Habaib di Jawa Timur: Sejarah, Kiprah, dan Warisan Dakwah yang Hidup




---

Habaib di Jawa Timur: Sejarah, Kiprah, dan Warisan Dakwah yang Hidup


---

Pendahuluan

Jika kita berbicara tentang Jawa Timur, salah satu provinsi yang terkenal sebagai "gudang ulama" di Indonesia, maka tidak mungkin kita melewatkan peran para habaib—keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Husain bin Ali karramallahu wajhah. Kehadiran mereka di tanah Jawa, khususnya di wilayah pesisir utara Jawa Timur, telah membentuk corak keislaman yang khas: penuh dengan nuansa tasawuf, dakwah penuh kelembutan, dan tradisi keilmuan yang kokoh.

Fenomena habaib di Jawa Timur bukanlah hal baru. Mereka hadir sejak ratusan tahun lalu, seiring dengan gelombang migrasi pedagang, ulama, dan pendakwah dari Hadramaut, Yaman. Dari Madura hingga Banyuwangi, dari Surabaya hingga Jember, jejak mereka bisa kita temukan dalam bentuk pesantren, majelis ilmu, haul, hingga tradisi keagamaan yang menyatu dengan budaya lokal.

Artikel panjang ini akan membawa kita menelusuri sejarah, tokoh, peran sosial, budaya, hingga kiprah modern habaib di Jawa Timur, serta bagaimana warisan mereka tetap hidup hingga hari ini.


---

Bab 1: Siapa Itu Habaib?

Habaib adalah bentuk jamak dari "Habib", gelar yang diberikan kepada keturunan Rasulullah SAW melalui jalur Sayyidina Husain. Mereka dikenal sebagai penjaga ilmu, akhlak, dan tradisi dakwah Islam yang penuh kelembutan. Dalam tradisi masyarakat Jawa Timur, seorang habib bukan hanya ulama, tetapi juga figur moral yang dihormati, rujukan spiritual, bahkan mediator sosial.

Mengapa mereka dihormati?
Karena masyarakat melihat mereka bukan hanya sebagai tokoh agama, tapi juga pembawa barakah (keberkahan), penyambung sanad ilmu hingga Rasulullah, dan pendidik generasi muslim. Peran ini membuat mereka selalu dekat dengan masyarakat, dari kota besar seperti Surabaya hingga pelosok pedesaan.


---

Bab 2: Sejarah Kedatangan Habaib di Jawa Timur

Gelombang Awal

Sejarah mencatat, para habaib dari Hadramaut mulai berdatangan ke Nusantara sejak abad ke-15–16. Mereka berlayar bersama para pedagang, menetap di pesisir, menikah dengan masyarakat lokal, dan mendirikan pusat dakwah. Jawa Timur, dengan pelabuhan besar seperti Surabaya, Gresik, dan Tuban, menjadi tempat strategis.

Peran dalam Penyebaran Islam

Bersama dengan Walisongo, habaib turut berperan menyebarkan Islam melalui jalur perdagangan, pernikahan, dan pendidikan. Cara dakwah mereka yang lembut, akrab dengan budaya setempat, membuat Islam diterima tanpa konflik besar.

Jejak di Pesisir Utara Jawa Timur

Gresik, Surabaya, Pasuruan, dan Bangil menjadi pusat awal penyebaran habaib. Dari sinilah lahir tokoh-tokoh besar yang kelak mendirikan pesantren dan majelis ilmu.


---

Bab 3: Tokoh Habaib Berpengaruh di Jawa Timur

1. Habib Sholeh bin Muhsin al-Hamid (Tanggul, Jember)

Dikenal sebagai Habib Sholeh Tanggul, beliau adalah sosok karismatik yang sangat dicintai masyarakat Jember dan sekitarnya. Dakwahnya sederhana, penuh kasih sayang, dan hingga kini haul beliau selalu dipadati ribuan jamaah.

2. Habib Hasan bin Ahmad Baharun (Bangil, Pasuruan)

Pendiri Pesantren Darullughah Wadda'wah (Dalwa). Pesantren ini kini menjadi salah satu pusat studi Islam terbesar di Jawa Timur, dengan ribuan santri dari seluruh Indonesia dan mancanegara. Habib Hasan dikenal sebagai tokoh yang menekankan pentingnya penguasaan bahasa Arab dan disiplin ilmu agama.

3. Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf (Pasuruan)

Pengasuh Pesantren Suniyyah Salafiyah. Dakwahnya lantang namun penuh hikmah, menjadikan beliau sosok yang dihormati tidak hanya di Pasuruan, tetapi juga di panggung nasional.

4. Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik)

Dikenal sebagai Habib Abu Bakar Gresik, beliau ulama zuhud yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Gaya hidup sederhana dan penuh kasih membuatnya dicintai lintas golongan.

5. Habib Salim bin Djindan (Surabaya)

Tokoh ilmuwan besar dari Surabaya yang menulis banyak karya ilmiah. Pemikirannya menjadi rujukan, khususnya dalam bidang tafsir dan sejarah Islam.

6. Habib Husein bin Ja'far Al Hadar

Salah satu habib muda yang aktif di media sosial, lahir dan besar di Jawa Timur. Beliau membawa nuansa dakwah segar, penuh humor, dan sangat dekat dengan generasi milenial.


---

Bab 4: Habaib dan Dunia Pesantren

Jawa Timur dikenal dengan ribuan pesantren. Banyak di antaranya didirikan atau diasuh oleh habaib. Contoh:

Dalwa Bangil (Habib Hasan Baharun, lalu diteruskan Habib Abdurrahman Baharun).

Suniyyah Salafiyah Pasuruan (Habib Taufiq Assegaf).

Pesantren al-Fachriyah Surabaya.


Pesantren-pesantren ini menjadi laboratorium keilmuan yang melahirkan ribuan santri, ustaz, dan ulama.


---

Bab 5: Tradisi dan Budaya Habaib di Jawa Timur

Haul

Setiap tahun, masyarakat Jawa Timur akrab dengan haul habaib, semacam peringatan wafat ulama. Haul Habib Sholeh Tanggul, misalnya, bisa menghadirkan ratusan ribu jamaah.

Maulid dan Simtudduror

Majelis maulid seperti Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di Solo sering digelar juga di Jawa Timur. Tradisi ini menyatukan masyarakat dengan shalawat dan cinta Rasul.

Akulturasi Arab-Jawa

Habaib di Jawa Timur mampu merangkul budaya lokal. Tradisi tahlil, kenduri, selametan tetap berjalan berdampingan dengan ajaran Islam.


---

Bab 6: Peran Sosial dan Politik

Habaib tidak hanya berdakwah, tapi juga menjadi mediator sosial. Mereka dipercaya menjadi penengah konflik, penasihat moral, hingga pendamping masyarakat dalam berbagai urusan.

Di era modern, beberapa habaib juga aktif memberi pandangan politik. Namun mereka tetap menjaga jarak agar tidak kehilangan peran sebagai ulama panutan.


---

Bab 7: Kiprah Habaib Muda dan Dakwah Digital

Generasi habaib muda kini aktif di media sosial: YouTube, Instagram, hingga TikTok. Nama seperti Habib Husein Ja'far membawa wajah baru dakwah: santai, cerdas, dekat dengan anak muda.

Fenomena ini membuat habaib di Jawa Timur tetap relevan di tengah derasnya arus digitalisasi.


---

Bab 8: Habaib dan Identitas Islam Jawa Timur

Keberadaan habaib telah membentuk corak keislaman Jawa Timur yang ahlussunnah wal jamaah, bersanad, dan penuh tasawuf. Tradisi seperti tahlilan, manaqib, haul, hingga shalawatan hidup berdampingan dengan modernitas.


---

Bab 9: Tantangan dan Peluang

Di tengah globalisasi, habaib di Jawa Timur menghadapi tantangan:

Radikalisme agama.

Modernisasi pesantren.

Tantangan dakwah digital.


Namun peluangnya besar:

Mereka bisa menjadi jembatan generasi muda dengan tradisi keislaman klasik.

Mereka punya otoritas moral yang kuat di masyarakat.



---

Kesimpulan

Habaib di Jawa Timur bukan sekadar tokoh agama. Mereka adalah pilar sejarah, penjaga tradisi, pendidik, mediator sosial, hingga inspirator generasi muda. Dari pesantren di Pasuruan, haul di Jember, hingga dakwah digital di Surabaya, kiprah mereka membuktikan bahwa warisan Nabi Muhammad SAW tetap hidup melalui keturunan beliau.

Jawa Timur tanpa habaib akan kehilangan salah satu warna penting dalam mozaik keislamannya. Maka, memahami mereka berarti memahami bagian penting dari identitas Islam Nusantara.


---

✍️ 
PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI - JUAL BELI BLOG - JUAL BLOG UNTUK KEPERLUAN DAFTAR ADSENSE - BELI BLOG BERKUALITAS - HUBUNGI KAMI SEGERA

Post a Comment

Support By Yahoo!
Support By Bing

Previous Post Next Post