pintu air agar Jakarta lebih tangguh terhadap cuaca ekstrem," tambah Yusmada.
Harapan ke Depan
Warga berharap pemerintah tidak hanya memperbaiki tanggul yang rusak, tetapi juga rutin melakukan inspeksi dan pemeliharaan berkala. Kondisi curah hujan yang tidak menentu akibat perubahan iklim membuat risiko tanggul jebol semakin besar jika tidak diantisipasi.
Pemprov DKI berjanji akan memprioritaskan perkuatan infrastruktur air dan pengendalian banjir dalam APBD 2026, termasuk pembangunan kolam retensi baru dan sistem deteksi dini di bantaran sungai.
---
Kesimpulan:
Perbaikan delapan tanggul jebol di Jakarta Selatan dengan menggunakan dana tak terduga menunjukkan langkah cepat dan tanggap Pemprov DKI dalam menghadapi potensi banjir. Meski demikian, penanganan jangka panjang tetap diperlukan agar kejadian serupa tidak berulang. Kombinasi antara perbaikan fisik, pengawasan lingkungan, dan kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk menjadikan Jakarta lebih aman dari bencana banjir.