---
Sambutan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di Acara Lirboyo Bersholawat 2025: Menebar Cinta Rasul di Tanah Para Ulama
Setiap tahun, Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri menjadi pusat perhatian umat Islam Indonesia, terutama pada bulan Oktober, saat momentum peringatan Hari Santri Nasional digelar. Pada tahun 2025 ini, suasana peringatan terasa semakin istimewa. Ribuan santri dan jamaah dari berbagai daerah memenuhi halaman pesantren yang telah dihiasi bendera hijau dan putih, simbol kedamaian dan cinta Rasulullah ﷺ.
Malam itu, udara Kediri terasa sejuk dan penuh ketenangan. Dentuman rebana, sorak takbir, dan gema sholawat mengisi langit Lirboyo. Semua hati larut dalam kerinduan pada junjungan Nabi Muhammad ﷺ. Di tengah suasana khidmat itu, sosok yang sangat dinanti-nantikan akhirnya hadir di panggung utama: Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, ulama karismatik asal Kota Solo, yang dikenal di seluruh Nusantara sebagai dai pembawa pesan cinta dan perdamaian melalui lantunan sholawat.
---
🌙 Kedatangan Sang Habib
Habib Syech tiba di halaman utama Pondok Lirboyo sekitar pukul 20.00 WIB. Beliau disambut oleh para masyayikh sepuh seperti KH. Anwar Manshur, KH. Miftahul Achyar, serta ribuan santri yang berbaris rapi dengan membawa obor dan bendera bertuliskan kalimat tauhid.
Suasana menjadi sangat haru ketika Habib Syech turun dari mobil dan langsung menundukkan kepala mencium tangan para kiai. Adegan itu menjadi simbol penghormatan dan ketawadhuan yang tinggi — ciri khas para ulama sejati.
Para santri bersorak gembira, menyambut dengan lantunan "Marhaban yaa Nuural 'Aini" yang menggema dari seluruh penjuru. Banyak jamaah yang meneteskan air mata karena merasa seakan mendapat keberkahan dari kehadiran beliau di pondok yang penuh sejarah itu.
---
🕌 Sambutan Awal: Ucapan Syukur dan Pujian untuk Ulama Lirboyo
Ketika mikrofon diserahkan, Habib Syech membuka sambutannya dengan suara lembut namun penuh wibawa:
> "Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin, malam ini Allah kumpulkan kita di tempat yang penuh barokah, di bumi para ulama, di pesantren Lirboyo yang harum namanya. Semoga setiap langkah kita ke tempat ini dicatat sebagai amal sholeh oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Beliau memuji kiprah Pondok Pesantren Lirboyo sebagai benteng Ahlussunnah wal Jamaah yang telah melahirkan ribuan ulama, kiai, dan mubaligh. Menurut Habib Syech, keberadaan pesantren seperti Lirboyo adalah penopang utama keberlangsungan Islam di Indonesia.
> "Lirboyo bukan hanya tempat ngaji, tapi bentengnya akidah, tempat lahirnya pejuang Islam yang istiqamah menjaga ajaran Rasulullah ﷺ," tutur Habib Syech disambut takbir dan gemuruh tepuk tangan jamaah.
---
📖 Makna Santri dalam Pandangan Habib Syech
Dalam sambutan yang berdurasi lebih dari dua puluh menit itu, Habib Syech banyak menyoroti peran strategis santri di era modern. Ia menegaskan bahwa menjadi santri bukan sekadar belajar kitab kuning atau menghafal doa, tetapi juga memahami tanggung jawab besar terhadap agama dan bangsa.
> "Santri itu adalah penjaga akhlak bangsa. Kalau santri rusak, rusaklah moral masyarakat. Tapi kalau santri kuat, maka Indonesia akan kuat. Karena di tangan para santri ada cahaya ilmu dan adab."
Beliau menambahkan bahwa santri harus menjadi generasi yang melek teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman. Di era digital yang serba cepat, santri dituntut untuk bijak dalam menggunakan media sosial.
> "Gunakan HP-mu untuk dakwah, bukan untuk maksiat. Gunakan media sosial untuk menyebarkan sholawat, bukan untuk mencaci maki. Jadilah santri yang membawa ketenangan, bukan kegaduhan."
Pesan ini terasa sangat relevan dengan kondisi zaman sekarang, di mana informasi seringkali disalahgunakan untuk menebar kebencian dan fitnah.
---
💖 Pesan Spiritual: Cinta Rasul sebagai Kunci Kebahagiaan
Salah satu bagian paling menggetarkan dari sambutan Habib Syech adalah ketika beliau berbicara tentang cinta kepada Rasulullah ﷺ. Dengan nada lembut, beliau mengajak jamaah untuk selalu menanamkan kecintaan sejati kepada Nabi di dalam hati.
> "Kalau kalian ingin bahagia dunia akhirat, cintailah Rasulullah. Jadikan sholawat sebagai napas kehidupan. Karena sholawat itu bukan hanya suara, tapi nur yang menerangi hati."
Beliau menegaskan bahwa siapa pun yang istiqamah bersholawat akan memperoleh kedamaian, karena sholawat merupakan bentuk cinta yang paling mulia.
> "Kalau kamu rindu Rasulullah, bacalah sholawat. Kalau kamu ingin hidupmu berkah, perbanyak sholawat. Karena sholawat itu tali penghubung antara hamba dan kekasih Allah."
Setelah ucapan tersebut, suasana berubah sangat haru. Ribuan santri menundukkan kepala, air mata jatuh perlahan. Kemudian Habib Syech memimpin lantunan Sholawat Thibbil Qulub yang diikuti oleh seluruh jamaah dengan iringan rebana yang lembut.
Gema "Shollu 'alan Nabi Muhammad..." bergema hingga menembus langit malam Kediri.
---
🌿 Meneladani Ulama dan Menjaga Tradisi Pesantren
Habib Syech juga berpesan agar para santri tidak meninggalkan tradisi pesantren yang sudah diwariskan oleh para ulama. Beliau mengingatkan bahwa modernisasi tidak boleh menghapus adab dan warisan spiritual.
> "Sekarang banyak orang pintar, tapi tidak beradab. Banyak yang hafal ayat, tapi mudah mencaci. Kalian, para santri Lirboyo, harus berbeda. Jadilah orang yang berilmu tapi rendah hati, punya semangat tapi tetap tawadhu."
Beliau mencontohkan para masyayikh Lirboyo seperti KH. Anwar Manshur dan KH. Marzuqi Dahlan sebagai sosok yang tidak hanya berilmu tinggi tetapi juga penuh kasih dan keteladanan.
> "Dari Lirboyo lahir ulama-ulama yang membawa kedamaian. Kalian harus meniru akhlak mereka. Karena akhlak itulah mahkota ilmu."
---
🌸 Lirboyo Bersholawat: Puncak Cinta dan Ukhuwah
Usai sambutan, acara berlanjut dengan majelis Lirboyo Bersholawat. Habib Syech memimpin langsung syair-syair pujian kepada Nabi bersama grup Ahbabul Musthofa dan ribuan jamaah Syekhermania.
Lagu-lagu seperti Ya Hanana, Padang Bulan, dan Assalamu 'Alaik bergantian dilantunkan, membuat suasana semakin syahdu.
Sambil mengibarkan bendera bertuliskan "Allah – Muhammad", para santri tampak tenggelam dalam kenikmatan dzikir dan sholawat.
Habib Syech sesekali menghentikan lagu dan menyampaikan nasihat singkat di sela-sela lantunan:
> "Kalau kalian ingin hati tenang, jangan tinggalkan sholat. Kalau ingin hidup lapang, jangan berhenti bersyukur. Dan kalau ingin dekat dengan Rasulullah, jangan pernah berhenti bersholawat."
Malam itu, halaman Lirboyo berubah menjadi lautan manusia yang bergetar oleh kalimat "Allahumma shalli 'ala Muhammad..."
Banyak jamaah mengaku, mereka merasakan ketenangan luar biasa — seolah seluruh beban hidup larut dalam irama cinta kepada Nabi.
---
🌟 Doa Penutup Habib Syech untuk Santri dan Negeri
Menjelang akhir acara, Habib Syech mengangkat kedua tangannya. Semua jamaah ikut menengadahkan tangan, suasana hening seketika. Beliau memimpin doa penutup dengan bahasa Arab yang lembut dan penuh kekhusyukan.
📜 Teks Doa Habib Syech (Arab):
> اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ،
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ،
فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللّهُمَّ اجْعَلْ بِلَادَنَا إِندُونِيسْيَا بِلَادًا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً،
سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ،
وَاحْفَظْ عُلَمَاءَنَا وَمَشَايِخَنَا، وَبَارِكْ فِي ذُرِّيَاتِهِمْ،
وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْحُبِّ وَالشَّوْقِ إِلَى رَسُولِكَ الْمُصْطَفَى ﷺ،
وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، وَاجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللّٰهِ.
🇮🇩 Terjemahan Doa:
> "Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarga beliau,
sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.
Limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya,
sebagaimana Engkau telah memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarganya di seluruh alam.
Ya Allah, jadikanlah negeri kami Indonesia negeri yang aman, tenteram, penuh rezeki, dan berkah,
serta limpahkan pula rahmat-Mu atas seluruh negeri kaum Muslimin.
Peliharalah para ulama dan guru-guru kami, berkahilah keturunan mereka,
dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang penuh cinta dan rindu kepada Rasul-Mu Muhammad ﷺ.
Akhiri hidup kami dengan husnul khatimah,
dan jadikanlah kalimat terakhir dari lisan kami saat mati nanti adalah Laa Ilaaha Illallah, Muhammadur Rasulullah."
Setelah doa berakhir, suasana masih hening. Banyak jamaah yang menangis, sementara Habib Syech menunduk khusyuk dengan wajah teduh.
---
🕊️ Kesan Mendalam dari Jamaah
Seorang santri asal Kalimantan Timur mengatakan kepada panitia,
> "Saya merasa seolah hati saya dicuci malam ini. Suara Habib Syech menembus hati, dan sholawat membuat saya semakin mencintai Nabi."
Banyak jamaah mengaku perjalanan jauh mereka terbayar lunas dengan ketenangan batin yang mereka rasakan.
Sementara itu, KH. Anwar Manshur, dalam sambutannya menutup acara, mengucapkan terima kasih kepada Habib Syech:
> "Habib Syech tidak hanya datang membawa suara, tetapi membawa ruh cinta Rasul. Semoga Lirboyo Bersholawat menjadi majelis yang mengangkat derajat kita semua di sisi Allah."
---
🌼 Penutup: Cahaya dari Lirboyo untuk Indonesia
Acara Lirboyo Bersholawat 2025 bukan sekadar peringatan Hari Santri, tetapi juga momentum spiritual yang meneguhkan kembali pentingnya cinta, adab, dan akhlak dalam kehidupan.
Sambutan Habib Syech Assegaf menjadi pengingat bahwa santri bukan sekadar pelajar, tetapi penjaga agama dan moral bangsa.
Melalui lantunan sholawat yang indah, Lirboyo mengirimkan pesan damai ke seluruh Nusantara:
bahwa kekuatan Islam Indonesia terletak pada cinta, persaudaraan, dan keikhlasan.
Malam itu, di bawah langit Kediri yang temaram, gema suara Habib Syech masih terngiang:
> "Cintailah Rasulullah, maka Allah akan mencintaimu.
Bersholawatlah setiap hari, maka hatimu akan hidup selamanya."
Dan demikianlah, Lirboyo kembali menjadi saksi bahwa dari pesantren, cahaya Islam terus bersinar — menembus batas waktu dan menyinari seluruh negeri.
---