Sebuah Pengajian Kampung yang Mengikat Hati


---

Harmoni Sore di Balik Tirai Hitam: Sebuah Pengajian Kampung yang Mengikat Hati

Sore itu, matahari perlahan merunduk ke ufuk barat, meninggalkan jejak cahaya keemasan yang memantul di dinding-dinding rumah sederhana di sebuah gang kampung. Udara hangat bercampur semilir angin membuat dedaunan bergoyang lembut. Di sudut gang yang sehari-hari menjadi jalur lalu lintas warga, sebuah pemandangan berbeda tampak menawan. Terpasang tenda biru dengan kain tirai hitam yang menutupi sebagian sisi, menciptakan panggung kecil yang penuh makna. Di situlah sebuah pengajian sore tengah berlangsung—sebuah peristiwa yang bukan sekadar rutinitas, tetapi juga lambang kebersamaan yang erat dalam masyarakat.

Panggung Sederhana Penuh Kehangatan

Di bawah naungan tenda yang dilapisi terpal biru, seorang bapak berdiri tegak di depan mikrofon. Peci hitam menutupi kepalanya, sementara baju batik bercorak cokelat keemasan memancarkan kesan rapi dan berwibawa. Sarungnya jatuh anggun hingga menutupi pergelangan kaki, menyatu dengan sandal hitam sederhana yang ia kenakan. Di hadapannya, sebuah mimbar kecil menopang kitab dan catatan yang menjadi pegangan ceramah. Meski panggungnya sederhana—hanya lantai semen tanpa karpet merah atau hiasan mewah—kehadiran sang penceramah menjadikannya pusat perhatian. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar lantang melalui pengeras suara, menggema ke sudut-sudut gang yang biasanya dipenuhi riuh obrolan sore.

Latar belakang panggung ditutupi kain hitam yang diikat rapi dengan tali hijau. Di balik kain itu, samar-samar terlihat tembok rumah warga yang menjadi saksi bisu kegiatan penuh nilai spiritual ini. Sebuah kipas angin berdiri di samping panggung, berputar pelan untuk menyejukkan suasana. Meski demikian, angin alami yang berhembus sore itu sebenarnya sudah cukup menghadirkan kesejukan yang menenangkan.

Jejak Kehidupan di Sepatu dan Sandal

Di depan panggung, tepat di atas permukaan jalan yang sedikit bergelombang, puluhan sandal dan sepatu tertata acak namun penuh cerita. Ada sandal jepit biru yang warnanya sudah memudar, sepatu kulit hitam yang masih mengilap, hingga sandal anak-anak berwarna cerah yang ukurannya mungil. Setiap pasang alas kaki itu seperti mewakili pemiliknya: bapak-bapak yang baru pulang kerja, ibu-ibu yang rela melepas kesibukan rumah, remaja yang menyempatkan hadir di sela belajar, dan anak-anak yang datang bersama orang tua mereka. Pemandangan sederhana ini menjadi simbol kebersamaan. Di sini, status sosial dan kesibukan sehari-hari larut, digantikan oleh niat tulus untuk menimba ilmu agama.

Jamaah yang Khidmat

Di bawah tenda, para jamaah duduk rapi di kursi plastik berwarna-warni dan di atas tikar yang digelar memanjang. Sebagian besar adalah bapak-bapak yang mengenakan sarung dan kemeja polos. Ada pula anak-anak muda yang mengenakan kaos santai namun tetap sopan. Beberapa ibu terlihat mengenakan mukena tipis yang dilipat rapi di pangkuan, siap digunakan ketika waktu shalat tiba. Mereka mendengarkan dengan khidmat, sesekali mengangguk ketika sang penceramah menyampaikan pesan yang menyentuh hati. Suara mikrofon berpadu dengan gemerisik kain tenda yang tertiup angin, menciptakan harmoni suara yang menenangkan.

Di bagian pinggir, beberapa anak kecil bermain pelan. Mereka tertawa kecil, berbisik, atau saling dorong dengan penuh keceriaan. Sesekali, tatapan polos mereka tertuju ke arah penceramah, seolah ingin memahami isi tausiyah yang disampaikan. Kehadiran mereka membawa warna tersendiri, mengingatkan bahwa generasi penerus pun sudah mulai mengenal tradisi pengajian sejak dini.

Lingkungan yang Mendukung

Sekitar lokasi pengajian, rumah-rumah penduduk berdiri berderet dengan dinding bata yang belum sepenuhnya diplester. Beberapa pohon jambu dan mangga menambah kesan alami, memberikan keteduhan alami yang begitu menyejukkan. Sinar matahari sore menyusup melalui celah-celah dedaunan, menorehkan pola cahaya yang indah di lantai semen. Di kejauhan, terdengar suara burung yang kembali ke sarang, berpadu dengan bisikan angin yang menyapa wajah. Sesekali, bunyi sepeda motor yang melintas di jalan besar terdengar samar, namun tak mampu mengganggu kekhusyukan acara.

Nilai Kebersamaan yang Terjalin

Pengajian sore ini bukan sekadar forum keagamaan. Lebih dari itu, ia menjadi ajang silaturahmi antarwarga. Sebelum acara dimulai, para tetangga saling menyapa dengan hangat. Senyum ramah dan jabat tangan hangat menjadi pemandangan biasa. Ibu-ibu sibuk menata hidangan ringan seperti kue basah, pisang rebus, dan air teh hangat yang disajikan di atas nampan plastik. Anak-anak remaja membantu mempersiapkan kursi, sementara para bapak memastikan peralatan pengeras suara berfungsi dengan baik.

Setelah tausiyah selesai, suasana berubah menjadi lebih cair. Jamaah saling berbincang, berbagi cerita tentang aktivitas sehari-hari, atau sekadar bertukar kabar keluarga. Hidangan ringan pun menjadi perekat percakapan. Sambil menikmati kue dan teh, tawa kecil terdengar di sana-sini, menambah keakraban di antara warga.

Pesan Moral dan Spiritual

Dalam ceramahnya, sang penceramah menekankan pentingnya menjaga persaudaraan dan memperkuat iman. Ia mengingatkan jamaah bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, dan kebersamaan seperti pengajian ini adalah salah satu cara untuk memperkaya bekal akhirat. Kata-kata penuh nasihat itu mengalir tenang namun menyentuh, membuat banyak pendengar merenung. Ada yang menundukkan kepala, ada yang mengucapkan dzikir pelan, dan ada pula yang meneteskan air mata haru.

Pesan moral ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dunia modern, manusia tetap membutuhkan ruang untuk kembali kepada Sang Pencipta. Pengajian sederhana di gang kampung ini membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu harus dicari dalam kemewahan. Justru dalam kesederhanaan, hati dapat menemukan ketenangan yang hakiki.

Penutup yang Penuh Kedamaian

Ketika matahari benar-benar tenggelam dan adzan magrib berkumandang, acara pun ditutup dengan doa bersama. Jamaah berdiri dengan penuh kekhusyukan, memanjatkan harapan untuk kesehatan, keberkahan rezeki, dan keselamatan keluarga. Setelah doa, sebagian jamaah melanjutkan shalat magrib berjamaah, sementara yang lain menyiapkan peralatan untuk dirapikan. Tenda biru dan kain hitam pelindung perlahan-lahan kembali menjadi bagian dari gang kecil itu, menunggu acara berikutnya di masa mendatang.

Meski sederhana, pengajian sore di kampung ini meninggalkan kesan mendalam. Ia mengajarkan arti kebersamaan, kesederhanaan, dan kekuatan iman. Dalam setiap langkah kaki pulang, jamaah membawa pulang bukan hanya ilmu, tetapi juga ketenangan batin yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di balik tirai hitam dan panggung sederhana itu, tersimpan pelajaran berharga tentang bagaimana kebahagiaan dapat ditemukan dalam kebersamaan yang tulus.


---
PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI - JUAL BELI BLOG - JUAL BLOG UNTUK KEPERLUAN DAFTAR ADSENSE - BELI BLOG BERKUALITAS - HUBUNGI KAMI SEGERA

Post a Comment

Support By Yahoo!
Support By Bing

Previous Post Next Post