---
Jual Gerabah Wage di Pasar Dukun Gresik: Tradisi, Kreativitas, dan Kehangatan Budaya
Pasar tradisional selalu memiliki daya tarik tersendiri. Di antara hiruk pikuk modernisasi dan gempuran pusat perbelanjaan besar, pesona pasar rakyat tetap tidak tergantikan. Salah satunya adalah Pasar Wage Dukun di Gresik, sebuah pasar yang hanya buka pada hari pasaran Wage dalam kalender Jawa. Di sinilah denyut ekonomi rakyat dan kearifan lokal berpadu dalam harmoni. Salah satu pemandangan paling menarik adalah jual beli gerabah—sebuah tradisi lama yang masih bertahan hingga kini.
---
1. Pasar Wage Dukun Gresik: Jejak Pasar Rakyat Jawa
Pasar Dukun terletak di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Nama "Wage" merujuk pada sistem penanggalan Jawa yang mengenal lima hari pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Pasar ini ramai hanya pada hari Wage, sehingga masyarakat sekitar selalu menandai kalender untuk memastikan tidak melewatkan kesempatan berbelanja. Setiap Wage, ribuan orang dari berbagai desa sekitar—bahkan dari luar Gresik—datang untuk membeli kebutuhan harian, peralatan rumah tangga, dan tentu saja gerabah.
Suasana pasar mulai terasa sejak dini hari. Sebelum matahari terbit, puluhan pedagang sudah menata dagangan. Bau tanah basah bercampur dengan aroma sayuran segar dan kue tradisional yang baru matang. Denting gelas, suara tawar-menawar, dan teriakan pedagang saling bersahutan menciptakan harmoni khas pasar tradisional. Di sudut tertentu, tumpukan gerabah dari tanah liat menarik perhatian setiap mata yang lewat.
---
2. Gerabah: Warisan Seni yang Tetap Dibutuhkan
Gerabah bukan sekadar barang dagangan, tetapi warisan budaya yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Dari periuk, kendi, cobek, hingga pot bunga, semua terbuat dari tanah liat yang dibentuk dan dibakar hingga menjadi peralatan rumah tangga yang kuat dan alami.
Di Pasar Wage Dukun, gerabah memiliki nilai ganda:
1. Nilai fungsional – digunakan untuk memasak, menyimpan air, atau menghias rumah.
2. Nilai estetika – corak tradisionalnya memberikan sentuhan etnik yang menawan.
Meski kini banyak peralatan modern dari plastik atau logam, gerabah tetap memiliki peminat setia. Banyak pembeli percaya bahwa air yang disimpan dalam kendi tanah liat terasa lebih sejuk dan segar dibanding air dalam botol plastik.
---
3. Proses Pembuatan Gerabah: Dari Tanah Menjadi Karya
Di balik setiap periuk dan cobek yang dijual di Pasar Wage, terdapat proses panjang dan penuh ketelatenan. Para perajin gerabah di desa-desa sekitar Gresik biasanya memulai dengan memilih tanah liat terbaik. Tanah diaduk dengan air hingga teksturnya lembut dan elastis, lalu dibentuk menggunakan tangan atau alat putar tradisional.
Setelah terbentuk, gerabah dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari agar kering sempurna. Tahap terakhir adalah pembakaran dalam tungku besar, proses yang menentukan kekuatan dan warna akhir gerabah. Tidak jarang, para pengrajin memberi sentuhan akhir berupa ukiran sederhana atau pewarna alami untuk menambah keindahan.
---
4. Suasana Jual Beli Gerabah di Pasar Wage
Setiap hari Wage, para pedagang gerabah datang sejak subuh dengan membawa tumpukan barang di atas pikulan bambu, sepeda motor, atau mobil pick-up. Mereka menata periuk, kendi, cobek, dan pot bunga dengan rapi di atas terpal.
Para pembeli mulai berdatangan saat fajar menyingsing. Ibu-ibu rumah tangga, pemilik warung makan, bahkan kolektor barang antik ikut meramaikan lapak gerabah. Suara tawar-menawar menjadi musik khas:
"Piro iki, Bu? Ndukne murah ae yo, ben laris!"
("Berapa ini, Bu? Turunkan harganya sedikit biar laris!")
Pedagang pun menanggapi dengan senyum ramah, kadang menambahkan bonus seperti piring kecil atau kendi mini bagi pembeli setia.
---
5. Jenis-Jenis Gerabah yang Dijual
Keunikan Pasar Wage Dukun terlihat dari ragam gerabah yang dijajakan. Berikut beberapa jenis yang paling diminati:
Kendi: Tempat air tradisional yang dipercaya membuat air tetap dingin.
Periuk: Cocok untuk memasak sayur, membuat wedang, atau menyimpan makanan.
Cobek dan Ulekan: Peralatan penting untuk membuat sambal dengan cita rasa khas.
Pot Bunga: Digemari pecinta tanaman hias karena tampak alami dan elegan.
Hiasan Dinding: Gerabah berbentuk unik seperti topeng atau ukiran tradisional untuk dekorasi rumah.
---
6. Nilai Ekonomi dan Sosial
Jual beli gerabah di Pasar Wage tidak hanya menjadi mata pencaharian, tetapi juga penggerak ekonomi lokal. Setiap pedagang biasanya bekerja sama dengan perajin di desa mereka. Hasil penjualan dibagi untuk menutupi biaya produksi dan kebutuhan keluarga.
Bagi masyarakat sekitar, pasar ini juga menjadi ajang silaturahmi. Banyak pembeli datang bukan hanya untuk belanja, tetapi juga bertemu kerabat atau teman lama. Suasana keakraban membuat transaksi terasa hangat dan penuh kekeluargaan.
---
7. Tantangan di Era Modern
Meski tetap diminati, para pedagang gerabah menghadapi tantangan besar. Produk modern dari plastik atau stainless steel semakin murah dan praktis. Selain itu, generasi muda mulai enggan meneruskan profesi sebagai perajin gerabah karena dianggap melelahkan dan kurang menguntungkan.
Namun demikian, sebagian pedagang mulai berinovasi. Mereka membuat gerabah dengan desain modern, menambah warna, bahkan memasarkan produk melalui media sosial. Langkah ini perlahan membuka peluang baru dan menarik minat pembeli muda.
---
8. Tips Membeli Gerabah Berkualitas di Pasar Wage
Bagi Anda yang tertarik berburu gerabah di Pasar Wage Dukun, berikut beberapa tips agar mendapatkan produk terbaik:
1. Periksa Kekuatan: Ketuk perlahan permukaan gerabah. Suara nyaring menandakan kualitas baik.
2. Perhatikan Warna: Warna cokelat tua merata menunjukkan proses pembakaran sempurna.
3. Cek Permukaan: Pastikan tidak ada retakan atau lubang kecil yang dapat bocor.
4. Bawa Uang Tunai: Sebagian besar transaksi masih dilakukan secara tunai.
5. Datang Pagi: Stok barang lebih lengkap dan harga bisa lebih miring.
---
9. Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan
Keberadaan jual gerabah di Pasar Wage Dukun Gresik adalah bukti bahwa tradisi dapat berjalan seiring dengan modernisasi. Gerabah bukan hanya benda fungsional, tetapi juga simbol ketekunan, kreativitas, dan identitas budaya.
Bagi masyarakat Gresik, setiap hari Wage bukan hanya waktu untuk berdagang, tetapi juga perayaan kecil atas keberlanjutan warisan nenek moyang. Di tengah gempuran teknologi, gerabah mengingatkan kita pada pentingnya menghargai alam dan proses alami.
---
Kesimpulan
Jual gerabah Wage di Pasar Dukun Gresik adalah cerminan kehidupan pasar tradisional Jawa yang penuh warna. Dari proses pembuatan yang rumit hingga suasana tawar-menawar yang hangat, semua menghadirkan pengalaman belanja yang unik. Gerabah bukan sekadar peralatan rumah tangga, tetapi karya seni yang menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam.
Bagi Anda yang berkunjung ke Gresik, sempatkanlah mampir ke Pasar Wage Dukun. Nikmati aroma tanah liat, sapa ramah para pedagang, dan bawa pulang sepotong tradisi dalam bentuk gerabah yang indah. Dengan begitu, Anda turut menjaga agar warisan budaya ini terus hidup di tengah dunia yang serba cepat.
---