Bimtek perkoperasian di Hotel Luminor Sidoarjo
(6 - 8 Oktober 2025)
(6 - 8 Oktober 2025)
>"Semangat Kebersamaan dalam Penguatan Koperasi: Catatan dari Bapak Dadang Efendi di Bimtek Perkoperasian Sidoarjo 2025"
---
Semangat Kebersamaan dalam Penguatan Koperasi: Catatan dari Bapak Dadang Efendi di Bimtek Perkoperasian Sidoarjo 2025
Tanggal 6 Oktober 2025 menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang penuh makna bagi dunia perkoperasian di Kabupaten Sidoarjo. Di pagi yang cerah itu, suasana Hotel Luminor tampak ramai dan semarak. Para peserta dari berbagai koperasi berkumpul di aula utama dengan semangat belajar dan tekad untuk membawa perubahan positif bagi lembaga masing-masing. Salah satu sosok yang hadir dengan semangat dan kesungguhan luar biasa adalah Bapak Dadang Efendi, Ketua Koperasi Sejahtera Mandiri.
Sebagai seorang ketua koperasi yang telah lama bergelut dalam dunia usaha mikro dan pengembangan koperasi, Bapak Dadang memahami bahwa perubahan zaman menuntut pembaruan dalam cara berpikir dan cara mengelola organisasi. Itulah sebabnya beliau berkomitmen hadir dan aktif dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Perkoperasian Tahap II, yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik.
Bagi beliau, kegiatan seperti ini bukan sekadar acara formalitas atau rutinitas tahunan. Melainkan wadah nyata untuk memperkuat kapasitas para pengurus koperasi agar mampu menjawab tantangan zaman. Dunia koperasi, menurut beliau, sedang berada pada persimpangan penting: antara mempertahankan nilai-nilai tradisional gotong royong, dan menyesuaikannya dengan realitas ekonomi modern yang serba digital dan kompetitif.
Sejak pagi, suasana Hotel Luminor terasa hangat dan akrab. Para peserta saling bertegur sapa, beberapa di antaranya sudah saling mengenal dari kegiatan sebelumnya, sementara sebagian lain baru bertemu untuk pertama kali. Di tengah keramaian itu, Bapak Dadang tampak berdiri tenang, menyambut peserta lain dengan senyum ramah. Gaya kepemimpinannya yang bersahaja dan komunikatif membuat banyak peserta langsung merasa nyaman untuk berbincang dengannya.
Bimtek kali ini mengusung tema "Penguatan Manajerial untuk Koperasi yang Mandiri dan Berdaya Saing". Tema tersebut sangat relevan dengan kebutuhan koperasi masa kini. Kegiatan ini dirancang agar para pengurus tidak hanya memahami teori manajemen, tetapi juga mampu menerapkannya secara praktis dalam pengelolaan koperasi masing-masing.
Dalam sambutannya, perwakilan dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo menekankan pentingnya modernisasi sistem pengelolaan koperasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar kebersamaan dan solidaritas. Pesan itu terasa mengena bagi seluruh peserta, termasuk Bapak Dadang. Baginya, koperasi harus menjadi lembaga yang adaptif—mampu bergerak seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat, tanpa kehilangan jati diri.
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan antar peserta. Momen ini menjadi ajang berbagi pengalaman antar pengurus koperasi dari berbagai sektor: ada koperasi simpan pinjam, koperasi konsumen, koperasi pertanian, hingga koperasi sekolah. Setiap peserta membawa kisah perjuangan dan tantangan yang unik.
Ketika tiba giliran Bapak Dadang memperkenalkan diri, beliau menyampaikan dengan nada tenang namun penuh keyakinan:
> "Saya datang ke sini membawa semangat belajar dan semangat berbagi. Koperasi kami, Koperasi Sejahtera Mandiri, berkomitmen untuk terus berkembang dan menjadi contoh koperasi yang mandiri, profesional, dan tetap berpihak kepada kesejahteraan anggota."
Kalimat sederhana itu mendapat sambutan hangat dari peserta lain. Beberapa bahkan mencatatnya sebagai motivasi, karena cara beliau menyampaikan begitu tulus dan lugas.
Di sela-sela sesi diskusi awal, Bapak Dadang berbincang dengan beberapa peserta dari koperasi lain. Mereka bertukar cerita tentang tantangan dalam manajemen keuangan, strategi menjaga kepercayaan anggota, hingga persoalan umum seperti digitalisasi pencatatan transaksi. Dari situ, suasana belajar bersama mulai terbentuk secara alami—tidak kaku, penuh keterbukaan dan rasa ingin tahu.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian Bapak Dadang adalah bagaimana para narasumber menyampaikan materi dengan pendekatan yang kontekstual. Tidak hanya teori, tetapi juga disertai contoh nyata dari praktik koperasi sukses di berbagai daerah. Beliau mencatat banyak hal di buku kecil yang selalu dibawanya ke mana pun pergi. Menurut beliau, catatan kecil itu bukan sekadar dokumentasi, tapi menjadi pengingat dan sumber inspirasi untuk diterapkan di Koperasi Sejahtera Mandiri sepulang dari kegiatan.
Hari pertama ditutup dengan sesi motivasi yang membangkitkan semangat peserta. Narasumber mengingatkan bahwa koperasi bukan hanya entitas ekonomi, tetapi juga wadah sosial yang memperkuat rasa kebersamaan di masyarakat. Kata-kata itu sejalan dengan prinsip hidup Bapak Dadang: bahwa keberhasilan koperasi diukur bukan hanya dari laporan keuangan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh anggotanya.
Malam itu, setelah semua kegiatan selesai, suasana Hotel Luminor masih ramai. Beberapa peserta terlihat duduk di lobi, berbincang santai sambil menikmati kopi. Bapak Dadang pun ikut bergabung dalam perbincangan ringan itu. Beliau banyak mendengarkan cerita peserta lain, lalu sesekali memberikan pandangan yang menyejukkan. Gaya komunikasinya yang tenang membuat diskusi terasa produktif dan hangat.
Beliau juga sempat menyampaikan refleksi singkat kepada peserta lain:
> "Kita semua hadir di sini bukan hanya untuk belajar dari narasumber, tetapi juga untuk belajar satu sama lain. Setiap koperasi punya cerita dan keunikan, dan kalau kita saling berbagi, maka pengetahuan kita akan semakin kaya."
Ucapan itu menutup malam pertama dengan kesan mendalam. Banyak peserta yang kemudian menyadari bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar pelatihan teknis—ia menjadi ruang kebersamaan yang mempererat jaringan antar koperasi di Sidoarjo.
Keesokan harinya, semangat peserta tampak semakin tinggi. Materi hari kedua difokuskan pada penguatan manajemen keuangan dan tata kelola koperasi. Narasumber menjelaskan pentingnya transparansi, sistem pembukuan digital, dan akuntabilitas kepada anggota. Bagi Bapak Dadang, topik ini sangat relevan. Ia menyadari bahwa keberlanjutan koperasi sangat bergantung pada kepercayaan anggota, dan kepercayaan itu lahir dari tata kelola yang baik.
Sepanjang sesi, beliau aktif mencatat dan sesekali mengajukan pertanyaan. Salah satu pertanyaannya menarik perhatian narasumber dan peserta lain:
> "Bagaimana strategi membangun disiplin pelaporan keuangan di koperasi yang masih memiliki keterbatasan SDM dan fasilitas digital?"
Pertanyaan itu menggambarkan kepedulian beliau terhadap kondisi riil di lapangan. Narasumber pun memberikan jawaban yang komprehensif, menyarankan agar koperasi memulai dari langkah kecil: membangun budaya tertib administrasi secara manual, lalu bertahap beralih ke sistem digital dengan pendampingan.
Bapak Dadang mengangguk, mencatat dengan teliti, dan menambahkan catatan kecil: "Kedisiplinan lahir dari kebiasaan, bukan dari sistem. Sistem hanyalah alat bantu." Kalimat itu menjadi refleksi pribadi yang kelak ia sampaikan kepada pengurus Koperasi Sejahtera Mandiri setelah kembali ke daerah.
Siang hari, setelah sesi materi usai, peserta mengikuti kegiatan kelompok. Setiap kelompok diminta untuk membuat rancangan rencana aksi koperasi berdasarkan permasalahan yang mereka hadapi. Bapak Dadang ditunjuk sebagai ketua kelompok kecil yang terdiri dari lima orang peserta dari berbagai koperasi. Di situ tampak jelas karakter kepemimpinan beliau—tegas, komunikatif, dan terbuka terhadap ide orang lain.
Ia mengajak anggota kelompoknya untuk berbagi kendala yang mereka hadapi, lalu memfasilitasi diskusi agar setiap orang berkontribusi. Alih-alih mendominasi, beliau justru memberi ruang bagi peserta lain untuk berbicara lebih dulu. Sikap itu membuat suasana diskusi cair, produktif, dan menghasilkan rancangan aksi yang realistis.
Sore menjelang malam, kegiatan hari kedua ditutup dengan presentasi hasil kelompok. Kelompok yang dipimpin Bapak Dadang mendapat apresiasi karena presentasi mereka dinilai paling terstruktur dan aplikatif. Narasumber memuji bagaimana kelompok tersebut mampu mengidentifikasi masalah dengan jelas, sekaligus menyusun solusi yang dapat diterapkan.
Usai kegiatan, Bapak Dadang tampak berbincang santai dengan panitia dan beberapa peserta muda. Ia mendorong mereka untuk tetap semangat berkiprah di koperasi, karena menurut beliau, masa depan koperasi ada di tangan generasi muda yang kreatif dan terbuka terhadap inovasi.
Malam kedua di Hotel Luminor menjadi penutup yang hangat bagi seluruh peserta. Di tengah kesibukan pelatihan, suasana kekeluargaan tetap terasa. Beberapa peserta bahkan sempat berfoto bersama untuk kenang-kenangan. Di antara mereka, sosok Bapak Dadang berdiri dengan senyum tenang, mencerminkan rasa puas atas perjalanan dua hari yang penuh makna itu.
Hari ketiga kegiatan Bimbingan Teknis Perkoperasian di Hotel Luminor Sidoarjo menjadi puncak dari seluruh rangkaian pelatihan. Suasana pagi itu terasa istimewa. Udara Sidoarjo yang sejuk berpadu dengan semangat peserta yang semakin menyala. Mereka datang lebih awal, membawa semangat baru setelah dua hari penuh pembelajaran dan kebersamaan. Di antara para peserta itu, Bapak Dadang Efendi terlihat seperti biasa: tenang, ramah, dan siap mengikuti sesi hingga akhir dengan penuh perhatian.
Hari terakhir Bimtek difokuskan pada materi penguatan kepemimpinan dan strategi pengembangan koperasi berkelanjutan. Materi ini terasa sangat relevan bagi Bapak Dadang, yang selama ini berperan sebagai Ketua Koperasi Sejahtera Mandiri dan menjadi panutan bagi para anggota. Ia memandang bahwa menjadi pemimpin koperasi bukan sekadar mengatur, tetapi juga menumbuhkan semangat, kepercayaan, dan rasa memiliki di antara anggota.
Dalam sesi pertama, narasumber membahas tentang pentingnya visi dan misi yang kuat dalam manajemen koperasi. Banyak koperasi yang gagal berkembang bukan karena kekurangan modal, melainkan karena kehilangan arah dan semangat kebersamaan. Narasumber menekankan bahwa koperasi harus dipimpin oleh figur yang mampu menginspirasi, menuntun, dan menjadi teladan bagi anggota.
Pesan itu terasa mengena di hati Bapak Dadang. Ia teringat perjalanan panjang Koperasi Sejahtera Mandiri yang dulu berdiri dengan segala keterbatasan. Saat awal didirikan, koperasi tersebut hanya memiliki belasan anggota dan modal kecil. Namun dengan ketekunan dan semangat gotong royong, koperasi itu perlahan tumbuh, dipercaya oleh masyarakat sekitar, dan kini memiliki anggota yang semakin banyak.
Bagi Bapak Dadang, keberhasilan itu bukan semata hasil kerja keras pribadi, melainkan buah dari kebersamaan seluruh anggota. Ia percaya bahwa dalam koperasi, setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang sama pentingnya. Prinsip inilah yang selalu ia tanamkan dalam setiap rapat dan pertemuan anggota: bahwa koperasi bukan milik ketua atau pengurus saja, melainkan milik semua yang terlibat di dalamnya.
Pada sesi berikutnya, peserta diajak untuk melakukan simulasi kepemimpinan dan pemecahan masalah. Setiap kelompok diberi studi kasus mengenai tantangan yang sering dihadapi koperasi, seperti menurunnya partisipasi anggota, kendala arus kas, hingga konflik internal. Bapak Dadang kembali dipercaya menjadi juru bicara kelompoknya. Dalam penyampaian hasil diskusi, beliau menjelaskan dengan lugas bahwa kunci menghadapi setiap persoalan koperasi adalah komunikasi terbuka dan keterlibatan semua pihak dalam pengambilan keputusan.
Beliau menegaskan,
> "Dalam koperasi, setiap masalah harus diselesaikan bersama. Karena kalau satu bagian terluka, maka seluruh tubuh ikut merasakannya. Itulah makna sejati dari gotong royong."
Ucapan itu mendapat tepuk tangan hangat dari seluruh peserta. Banyak yang merasa bahwa kata-kata tersebut mewakili esensi sejati gerakan koperasi.
Setelah sesi simulasi, acara berlanjut dengan paparan mengenai transformasi digital koperasi. Narasumber menjelaskan berbagai peluang yang bisa dimanfaatkan melalui teknologi, seperti sistem pencatatan berbasis aplikasi, transaksi non-tunai, serta platform komunikasi digital antar anggota.
Bapak Dadang terlihat sangat antusias mengikuti topik ini. Ia memahami bahwa digitalisasi merupakan langkah penting untuk menjaga keberlanjutan koperasi. Namun, ia juga sadar bahwa tidak semua anggota siap dengan perubahan tersebut. Karena itu, beliau berpikir untuk menerapkan pendekatan bertahap: mulai dengan digitalisasi administrasi internal, lalu perlahan memperkenalkan sistem digital kepada anggota.
Dalam catatannya, beliau menulis: "Teknologi tidak boleh membuat koperasi kehilangan rasa kemanusiaannya. Digitalisasi adalah alat bantu, bukan pengganti nilai-nilai kebersamaan." Kalimat itu mencerminkan keseimbangan pandangannya antara modernisasi dan nilai-nilai sosial.
Menjelang siang, sesi materi formal berakhir dan peserta diarahkan untuk mengikuti kegiatan refleksi bersama. Di ruang pertemuan yang nyaman, seluruh peserta duduk melingkar. Narasumber mengajak setiap orang untuk berbagi pengalaman selama mengikuti Bimtek, termasuk hal-hal yang paling berkesan dan pelajaran yang akan dibawa pulang.
Ketika tiba gilirannya berbicara, Bapak Dadang berbicara dengan nada yang tenang namun penuh makna. Ia menceritakan betapa berharganya kesempatan mengikuti kegiatan ini, bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga memperluas jaringan dan memperkuat semangat.
> "Saya merasa sangat beruntung bisa hadir di sini. Dalam tiga hari ini, saya tidak hanya mendapatkan ilmu baru, tetapi juga semangat baru. Saya belajar banyak tentang arti kebersamaan, kepemimpinan, dan tanggung jawab moral seorang pengurus koperasi. Kegiatan ini mengingatkan saya bahwa koperasi tidak bisa berjalan sendiri. Ia hanya bisa tumbuh kalau ada kerja sama dan saling percaya."
Kata-kata itu diikuti suasana hening sejenak. Banyak peserta yang mengangguk dan tersenyum, menyadari bahwa pengalaman mereka selama tiga hari memang lebih dari sekadar pelatihan teknis.
Sesi refleksi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kesan dan pesan dari peserta lain. Beberapa menyampaikan rasa terima kasih kepada panitia dan narasumber, sementara yang lain mengungkapkan keinginan agar kegiatan seperti ini bisa terus dilanjutkan di masa depan.
Bagi Bapak Dadang, momen refleksi itu menjadi kesempatan untuk meneguhkan kembali komitmennya terhadap pengembangan Koperasi Sejahtera Mandiri. Dalam hatinya, beliau merasa semakin yakin bahwa tanggung jawab sebagai ketua bukan hanya mengelola keuangan atau membuat laporan tahunan, tetapi juga menjadi penjaga nilai dan semangat kebersamaan di dalam koperasi.
Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan penutupan resmi kegiatan Bimtek. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Beliau menekankan bahwa koperasi adalah pilar penting dalam perekonomian rakyat, dan para pengurus koperasi harus terus belajar agar mampu menghadapi tantangan zaman.
Dalam acara penutupan itu, Bapak Dadang menerima sertifikat keikutsertaan yang diserahkan langsung oleh perwakilan dinas. Saat menerima sertifikat tersebut, senyum hangat terlihat di wajah beliau. Bukan karena simbol penghargaan itu semata, tetapi karena rasa bangga telah berproses dan belajar bersama rekan-rekan seperjuangan.
Usai acara resmi, para peserta saling berpamitan. Banyak yang saling bertukar nomor telepon, alamat email, dan janji untuk tetap berkomunikasi. Bapak Dadang termasuk salah satu yang paling aktif menjalin hubungan baru. Ia percaya bahwa jaringan antar koperasi ini akan menjadi modal sosial yang berharga di masa depan.
Sebelum meninggalkan hotel, beliau menyempatkan diri berdiri sejenak di lobi, memandang suasana sekitar yang perlahan mulai lengang. Di benaknya terlintas berbagai ide dan rencana yang ingin ia bawa pulang ke koperasinya. Ia merasa seperti mendapat energi baru untuk memperkuat sistem manajemen, membangun kedisiplinan administrasi, serta mendorong partisipasi anggota secara lebih aktif.
Dalam perjalanan pulang, Bapak Dadang merenungkan kembali seluruh pengalaman selama tiga hari. Ia menyadari bahwa setiap momen, setiap pertemuan, dan setiap pembelajaran memiliki makna tersendiri. Ia teringat kembali suasana kebersamaan saat berdiskusi, tawa ringan saat istirahat kopi, hingga kesungguhan peserta saat menyimak materi. Semua itu menjadi bagian dari proses yang memperkaya dirinya, baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin koperasi.
Setibanya di tempat asal, beliau langsung mengumpulkan pengurus inti Koperasi Sejahtera Mandiri. Di ruang rapat sederhana namun penuh semangat, ia mulai berbagi cerita tentang hasil pelatihan. Dengan nada yang penuh antusias, beliau menceritakan isi materi, pandangan para narasumber, dan gagasan-gagasan baru yang bisa diterapkan di koperasi.
Salah satu hal yang paling ditekankan oleh Bapak Dadang kepada timnya adalah pentingnya transparansi dan disiplin administrasi. Ia menegaskan bahwa kepercayaan anggota hanya bisa dijaga jika laporan keuangan dan kegiatan koperasi dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Beliau juga mengajak seluruh pengurus untuk mulai membiasakan pencatatan rapi dan pembaruan data anggota secara berkala.
Selain itu, beliau juga memperkenalkan gagasan untuk membangun sistem informasi sederhana berbasis digital. Tidak perlu langsung kompleks, tetapi cukup menggunakan aplikasi spreadsheet atau perangkat lunak yang mudah diakses. Bagi beliau, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih bermakna daripada rencana besar yang tidak dijalankan.
Selama pertemuan itu, terlihat jelas antusiasme para pengurus dan anggota. Mereka merasa bangga karena memiliki ketua yang bukan hanya memimpin, tetapi juga mau belajar dan membawa perubahan nyata.
Salah satu anggota koperasi sempat menyampaikan,
> "Kami melihat Pak Dadang bukan hanya ketua, tapi juga guru dan panutan. Setiap kali beliau pulang dari kegiatan pelatihan, pasti ada hal baru yang langsung diterapkan di koperasi."
Pujian itu membuat suasana rapat semakin hangat. Bapak Dadang hanya tersenyum, lalu menjawab dengan rendah hati bahwa semua perubahan hanya akan berhasil jika dilakukan bersama.
Pertemuan itu berlangsung hingga sore hari, diakhiri dengan kesepakatan untuk membentuk tim kecil perbaikan manajemen koperasi. Tim tersebut diberi tugas untuk menyusun rencana aksi tiga bulan ke depan, dengan fokus pada transparansi laporan keuangan, peningkatan partisipasi anggota, dan pelatihan internal bagi staf.