---
Tragedi Runtuhnya Bangunan di Ponpes Al-Khoziny: Luka, Pelajaran, dan Jalan Pemulihan
---
1. Pendahuluan: Pesantren sebagai Pusat Kehidupan Umat
Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Sejak berabad-abad, pesantren bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga pusat kehidupan sosial, kultural, dan spiritual masyarakat. Di dalam pesantren, ribuan santri belajar membaca Al-Qur'an, memahami hadis, mendalami fiqih, hingga mempelajari ilmu umum. Pesantren juga melahirkan tokoh-tokoh ulama, kiai, dan intelektual yang berperan besar dalam perjalanan bangsa.
Di tengah reputasi itu, tragedi memilukan menimpa salah satu pondok besar di Jawa Timur, yaitu Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo. Pada Senin, 29 September 2025, sebuah bangunan musala di lingkungan pondok tersebut runtuh ketika salat Ashar berlangsung, menimpa puluhan santri dan jamaah.
Kejadian ini bukan sekadar musibah teknis, melainkan sebuah peringatan besar tentang pentingnya aspek keamanan infrastruktur di lingkungan pendidikan keagamaan. Tragedi ini juga mengguncang hati umat, karena terjadi di tempat yang sakral—musala, rumah Allah, dan pusat doa para santri.
---
2. Identifikasi Lembaga: Antara Alhosaini, Al-Husaini, dan Al-Khoziny
Sejak kabar ini menyebar, publik banyak menyebut nama berbeda: Alhosaini, Al-Husaini, hingga Al-Khoziny. Variasi nama ini sempat membingungkan, terutama di media sosial. Namun setelah verifikasi, media arus utama menegaskan bahwa lokasi insiden adalah Ponpes Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo.
Perbedaan penyebutan kemungkinan besar muncul dari:
1. Kesalahan pelafalan / penulisan di media sosial.
2. Kebiasaan lokal yang menyebut pondok dengan nama mirip-mirip.
3. Keterkaitan nama keluarga besar ulama yang kadang memiliki pondok dengan nama hampir serupa.
Maka, dalam artikel ini, kita akan menyebut Ponpes Al-Khoziny, sembari memahami bahwa istilah "Alhosaini" yang muncul di publik bisa jadi merujuk pada pondok ini juga.
---
3. Kronologi Kejadian: Detik-Detik Musala Runtuh
3.1 Waktu dan Tempat
Hari: Senin, 29 September 2025
Waktu: Sekitar pukul 15.00 WIB
Lokasi: Musala asrama putra Ponpes Al-Khoziny, Desa Buduran, Kabupaten Sidoarjo
3.2 Suara Gemuruh dan Getaran
Beberapa saksi mata, termasuk Ketua RT setempat, menyebut bahwa sebelum bangunan ambruk terdengar suara gemuruh diiringi getaran menyerupai gempa kecil. Suara itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum bagian atap musala ambruk.
3.3 Runtuhnya Bangunan
Bangunan yang disebut masih dalam tahap renovasi dan penambahan struktur beton itu roboh tiba-tiba. Material berupa beton, tulangan besi, dan atap menimpa jamaah yang sedang beribadah. Puluhan orang tertimbun reruntuhan, sementara sebagian lainnya berhasil menyelamatkan diri.
3.4 Evakuasi Santri
Santri yang selamat berteriak meminta tolong. Warga sekitar, aparat kepolisian, tim SAR, dan relawan bahu-membahu mengevakuasi korban. Proses penyelamatan berlangsung dramatis: ada yang ditarik keluar dari celah reruntuhan, ada yang diberi oksigen saat masih terjebak, dan ada pula yang ditemukan sudah tak bernyawa.
---
4. Korban: Antara Luka, Duka, dan Harapan
4.1 Korban Luka
RSUD Notopuro mencatat 34 santri luka-luka.
Cedera bervariasi: mulai dari memar, luka sobek, patah tulang ringan, hingga trauma kepala.
Santri yang luka ringan dirawat di IGD, sementara yang serius menjalani operasi darurat.
4.2 Korban Meninggal
Data awal menyebut 1 santri meninggal.
Laporan internasional (AP News, Reuters) mencatat sedikitnya 3 orang tewas dan puluhan luka-luka.
Jumlah korban bisa bertambah seiring evakuasi lanjutan.
4.3 Korban Hilang
Badan SAR menyatakan masih ada 38 orang hilang atau diduga tertimbun.
Pencarian korban terus dilakukan dengan alat berat dan sensor deteksi tubuh.
---
5. Dugaan Penyebab: Antara Kelalaian dan Takdir
Tragedi ini memunculkan pertanyaan: mengapa musala bisa ambruk mendadak? Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab:
1. Konstruksi Berlebih (Overload)
Penambahan lantai atau beban baru pada struktur lama tanpa perhitungan matang.
2. Fondasi Lemah
Fondasi lama tidak dirancang menanggung beban tambahan beton dan rangka baja.
3. Tahap Pembangunan Belum Selesai
Bangunan masih dalam renovasi; pengikat struktural belum sempurna.
4. Kualitas Material
Diduga ada penggunaan material dengan mutu rendah atau pengerjaan asal-asalan.
5. Kurangnya Pengawasan Teknis
Tidak adanya insinyur pengawas atau izin resmi pembangunan.
6. Faktor Alam
Getaran kecil atau pergeseran tanah bisa mempercepat kegagalan struktur.
---
6. Respons Pemerintah dan Masyarakat
6.1 Pemerintah
BNPB, Basarnas, dan Pemprov Jatim langsung menurunkan tim evakuasi.
Dinas PU menugaskan insinyur untuk memeriksa sisa struktur.
Polisi membuka investigasi untuk mencari penyebab dan kemungkinan unsur kelalaian.
6.2 Rumah Sakit
RSUD Notopuro menjadi pusat penanganan korban.
Daftar nama korban luka ditempel di papan informasi agar keluarga mudah memantau.
6.3 Masyarakat
Warga sekitar membantu evakuasi sejak menit pertama.
Donasi makanan, obat, dan pakaian berdatangan.
Doa bersama digelar di masjid-masjid sekitar Sidoarjo.
---
7. Dampak Sosial dan Psikologis
1. Trauma Santri
Banyak santri kini takut beribadah di musala yang belum diperbaiki.
2. Duka Keluarga
Keluarga korban menangis histeris di lokasi, sebagian menunggu kabar dari rumah sakit.
3. Keterkejutan Publik
Masyarakat Indonesia terhenyak: bagaimana mungkin bangunan pesantren runtuh di tengah ibadah?
4. Krisis Kepercayaan
Sebagian orang mulai mempertanyakan profesionalitas pengurus pondok dalam membangun fasilitas.
---
8. Analisis: Kesalahan Struktural dan Manajemen Risiko
Tragedi ini menunjukkan bahwa banyak pesantren di Indonesia membangun fasilitas secara swadaya, tanpa pengawasan teknis yang ketat. Faktor swakelola, anggaran terbatas, dan kejar target pembangunan sering kali membuat aspek keamanan diabaikan.
Musibah ini menekankan pentingnya:
Audit struktural setiap kali ada renovasi besar.
Melibatkan insinyur bersertifikat.
Pengawasan pemerintah pada fasilitas pendidikan keagamaan.
---
9. Pelajaran untuk Pesantren Lain di Indonesia
Jangan menyepelekan izin bangunan.
Gunakan material sesuai standar nasional.
Audit rutin oleh ahli sipil.
Edukasi pengurus pondok tentang dasar-dasar keamanan konstruksi.
---
10. Jalan Pemulihan: Dari Duka Menuju Harapan
Fasilitas Baru: Pemerintah bersama masyarakat perlu membantu membangun musala baru yang lebih aman.
Dukungan Psikologis: Santri dan keluarga korban butuh pendampingan trauma healing.
Reformasi Regulasi: Perlu aturan lebih ketat bagi bangunan pesantren.
Solidaritas Umat: Musibah ini bisa jadi momentum memperkuat persaudaraan antarumat Islam.
---
11. Penutup: Luka yang Jadi Pelajaran
Tragedi runtuhnya bangunan di Ponpes Al-Khoziny adalah luka yang mendalam. Ia merenggut nyawa, melukai puluhan santri, dan meninggalkan trauma panjang. Namun, di balik duka, ada pelajaran besar: bahwa keselamatan manusia adalah amanah yang tak boleh diabaikan.
Pesantren bukan sekadar pusat ilmu agama, melainkan rumah bagi ribuan santri. Dan rumah itu haruslah kokoh, aman, serta layak bagi generasi penerus bangsa.
---