Nonton Lomba: Merayakan Semangat Kebersamaan di Tengah Masyarakat




---

Nonton Lomba: Merayakan Semangat Kebersamaan di Tengah Masyarakat

Bulan Agustus selalu punya cerita spesial bagi masyarakat Indonesia. Di tengah semangat kemerdekaan yang bergema di setiap sudut kampung, ada satu hal yang tak pernah absen dan selalu dinanti-nanti: lomba 17-an. Tapi, di balik keseruan para peserta yang berlomba, ada keseruan lain yang tak kalah penting—nonton lomba.

Bagi sebagian orang, menjadi penonton lomba mungkin terdengar sepele. Namun bagi saya, nonton lomba adalah bagian dari perayaan itu sendiri. Ada tawa, sorak-sorai, bahkan kadang-kadang tangis bahagia yang tak bisa tergantikan. Di sinilah saya merasa, bahwa kemerdekaan bukan hanya soal sejarah dan perjuangan, tapi juga tentang kebersamaan yang terus hidup di tengah masyarakat.

Pagi yang Ramai, Semangat yang Tak Pernah Padam

Pagi itu, suara pengeras suara dari balai RT sudah terdengar sejak pukul 7. Anak-anak sudah berkumpul dengan baju seragam merah putih, membawa bendera kecil, dan tak sabar untuk ikut lomba. Sementara itu, saya bersama beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak sudah menyiapkan kursi plastik dan camilan untuk menikmati pertunjukan akbar ini: lomba 17-an di kampung.

Lomba pertama adalah lomba makan kerupuk. Walaupun tiap tahun diadakan, tetap saja penonton tidak pernah bosan. Sorakan dan tawa pecah ketika seorang anak kecil malah menggigit udara karena kerupuknya goyang ditiup angin. "Ayo, Dek! Sedikit lagi!" teriak ibu-ibu sambil tertawa geli.

Menyaksikan lomba seperti ini terasa seperti menyaksikan pertandingan besar. Bedanya, tak ada hadiah jutaan rupiah, tak ada kamera televisi, tapi ada satu hal yang lebih mahal: rasa kebersamaan.

Penonton: Bagian Penting dari Keseruan

Bagi yang belum pernah ikut nonton lomba di kampung, mungkin akan bertanya-tanya, "Apa serunya cuma nonton?" Jawabannya: seru banget! Sebab penonton bukan hanya penonton—mereka adalah penyemangat, komentator, bahkan pengarah strategi dadakan.

Ketika lomba balap karung dimulai, seorang bapak berteriak, "Pegang karungnya di pinggang! Jangan dilepas!" Sementara ibu-ibu yang duduk di sebelah saya sibuk memvideokan anaknya sambil terus berteriak, "Cepat, Nak, cepat!" meskipun sang anak sudah jatuh dua kali karena tertawa sendiri.

Di sini saya sadar, bahwa nonton lomba adalah bagian dari budaya sosial. Kita tertawa bersama, kecewa bersama, dan bersorak bersama. Tak peduli siapa yang menang, yang penting adalah bagaimana kita menikmati momen itu bersama-sama.

Lomba yang Tak Biasa, Penonton yang Luar Biasa

Tahun ini ada lomba baru: tarik tambang bapak-bapak pakai sarung. Bayangkan saja, para bapak berbadan besar saling tarik-menarik sambil tertawa-tawa, dan sarung mereka berkibar-kibar seperti bendera perang. Penonton pun histeris. Bahkan ada yang berdiri dari kursinya karena saking semangatnya memberikan dukungan.

Sementara itu, ibu-ibu tidak mau kalah. Ada lomba joget balon, dan saya menyaksikan dua ibu paruh baya yang begitu semangat bergoyang sampai balonnya pecah sebelum musik berhenti. Penonton tertawa sampai air mata keluar. "Itu bukan joget, Bu, itu gempa bumi!" canda salah satu penonton lainnya.

Yang membuat semua ini luar biasa adalah reaksi penonton. Mereka tak sekadar duduk dan melihat, tapi terlibat secara emosional. Ada rasa bangga, senang, bahkan haru ketika melihat anak-anak dan tetangga mereka tampil dengan semangat dan tawa.

Lebih dari Sekadar Hiburan

Nonton lomba bukan hanya tentang hiburan. Bagi saya, itu adalah momen untuk merekatkan hubungan antarwarga. Di dunia yang makin sibuk, di mana orang lebih banyak menunduk menatap layar ponsel, momen seperti ini menjadi sangat berharga. Kita bisa saling menyapa, berbincang ringan, dan tertawa tanpa harus online.

Bahkan, saya yang biasanya jarang ngobrol dengan tetangga di ujung gang, jadi bisa duduk bareng, berbagi gorengan, dan bersorak bersama saat anak-anak mereka berlomba. Inilah momen ketika tidak ada jarak, tidak ada perbedaan, hanya satu: semangat merdeka.

Mengabadikan Kenangan

Tentu saja, momen nonton lomba tak lengkap tanpa dokumentasi. Hampir semua orang kini membawa ponsel, merekam setiap kejadian lucu dan mengunggahnya ke media sosial. Tapi lebih dari itu, foto dan video itu adalah kenangan—tentang waktu yang kita habiskan bersama, tentang tawa yang kita bagi, dan tentang hangatnya kebersamaan yang sederhana.

Saya sendiri merekam beberapa momen lucu, lalu memutar ulang di rumah bersama keluarga. Dan kami tertawa lagi, seolah-olah kami sedang nonton acara TV favorit.

Penutup: Lanjutkan Tradisi, Hidupkan Kebersamaan

Nonton lomba mungkin terlihat sederhana. Tapi bagi saya, itu adalah wujud nyata cinta terhadap bangsa dan sesama. Di tengah berbagai tantangan hidup, kita tetap bisa bahagia, tertawa, dan saling mendukung.

Semoga tradisi ini terus ada, terus hidup, dan makin ramai tiap tahunnya. Karena di balik semua lomba dan teriakan, ada nilai luhur yang tak ternilai: rasa saling memiliki dan cinta pada tanah air.

Merdeka!


---
PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI - JUAL BELI BLOG - JUAL BLOG UNTUK KEPERLUAN DAFTAR ADSENSE - BELI BLOG BERKUALITAS - HUBUNGI KAMI SEGERA

Post a Comment

Support By Yahoo!
Support By Bing

Previous Post Next Post