Kisah Iuran Kampung: Kehangatan Warga RT 13 Gang Depan, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo
---
---
Pendahuluan: Suasana Kampung yang Hidup
Di sebuah sudut Kabupaten Sidoarjo, tepatnya di Kecamatan Taman, ada sebuah lingkungan kecil bernama RT 13 Gang Depan. Sekilas, tempat ini tampak seperti kampung biasa: jalan gang yang tidak terlalu lebar, rumah-rumah sederhana yang berdiri berjejer, suara ayam berkokok di pagi hari, dan anak-anak yang sering bermain di sore menjelang maghrib. Namun, di balik kesederhanaannya, ada sebuah cerita sosial yang menarik—tentang bagaimana warga menjaga kebersamaan lewat sesuatu yang sering dianggap sepele: iuran RT.
Di kampung ini, setiap bulan ada kegiatan penarikan iuran. Bukan hanya sekadar urusan uang, tetapi lebih kepada tradisi, silaturahmi, dan rasa memiliki. Dan salah satu sosok yang berperan penting dalam kegiatan ini adalah Saifudin Hidayat, seorang warga yang dipercaya untuk menjadi petugas penarik iuran.
---
Bab 1: Pagi di RT 13
Pagi di RT 13 selalu dimulai dengan riuh. Warung kopi kecil di ujung gang sudah dipenuhi bapak-bapak yang sedang menyeruput kopi hitam sambil bercanda. Suara wajan dari dapur ibu-ibu terdengar ketika mereka menyiapkan sarapan untuk keluarga. Anak-anak berlarian, berseragam sekolah, menunggu angkot atau berjalan kaki berkelompok menuju sekolah dasar di dekat pasar.
Di sela kesibukan itu, ada papan pengumuman sederhana yang dipasang di depan rumah ketua RT. Tulisan tangan di atas kertas HVS, ditempel dengan isolasi bening, mengingatkan warga:
> "Iuran RT bulan ini ditarik mulai tanggal 5. Mohon kerjasamanya. – Pengurus RT 13."
Tulisan itu sederhana, tapi cukup jadi pengingat bahwa sebentar lagi akan ada seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka—Pak Saifudin Hidayat.
---
Bab 2: Sosok Saifudin Hidayat
Pak Saifudin bukan orang baru di RT 13. Ia sudah tinggal di gang itu sejak muda, menikah dengan seorang perempuan asli kampung tersebut, dan membesarkan anak-anaknya di rumah kecil bercat krem di pojok gang.
Tubuhnya tidak tinggi, wajahnya ramah, dan ia dikenal murah senyum. Kalau berjalan, selalu menyapa orang yang ditemuinya. Bagi warga, Pak Saifudin bukan hanya tetangga, tapi juga teman ngobrol, bahkan tempat curhat.
Saat dipercaya menjadi petugas penarik iuran, ia tidak keberatan. Katanya, "Namanya juga buat kepentingan bersama. Kalau bukan kita, siapa lagi?"
Baginya, mengumpulkan iuran bukan pekerjaan berat, meskipun kadang ada saja warga yang belum siap atau menunda. Ia menganggap semua itu bagian dari dinamika kampung.
---
Bab 3: Hari Penarikan Dimulai
Hari itu, cuaca cerah. Matahari pagi menyorot gang sempit, memantulkan cahaya ke dinding rumah yang dicat beraneka warna. Pak Saifudin berjalan pelan dengan buku catatan di tangan. Buku itu sudah agak lusuh, berisi daftar nama warga RT 13 dan kolom untuk menandai siapa saja yang sudah membayar iuran.
Di kantongnya ada tas kecil untuk menyimpan uang iuran. Sambil melangkah, ia menyapa setiap orang yang lewat. Anak-anak kecil sering mengekor di belakangnya, penasaran melihat apa yang dilakukan Pak Saifudin.
Rumah pertama yang ia datangi adalah rumah Pak Rohman, seorang tukang becak yang terkenal ramah. Ketika pintu diketuk, terdengar suara dari dalam:
> "Sopo iku?"
"Saya, Pak. Saifudin. Mau narik iuran RT."
"Ohh… ayo masuk sek, tak ambil duit e."
Begitulah, obrolan santai selalu jadi pembuka setiap kali ia menarik iuran.
---
Bab 4: Obrolan Ringan di Balik Iuran
Sebenarnya, kegiatan iuran ini bukan hanya soal uang. Justru yang lebih menarik adalah obrolan-obrolan ringan di baliknya.
Di rumah Bu Siti, misalnya, obrolannya bisa melebar ke harga sembako. Di rumah Pak Joko, pembicaraan beralih ke sepak bola dan pertandingan Persebaya. Di rumah Bu Yuli, topiknya soal anak-anak muda yang suka nongkrong sampai larut malam.
Semua itu membuat kegiatan iuran terasa seperti jalan-jalan sosial. Warga tidak hanya memberi uang, tetapi juga berbagi cerita.
Pak Saifudin sendiri kadang sampai lupa waktu. Kalau sudah ketemu warga yang suka cerita panjang, ia bisa duduk sampai setengah jam hanya untuk ngobrol. Tapi ia tidak keberatan, karena baginya itu bagian dari silaturahmi.
---
Bab 5: Iuran sebagai Simbol Kebersamaan
Bagi sebagian orang kota, iuran RT mungkin hanya dianggap beban kecil. Tapi di RT 13, iuran ini punya makna besar.
Uang yang terkumpul biasanya digunakan untuk hal-hal sederhana tapi vital: membayar listrik untuk lampu jalan, membeli cat untuk mengecat pos ronda, atau menyiapkan konsumsi saat kerja bakti. Kadang juga dipakai untuk dana sosial jika ada warga yang sakit atau mengalami musibah.
Setiap rupiah yang terkumpul adalah bukti bahwa warga saling peduli. Mereka tidak hanya tinggal berdampingan, tapi juga berbagi tanggung jawab.
---
Bab 6: Tantangan dalam Menarik Iuran
Tentu saja, tidak selalu mulus. Kadang ada warga yang menunda pembayaran dengan alasan belum ada uang. Ada juga yang pura-pura tidak ada di rumah saat Pak Saifudin datang.
Namun, semua itu dianggap wajar. Kehidupan kampung penuh dengan dinamika. Pak Saifudin tidak pernah marah, ia hanya tersenyum dan berkata, "Nggih, nggih, kapan-kapan mawon, Pak/Bu."
Sikapnya yang sabar justru membuat warga tidak merasa terbebani. Mereka percaya bahwa iuran bukan kewajiban kaku, tapi kontribusi yang bisa dilakukan sesuai kemampuan.
---
Bab 7: Malam di Pos Ronda
Sore menjelang malam, setelah semua iuran terkumpul, Pak Saifudin biasanya mampir ke pos ronda. Di sana sudah ada beberapa bapak-bapak duduk sambil minum kopi. Uang yang terkumpul dihitung ulang, lalu dicatat bersama-sama agar transparan.
Suasana malam di pos ronda terasa hangat. Lampu bohlam kuning menggantung, suara jangkrik terdengar dari kebun samping, dan obrolan bapak-bapak mengalir tanpa henti.
Dari sinilah terlihat bahwa iuran bukan hanya urusan administrasi, tapi juga cara mempererat persaudaraan antarwarga.
---
Bab 8: Nilai Sosial yang Terjaga
Kalau dipikir-pikir, kegiatan iuran ini sederhana sekali. Hanya mengetuk pintu, menerima uang, mencatat, lalu menyetorkan ke bendahara RT. Namun, dampaknya sangat besar bagi kehidupan sosial.
Iuran membuat warga saling mengenal. Membuat mereka punya alasan untuk ngobrol. Membuat mereka merasa bagian dari satu komunitas.
Di tengah kehidupan modern yang serba sibuk, tradisi kecil seperti ini justru menjadi penopang kebersamaan.
---
Bab 9: Harapan untuk RT 13
Pak Saifudin sering berkata, "Yang penting kita rukun. Uang bisa dicari, tapi kerukunan itu mahal."
Harapan warga RT 13 sederhana: mereka ingin kampung tetap aman, nyaman, dan guyub. Selama masih ada tradisi iuran, kerja bakti, dan ronda malam, mereka yakin kehidupan kampung akan tetap terjaga.
---
Penutup
Kisah iuran RT 13 Gang Depan ini mungkin terlihat sepele bagi orang luar. Tapi bagi warga, inilah bagian dari hidup mereka. Kegiatan bulanan yang penuh cerita, penuh tawa, penuh canda, sekaligus penuh makna sosial.
Dan di tengah semua itu, ada sosok sederhana bernama Saifudin Hidayat—yang dengan sabar dan ikhlas menjadi penghubung antarwarga lewat kegiatan menarik iuran.
---
📝