Suasana Malam 30 Juli 2025 – Sebuah Cerita Fiksi


---

Suasana Malam 30 Juli 2025 – Sebuah Cerita Fiksi

Malam itu, 30 Juli 2025, udara Surabaya terasa lebih sunyi dari biasanya. Jam di dinding rumah menunjukkan pukul 21.02 WIB. Sinar lampu hias berwarna-warni menggantung manis di atap teras rumah tua bercat hijau muda. Pagar besi berwarna kuning yang sudah mulai berkarat di beberapa bagian tetap berdiri tegar, menjadi gerbang dari begitu banyak kenangan yang disimpan rumah itu.

Arga berdiri di depan pagar. Ia baru saja pulang dari kantor, terlambat karena rapat yang mendadak molor. Biasanya ia tidak terlalu suka pulang malam. Tapi entah mengapa, malam ini ia merasa ingin berdiri lebih lama, memandangi rumah yang sudah 12 tahun ia tinggali bersama ibunya.

Ibunya, Bu Marni, sudah tertidur di dalam. Beliau kini semakin tua, dan kesehatannya mulai menurun. Arga tak ingin membangunkan ibunya hanya untuk berkata, "Bu, aku sudah pulang." Ia memilih menikmati malam sebentar di luar.

Lampu-lampu kecil yang ia pasang dua minggu lalu untuk memperingati ulang tahun almarhum ayahnya masih menyala. Malam ini terasa hangat. Tidak karena cuaca, tapi karena kenangan yang perlahan datang satu per satu.

Arga memotret dirinya sendiri, dengan latar belakang rumah dan lampu hias yang redup. Ia ingin menyimpan momen ini. Sebuah malam tanpa kejadian besar, tapi memiliki rasa yang sulit dijelaskan.


---

Kenangan yang Mengalir

Dua belas tahun lalu, rumah itu tidak seperti sekarang. Ketika ayahnya meninggal, rumah itu nyaris roboh. Atap bocor di mana-mana, tembok lembab, dan pagar hanya diganjal kayu. Waktu itu Arga masih duduk di semester pertama kuliah. Semua terasa kacau.

Namun perlahan-lahan, rumah itu diperbaiki. Satu bagian demi satu bagian. Arga mengumpulkan sedikit demi sedikit uang dari kerja paruh waktu. Ibunya juga menjahit di rumah untuk menambah penghasilan. Setiap kali mereka menyisihkan uang untuk membeli satu galon cat, atau selembar eternit, itu adalah hari kemenangan kecil.

Kini, rumah itu tidak sempurna, tapi nyaman. Bukan karena barang-barang mahal di dalamnya, melainkan karena peluh dan perjuangan yang menjadi pondasi utamanya.

Arga tersenyum kecil. Ia menengadahkan wajahnya ke langit. Bintang-bintang tampak samar, kalah terang oleh lampu jalan. Tapi ada satu yang cukup jelas di atas pagar rumah—cahaya kecil yang tidak berkedip. Ia tidak tahu apakah itu bintang, satelit, atau hanya pantulan cahaya. Tapi rasanya seperti tanda: bahwa malam ini tidak datang dengan sia-sia.


---

Sebuah Suara dari Masa Lalu

Tiba-tiba, suara pelan terdengar dari dalam rumah. Arga membuka pintu pagar perlahan dan masuk ke halaman. Ia menyusuri jalan setapak kecil yang dibuat dari ubin sisa proyek renovasi dulu. Di dekat pintu depan, ibunya berdiri dengan selimut di bahu.

"Kamu belum tidur, Ga?" tanya Bu Marni.

Arga mengangguk pelan. "Belum, Bu. Cuma pengen lihat rumah dari luar. Rasanya beda malam ini."

Bu Marni tertawa kecil. "Dulu ayahmu juga suka begitu. Diam di depan pagar, ngeliatin langit. Katanya, malam itu tempat yang paling jujur buat ngobrol sama diri sendiri."

Arga terdiam. Ia tidak tahu ayahnya punya kebiasaan itu.

"Kamu capek ya?" tanya ibunya lagi.

"Capek sih iya, tapi tenang, Bu. Malam ini tenang."

Bu Marni menepuk bahu anaknya pelan. "Syukuri itu. Karena tidak semua orang bisa menikmati malam tanpa terganggu pikiran."


---

Mimpi yang Ditunda

Mereka duduk berdua di teras. Arga membuka percakapan tentang hal yang selama ini ia simpan.

"Bu, aku pengen mulai usaha sendiri," katanya pelan.

Ibunya menoleh. "Kamu sudah yakin?"

Arga mengangguk. "Sudah waktunya. Aku capek kerja buat orang lain terus. Aku mau bangun sesuatu dari bawah, walaupun kecil."

Bu Marni tidak langsung menjawab. Ia melihat wajah anaknya, yang meskipun sudah dewasa, masih menyimpan semangat yang sama seperti saat kecil—saat Arga menjual kue di depan rumah, atau saat ia pertama kali membuat rak sepatu dari kayu bekas.

"Kalau kamu yakin, Ibu pasti dukung," jawabnya akhirnya. "Tapi jangan tinggalkan rumah ini ya. Ini rumah kamu juga."

Arga tersenyum. "Enggak, Bu. Rumah ini... tempat pulang."


---

Malam yang Tak Terlupakan

Waktu terus berjalan. Angin malam mulai lebih dingin. Tapi Arga tidak merasa ingin masuk. Ia mengambil foto lagi—kali ini berdua dengan ibunya. Ia tahu, tidak semua malam bisa diulang. Dan tidak semua malam bisa seistimewa ini, meski tidak ada pesta atau acara besar.

Di dunia yang bergerak cepat, malam 30 Juli 2025 adalah jeda. Sebuah titik koma dalam hidup Arga yang membantunya mengingat siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan melangkah.

Saat ia akhirnya mematikan lampu-lampu hias dan menutup pintu rumah, ia tahu: hari esok akan datang dengan tantangan baru. Tapi malam ini sudah cukup menjadi penguat.

Sebelum tidur, ia membuka galeri ponsel dan melihat foto yang baru ia ambil. Wajahnya terlihat lelah, tapi ada sesuatu yang lain di sana—ketenangan.


---

Penutup:

Kita tidak pernah tahu malam mana yang akan menjadi kenangan berharga. Mungkin malam itu hanya sunyi, biasa saja. Tapi ketika hati sedang tenang dan pikiran tidak dikejar-kejar waktu, malam itu bisa menjadi cermin. Cermin untuk melihat kembali diri sendiri, dan menyadari bahwa hidup, sesederhana apa pun, tetap layak disyukuri.

30 Juli 2025. Malam sederhana. Tapi tak terlupakan.


---

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI

PT SURABAYA SOLUSI INTEGRASI - JUAL BELI BLOG - JUAL BLOG UNTUK KEPERLUAN DAFTAR ADSENSE - BELI BLOG BERKUALITAS - HUBUNGI KAMI SEGERA

Post a Comment

Support By Yahoo!
Support By Bing

Previous Post Next Post