---
Ketegan, Taman, Sidoarjo: Sebuah Perjalanan Naratif Menyusuri Kehidupan dan Perkembangan Sebuah Kelurahan
Di pagi yang hangat, matahari mulai menyingkap tirai malam di Kelurahan Ketegan, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo. Jalan-jalan kecil yang membelah permukiman mulai dipenuhi aktivitas yang khas; anak-anak sekolah berlari-lari dengan seragam rapi, sepatu mereka beradu dengan lantai semen, sementara suara tawa mereka menembus udara pagi yang lembut. Di sisi jalan, pedagang menyiapkan dagangan mereka, menata sayur-mayur dan jajanan di atas meja kayu yang sederhana, sambil sesekali bercengkerama dengan tetangga atau pembeli yang lewat. Di teras rumah, bapak-bapak duduk santai, menyeruput kopi hangat, sambil membicarakan kabar kampung, berita dari televisi, atau isu terkini yang ramai di sekitar Sidoarjo dan Surabaya.
Ketegan adalah lebih dari sekadar nama sebuah kelurahan; ia adalah saksi dari perjalanan waktu dan transformasi sebuah wilayah. Dari masa lalu sebagai desa agraris dengan sawah luas dan tegakan pohon tinggi, kini Ketegan telah berubah menjadi kawasan urban yang padat, hidup, dan penuh dinamika sosial. Transformasi ini bukan hanya soal pembangunan fisik; ia juga soal manusia, budaya, tradisi, dan cara masyarakatnya menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Suasana pagi di Ketegan mencerminkan keseimbangan antara modernitas dan tradisi. Meski banyak rumah modern dan toko baru bermunculan, jejak-jejak kehidupan lama masih terasa. Ada ibu-ibu yang menjemur pakaian sambil bercakap-cakap, anak-anak bermain bola di gang sempit, dan suara azan dari musholla yang memanggil warga untuk salat berjamaah. Semua ini menciptakan harmoni tersendiri yang menjadikan Ketegan unik, sebuah kelurahan yang tetap memelihara identitasnya meski terus berkembang.
Sejarah Ketegan berkaitan erat dengan asal-usul namanya. Kata "Ketegan" diyakini berasal dari istilah Jawa kuno "teg," yang berarti tegakan pohon, merujuk pada banyaknya pohon besar yang dulunya tumbuh di wilayah ini. Dahulu, Ketegan merupakan wilayah yang dipenuhi hutan kecil dan sawah, dengan masyarakat yang hidup dari pertanian dan perkebunan. Hidup mereka sederhana, sehari-hari diwarnai aktivitas bertani, menanam padi, dan merawat kebun, sambil menjaga ikatan sosial yang erat melalui gotong royong dan kegiatan keagamaan.
Seiring berjalannya waktu, Ketegan mulai mengalami perubahan. Urbanisasi merambah wilayah ini, didorong oleh kedekatan dengan Surabaya dan Sidoarjo. Banyak pendatang memilih tinggal di Ketegan karena lokasinya strategis, harga rumah yang relatif lebih terjangkau dibanding Surabaya, serta akses transportasi yang mudah. Lahan pertanian perlahan berubah menjadi perumahan, warung, toko, dan fasilitas publik lainnya. Meski demikian, masyarakat Ketegan berusaha mempertahankan tradisi dan nilai-nilai sosialnya, sehingga perkembangan modern tidak menghapus identitas lama.
Secara geografis, Ketegan berada di Kecamatan Taman, salah satu kecamatan strategis di Kabupaten Sidoarjo. Batas wilayahnya adalah Kelurahan Jemundo di utara, Kelurahan Sepanjang di selatan, Kelurahan Taman di barat, dan Kelurahan Bringinbendo di timur. Letaknya yang dekat dengan Surabaya membuat Ketegan menjadi bagian dari kawasan penyangga metropolitan Gerbangkertosusila. Jalan raya yang melintasi Ketegan menghubungkan wilayah ini dengan pusat kota dan tol Waru-Sidoarjo, memudahkan mobilitas warga dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Penduduk Ketegan terdiri dari ribuan jiwa dengan latar belakang yang beragam. Mayoritas bekerja di sektor perdagangan, jasa, dan industri, sementara sebagian lain menjadi pegawai negeri atau swasta. Kepadatan penduduk meningkat seiring masuknya pendatang yang mencari hunian strategis dekat Surabaya. Kehidupan sosial masyarakat tetap kental dengan nilai gotong royong, kegiatan RT/RW, kerja bakti, dan pengajian rutin. Pemuda di Ketegan juga aktif melalui karang taruna, mengadakan pertandingan olahraga, pentas seni, dan kegiatan sosial lainnya, yang mempererat ikatan komunitas.
Pendidikan menjadi salah satu fokus penting di Ketegan. Kelurahan ini memiliki fasilitas pendidikan dasar yang memadai, mulai dari TK/PAUD hingga SD, serta akses ke SMP dan SMA di sekitar Taman dan Sepanjang. Banyak anak-anak Ketegan melanjutkan pendidikan ke Surabaya untuk jenjang SMA dan perguruan tinggi. Selain sekolah formal, terdapat pula lembaga kursus dan bimbingan belajar, membantu anak-anak menyiapkan diri menghadapi ujian. Lingkungan pendidikan di Ketegan menggabungkan pendekatan modern dengan nilai-nilai tradisional, termasuk pengajaran agama.
Ekonomi Ketegan berkembang pesat. Warga membuka usaha kecil menengah (UMKM) seperti warung makan, toko kelontong, laundry, jasa reparasi, kos-kosan, dan kontrakan. Letak strategis Ketegan membuat usaha-usaha ini mudah diakses, terutama oleh pekerja dan mahasiswa dari Surabaya dan Sidoarjo. Perumahan baru dan kos-kosan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat, sementara pasar tradisional berdampingan dengan toko modern, menciptakan kehidupan ekonomi yang dinamis.
Masyarakat Ketegan tetap menjaga budaya dan tradisi mereka. Pengajian rutin, tahlilan, dan peringatan Maulid Nabi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga. Bulan Ramadhan menghadirkan suasana yang lebih meriah, dengan kegiatan tadarus dan buka puasa bersama di masjid dan musholla. Kegiatan pemuda melalui karang taruna juga menambah warna kehidupan, dengan olahraga, seni, dan kegiatan sosial yang memperkuat ikatan komunitas. Musik tradisional, pertunjukan hadrah, dan seni lokal tetap dijaga, menjadi bagian dari pelestarian budaya yang hidup berdampingan dengan modernitas.
Infrastruktur Ketegan cukup memadai. Jalan raya utama, akses tol, angkutan umum, dan ojek online mendukung mobilitas warga. Fasilitas kesehatan meliputi puskesmas pembantu, posyandu, dan klinik swasta. Sekolah dari TK hingga SMA tersedia, dan masjid serta musholla tersebar di setiap RW. Taman, lapangan olahraga, dan balai warga menyediakan ruang publik yang penting bagi interaksi sosial. Meski demikian, beberapa tantangan tetap ada, seperti kemacetan lalu lintas, kepadatan penduduk, dan pengelolaan sampah serta drainase.
Ketegan menghadapi dilema klasik wilayah urbanisasi: ia bukan lagi desa agraris murni, tetapi juga belum sepenuhnya kota besar. Perpaduan ini memberi karakter unik, di mana perumahan modern berdampingan dengan gang sempit yang masih mempertahankan nuansa tradisional. Penduduk Ketegan menyadari bahwa modernisasi membawa peluang sekaligus tantangan. Aktivitas ekonomi berkembang, pendidikan meningkat, dan fasilitas publik bertambah, namun nilai-nilai sosial dan budaya tetap dijaga.
Potensi masa depan Ketegan sangat besar. Digitalisasi layanan kelurahan dapat mempermudah administrasi dan pelayanan publik, sementara pemberdayaan UMKM dapat mendorong ekonomi kreatif lokal. Peningkatan pendidikan dan fasilitas publik akan membentuk generasi muda yang mandiri dan berdaya saing, sementara pengelolaan lingkungan yang lebih baik akan menciptakan kelurahan yang bersih, hijau, dan nyaman. Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, dan generasi muda kreatif, Ketegan memiliki peluang menjadi kelurahan modern yang tetap mempertahankan nilai budaya.
Ketegan adalah kisah nyata tentang perubahan, adaptasi, dan harapan. Dari desa agraris yang sepi, kini ia menjadi wilayah yang padat, dinamis, dan penuh aktivitas. Namun, di balik semua perkembangan itu, Ketegan tetap memegang erat tradisi, nilai sosial, dan kekompakan masyarakat. Bagi siapa pun yang melintas atau tinggal di Ketegan, hal yang paling terasa bukan hanya perkembangan fisik atau ekonomi, tetapi kehangatan dan kearifan lokal warganya.
Ketegan bukan sekadar kelurahan. Ia adalah rumah, komunitas, dan cerita hidup yang terus berkembang, sebuah potret kecil namun kaya dari perjalanan sebuah wilayah di Jawa Timur. Dalam narasi panjang ini, Ketegan menunjukkan bahwa pertumbuhan dan tradisi bisa berjalan beriringan, membentuk identitas yang kuat dan relevan untuk masa depan.
---