---
Gempa Situbondo 2025: Antara Kehancuran, Kepedulian, dan Harapan Bangkit Kembali
---
1. Pendahuluan
Indonesia, negeri yang terletak di atas jalur cincin api Pasifik, tidak pernah lepas dari ancaman gempa bumi. Hampir setiap tahun, ada saja wilayah yang diguncang oleh aktivitas tektonik, baik skala kecil maupun besar. Salah satu daerah yang kembali merasakan getirnya bencana adalah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada akhir September 2025.
Pada dini hari, ketika sebagian besar masyarakat sedang terlelap, bumi bergetar cukup kuat. Getaran itu berlangsung hanya beberapa detik, tetapi cukup untuk mengubah wajah sejumlah desa. Rumah-rumah retak, beberapa roboh, dan ratusan warga harus mengungsi di bawah tenda darurat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa tersebut berkekuatan M 5,7 dengan pusat di laut utara Situbondo pada kedalaman 10 km. Guncangan terasa hingga ke Banyuwangi, Probolinggo, Bondowoso, dan Jember. Awalnya, laporan menyebut sekitar 50 rumah warga rusak, namun data lanjutan dari BPBD menunjukkan jumlah kerusakan meningkat menjadi sekitar 145 unit rumah dengan tingkat keparahan berbeda.
Bencana ini menjadi momentum penting untuk memahami kerentanan Situbondo sekaligus menguji ketangguhan masyarakat menghadapi musibah. Dalam tulisan panjang ini, kita akan menyusuri kronologi, dampak, respon pemerintah, analisis ilmiah, hingga kisah nyata warga yang menjadi saksi hidup peristiwa tersebut.
---
2. Kronologi Kejadian Gempa
2.1. Detik-Detik Guncangan
Gempa terjadi sekitar pukul 02.36 WIB. Malam itu sunyi, hanya suara serangga di pedesaan pesisir Banyuputih. Tiba-tiba, bumi bergetar. Warga terbangun oleh bunyi benda jatuh, kaca bergetar, dan dinding rumah berderit.
"Rasanya seperti ada truk besar menabrak rumah. Getarannya tidak lama, tapi sangat kuat," ungkap Suparno (48 tahun), warga Desa Sumberanyar.
Sebagian warga langsung berlari keluar rumah dengan kaki telanjang, meninggalkan barang-barang berharga. Anak-anak menangis, orang tua berteriak mengingatkan keluarga untuk segera keluar.
2.2. Persebaran Guncangan
Situbondo: Guncangan sangat terasa, terutama di Kecamatan Banyuputih dan Asembagus.
Banyuwangi: Warga sempat panik, namun tidak ada kerusakan signifikan.
Probolinggo dan Jember: Getaran terasa seperti kursi digoyang.
2.3. Kondisi Pasca-Gempa
BMKG cepat merilis peringatan: gempa tidak berpotensi tsunami. Namun, warga tetap berjaga di luar rumah sepanjang malam karena khawatir akan ada gempa susulan.
---
3. Dampak Fisik di Lapangan
3.1. Kerusakan Rumah
Awalnya dilaporkan 50 rumah rusak, namun setelah pendataan lebih lanjut jumlahnya meningkat menjadi 145 rumah:
87 unit rusak ringan (retak dinding, genteng berjatuhan).
43 unit rusak sedang (sebagian tembok roboh, atap jebol).
15 unit rusak berat (bangunan hampir ambruk total).
Sebaran kerusakan terbesar berada di Desa Sumberwaru (25 rumah) dan Sumberanyar (15 rumah).
3.2. Fasilitas Umum
Beberapa sekolah dasar mengalami keretakan pada dinding kelas.
Sebuah masjid di Wonorejo rusak pada bagian kubah.
Pos jaga Taman Nasional Baluran mengalami kerusakan pada atap dan tembok.
3.3. Infrastruktur
Jalan desa retak di beberapa titik, meski masih bisa dilalui.
Listrik padam selama 2–3 jam di Banyuputih.
Jaringan telekomunikasi terganggu karena lonjakan penggunaan.
---
4. Dampak Sosial
4.1. Pengungsian
BPBD mendirikan tenda darurat di lapangan desa. Sekitar 250 orang mengungsi malam pertama, jumlahnya meningkat menjadi 500 orang karena trauma dan takut pulang.
4.2. Trauma Warga
Banyak anak-anak tidak berani masuk ke rumah meski hanya retak ringan. Beberapa orang tua mengalami stres karena kehilangan rumah dan mata pencaharian.
4.3. Aktivitas Ekonomi Terganggu
Pasar desa sempat tutup dua hari.
Nelayan menunda melaut karena takut ada gempa susulan.
Petani tidak ke sawah karena sibuk memperbaiki rumah.
4.4. Solidaritas
Gotong royong menjadi pemandangan sehari-hari. Warga bersama-sama membersihkan puing dan memperbaiki rumah dengan peralatan seadanya.
---
5. Respon Pemerintah dan Lembaga
5.1. BPBD Situbondo
Melakukan pendataan cepat.
Menyalurkan logistik: beras, mie instan, air mineral, tikar, selimut.
5.2. BNPB
Memberikan Dana Siap Pakai (DSP) untuk tanggap darurat.
Mengirim tim ahli untuk menilai kebutuhan rehabilitasi.
5.3. Pemerintah Daerah
Bupati Situbondo meninjau lokasi terdampak.
Menyalurkan bantuan keuangan sementara.
5.4. TNI/Polri
Membantu evakuasi korban.
Menjaga rumah kosong agar tidak dijarah.
5.5. Relawan
Komunitas mahasiswa Situbondo mendirikan dapur umum.
LSM menyediakan layanan trauma healing.
---
6. Analisis Geologi
Gempa Situbondo terjadi karena aktivitas tektonik di Sesar Naik Flores yang membentang dari Bali hingga Jawa Timur.
6.1. Karakteristik Gempa
Magnitudo: 5,7 (menurut BMKG).
Kedalaman: 10 km (gempa dangkal).
Pusat gempa: Laut utara Situbondo.
6.2. Sejarah Gempa di Situbondo
1994: Gempa M 7,8 memicu tsunami, menewaskan 223 orang.
2007: Gempa M 6,0 mengguncang Situbondo, merusak puluhan rumah.
2018: Gempa M 6,0 terasa di Situbondo, meski kerusakan terbatas.
6.3. Potensi Tsunami
Meski kali ini tidak ada tsunami, Situbondo termasuk rawan karena dekat dengan laut. Jalur evakuasi harus disiapkan lebih matang.
---
7. Dampak Ekonomi
7.1. Kerugian Material
Diperkirakan kerugian mencapai miliaran rupiah:
Rumah rusak berat: rata-rata kerugian Rp 50–100 juta per unit.
Fasilitas umum: sekolah, masjid, dan pos Baluran.
7.2. Kehilangan Mata Pencaharian
Nelayan kehilangan 3–5 hari penghasilan.
Petani terhambat menggarap sawah.
Pedagang kecil kehilangan omzet karena pasar tutup.
7.3. Dampak Jangka Panjang
Rehabilitasi rumah akan memakan waktu berbulan-bulan.
Risiko kemiskinan meningkat karena biaya perbaikan tidak sedikit.
---
8. Perspektif Lingkungan
Taman Nasional Baluran sebagai kawasan konservasi ikut terdampak. Retakan tanah terlihat di jalur wisata. Risiko longsor di area perbukitan meningkat, terutama di musim hujan.
---
9. Kesiapsiagaan Bencana
9.1. Peran BMKG
Memberikan informasi cepat dan edukasi mitigasi ke masyarakat.
9.2. Edukasi Masyarakat
Sekolah-sekolah mulai merancang simulasi evakuasi gempa.
9.3. Teknologi
Pemerintah merencanakan pemasangan sensor gempa tambahan di pesisir Situbondo.
---
10. Kisah Nyata Warga
Pak Hasyim (60 tahun): rumahnya roboh total, kini tinggal di tenda bersama istri dan cucu.
Bu Aminah (35 tahun): kehilangan kios pasar kecilnya akibat retakan dinding.
Mahasiswa relawan: mengajar anak-anak di tenda pengungsian agar tidak trauma.
Petani muda: bekerja bakti bersama warga memperbaiki rumah tetangga lebih dulu sebelum rumahnya sendiri.
---
11. Refleksi dan Pelajaran
Gempa ini memberikan pelajaran penting:
Bangunan tahan gempa sangat dibutuhkan.
Desa harus punya dana darurat.
Pendidikan kebencanaan harus masuk kurikulum sekolah.
---
12. Kesimpulan
Gempa Situbondo 2025 adalah peringatan nyata bahwa bencana bisa datang kapan saja. Meski menimbulkan kerugian besar, semangat gotong royong dan respon cepat pemerintah menjadi modal penting dalam pemulihan.
Situbondo telah melalui masa sulit ini dengan keteguhan hati. Harapan ke depan, setiap rumah, sekolah, dan fasilitas umum dapat dibangun lebih kuat dan lebih siap menghadapi bencana.
---
📌