MENANTI DENGAN SABAR DI RUMAH SAKIT SITI KHODIJAH



---

MENANTI DENGAN SABAR DI RUMAH SAKIT SITI KHODIJAH

Sebuah Renungan Tentang Kesabaran, Kehidupan, dan Arti Menunggu


---

1. Suasana Pagi di Rumah Sakit

Langit Surabaya pagi itu terlihat cerah. Udara lembab bercampur aroma antiseptik khas rumah sakit menyambut setiap langkah yang masuk melewati pintu utama Rumah Sakit Siti Khodijah. Di antara hiruk pikuk lalu-lalang perawat dan pengunjung, seorang pria duduk tenang di kursi ruang tunggu. Wajahnya menatap ke depan, seolah merenungkan sesuatu yang tak terlihat oleh mata orang lain.

Di dinding belakangnya, tertera tulisan "Rumah Sakit Siti Khodijah" — nama yang dikenal luas sebagai simbol pelayanan kesehatan yang humanis dan islami. Suasana tampak hening, namun dalam keheningan itu tersimpan banyak cerita. Setiap orang di ruangan itu membawa harapannya masing-masing: ada yang menanti kesembuhan, ada yang menunggu kabar, ada pula yang sekadar menemani.

Pria itu duduk tegak, mengenakan pakaian sederhana. Sorot matanya teduh, tapi menyimpan ketegasan. Di pundaknya tergantung tas selempang hitam — mungkin berisi dokumen, obat, atau hanya barang pribadi. Tak banyak gerakan, namun setiap detik dari diamnya seperti berbicara tentang ketabahan dan penerimaan.


---

2. Seni dari Sebuah Penantian

Menunggu adalah seni yang sulit dikuasai manusia. Di era serba cepat ini, waktu seolah menjadi musuh. Namun di ruang tunggu rumah sakit, semua orang belajar untuk berhenti sejenak. Detik demi detik berjalan perlahan, menuntut kesabaran yang tidak semua orang mampu jaga.

Pria itu, tanpa kata-kata, mengajarkan tentang keikhlasan. Ia tak mengeluh, tak gelisah, hanya duduk dan menatap dinding putih yang bersih. Di hatinya mungkin ada doa, harapan, dan sedikit kekhawatiran — seperti manusia pada umumnya. Tapi wajahnya tetap tenang, menggambarkan keyakinan bahwa setiap ujian pasti ada akhirnya.

Menunggu bukan berarti pasrah tanpa makna. Justru di situlah seseorang belajar mengenal dirinya. Dalam diam, manusia berdialog dengan hati. Dalam sepi, seseorang mendengarkan suara Tuhan yang selama ini tertutup oleh bising dunia.


---

3. Rumah Sakit Sebagai Cermin Kehidupan

Rumah sakit adalah tempat yang mempertemukan kehidupan dan kematian, harapan dan ketakutan, tawa dan air mata. Di sanalah manusia diingatkan akan hakikat keberadaannya: bahwa kita hanyalah makhluk yang lemah, bergantung pada kasih dan kuasa Allah.

Di ruang tunggu itu, setiap wajah memiliki kisah. Ada ibu yang menggenggam erat tangan anaknya yang sedang sakit, ada ayah yang menatap layar ponsel dengan cemas menunggu kabar dari ruang operasi, dan ada pria itu — duduk diam, tapi penuh makna.

Rumah sakit bukan hanya tempat berobat, tetapi tempat belajar tentang arti hidup. Di sinilah kita sadar bahwa kesehatan bukan sekadar tubuh yang kuat, melainkan keseimbangan antara raga, jiwa, dan iman. Setiap pasien yang datang membawa cerita perjuangan, dan setiap pengunjung membawa doa.


---

4. Tatapan Seorang Pria

Jika diperhatikan lebih dalam, tatapan pria itu bukanlah tatapan kosong. Ada ketenangan yang lahir dari pengalaman panjang. Mungkin ia sudah sering melalui masa-masa sulit, mungkin ia sudah terbiasa berhadapan dengan ujian, atau mungkin ia hanya sedang menenangkan hati yang sedang khawatir.

Ia tidak mengenakan jas dokter, bukan pula pasien dengan seragam rumah sakit. Ia hanya seorang manusia biasa — tapi dalam kebiasaannya itu tersimpan kekuatan luar biasa: kesabaran.

Kesabaran adalah teman setia yang tak banyak dipuja orang. Ia jarang dibicarakan, tapi selalu dibutuhkan. Dalam kesabaran, seseorang belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa terjadi sesuai keinginan. Ada waktu yang harus dilalui, ada proses yang tidak bisa dilompati.


---

5. Saat Waktu Seakan Berhenti

Di rumah sakit, waktu seolah memiliki ritme berbeda. Satu jam bisa terasa seperti sehari. Suara detak jam dinding menjadi pengingat bahwa waktu tetap berjalan meski hati terasa berhenti di satu titik harapan.

Pria itu masih di tempatnya. Ia memperbaiki posisi duduk, menarik napas panjang, lalu menatap dinding dengan tulisan "Siti Khodijah" di atas ubin. Nama itu bukan sekadar nama rumah sakit — melainkan simbol ketulusan dan pengabdian. Siti Khodijah adalah sosok istri Rasulullah yang dikenal karena kesetiaannya, kedermawanannya, dan kekuatannya dalam menghadapi ujian hidup.

Mungkin nama itu menjadi pengingat bagi setiap orang yang datang ke tempat ini, bahwa kasih, kesabaran, dan keikhlasan selalu menjadi obat terbaik.


---

6. Di Balik Tatapan yang Tenang

Tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu. Namun dari wajahnya, tersirat keteguhan. Ia bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dalam diamnya ada kekuatan, dalam tenangnya ada keyakinan. Ia mungkin sedang menunggu hasil pemeriksaan keluarga, atau mungkin dirinya sendiri sedang berjuang melawan penyakit yang tak kasat mata.

Namun apa pun ceritanya, ia telah mengajarkan makna penting: bahwa kesabaran adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan emosional. Menunggu tanpa marah, berharap tanpa gelisah, dan percaya tanpa putus asa.


---

7. Sebuah Pelajaran tentang Hidup

Banyak orang yang datang ke rumah sakit hanya ingin sembuh secara fisik. Tapi jarang yang sadar bahwa rumah sakit juga menyembuhkan hati. Melihat pasien lain, mendengar cerita perjuangan, dan menyaksikan ketulusan para tenaga medis — semuanya mengubah cara pandang kita terhadap hidup.

Pria itu mungkin datang hanya untuk urusan medis, tapi tanpa sadar, ia sedang menjalani proses spiritual: merenungkan kembali arti kesehatan, kehidupan, dan keikhlasan.

Dalam setiap langkah menuju ruang pemeriksaan, ada doa yang tidak terucap. Dalam setiap duduk di kursi tunggu, ada harapan yang diam-diam tumbuh. Dalam setiap tatapan pada dinding rumah sakit, ada renungan yang membuat jiwa menjadi lebih tenang.


---

8. Arti Sebuah Kesembuhan

Kesembuhan tidak selalu berarti tubuh kembali normal. Terkadang, kesembuhan datang dalam bentuk penerimaan. Ketika seseorang bisa berdamai dengan keadaan, ketika hati mampu ikhlas, itulah tanda bahwa jiwa telah sembuh.

Pria itu, dalam ketenangannya, tampak seperti sudah melewati banyak badai hidup. Mungkin itu sebabnya ia terlihat begitu tenang. Ia tahu bahwa segala sesuatu akan berlalu, dan bahwa setiap ujian hanya sementara.

Rumah Sakit Siti Khodijah bukan hanya tempat penyembuhan fisik, tetapi juga tempat banyak orang belajar menjadi lebih kuat. Di sana, kesembuhan bukan hanya tentang tubuh, tetapi tentang jiwa yang siap menerima setiap takdir dengan lapang dada.


---

9. Sebuah Doa dalam Diam

Ketika dunia terlalu bising, doa yang diucapkan dalam diam menjadi jauh lebih bermakna. Pria itu menundukkan kepala sejenak. Entah apa yang ia bisikkan, tapi suasananya penuh keteduhan. Barangkali ia memohon kesembuhan, barangkali ia berterima kasih atas hari yang masih bisa dijalani.

Dalam momen itu, ruang tunggu terasa seperti tempat ibadah kecil. Tak ada imam, tak ada jamaah, hanya hati yang berbicara langsung kepada Tuhan. Dan itulah inti dari keimanan — hubungan pribadi antara manusia dan Sang Pencipta.


---

10. Penutup: Menunggu Adalah Bagian dari Hidup

Hari berganti siang, dan sinar matahari menerobos jendela ruang tunggu. Pria itu masih di tempatnya, kini dengan ekspresi yang sedikit lebih tenang. Mungkin kabar baik telah datang, mungkin juga belum — tapi yang jelas, ia telah memenangkan satu hal penting: pertempuran dengan dirinya sendiri.

Menunggu mengajarkan kita bahwa hidup bukan tentang kecepatan, melainkan tentang ketulusan menjalani proses. Di Rumah Sakit Siti Khodijah, seorang pria sederhana mengingatkan kita bahwa setiap momen, sekecil apa pun, bisa menjadi ruang untuk belajar dan memperkuat iman.

Di balik tatapan tenang itu, tersembunyi doa yang tak terucap — doa untuk kesembuhan, kedamaian, dan kekuatan menghadapi apa pun yang akan datang. Karena pada akhirnya, kesabaran adalah obat, dan harapan adalah tenaga yang membuat manusia tetap berdiri tegak.



PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI - JUAL BELI BLOG - JUAL BLOG UNTUK KEPERLUAN DAFTAR ADSENSE - BELI BLOG BERKUALITAS - HUBUNGI KAMI SEGERA

Post a Comment

Support By Yahoo!
Support By Bing

Previous Post Next Post